Neurologi
Epilepsi adalah gangguan neurologis kronis yang ditandai dengan kecenderungan untuk mengalami kejang berulang.
Kejang terjadi akibat aktivitas listrik yang abnormal dan berlebihan di otak.
Gejala kejang bervariasi, mulai dari gerakan tubuh yang tidak terkendali, kehilangan kesadaran, hingga sensasi abnormal seperti melihat kilatan cahaya atau merasa cemas.
Epilepsi dapat disebabkan oleh faktor genetik, cedera kepala, infeksi otak, stroke, atau gangguan perkembangan otak, namun pada banyak kasus penyebabnya tidak diketahui.
Pengobatan utama epilepsi adalah dengan obat antiepilepsi (OAE) yang bertujuan mengontrol kejang.
Bahan-bahan herbal berikut memiliki potensi sebagai terapi komplementer untuk membantu mengurangi frekuensi kejang, meningkatkan kontrol kejang, atau mengurangi efek samping OAE berdasarkan mekanisme antikonvulsan dan neuroprotektif.
Ekstrak jahe dosis 400 dan 600 mg/kgBB secara signifikan menunda onset kejang dan mengurangi durasi kejang pada tikus yang diinduksi PTZ. Efek antikonvulsan diduga terkait dengan aktivitas GABAergik.
Kurkumin secara signifikan menurunkan frekuensi kejang dan kadar sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6) pada model epilepsi. Efek ini lebih nyata pada dosis tinggi dan durasi pemberian lebih dari 8 minggu.
Ekstrak akar Ashwagandha dosis 100-200 mg/kg menunjukkan efek protektif signifikan terhadap kejang tonik-klonik pada model MES dan PTZ. Mekanisme diduga terkait modulasi reseptor GABA-A dan aktivitas antioksidan.
Advertisement
Pemberian ekstrak etanol Centella asiatica dosis 200 dan 400 mg/kg secara signifikan menunda onset kejang dan menurunkan durasi kejang tonik-klonik. Efek ini diduga melalui mekanisme peningkatan aktivitas GABA di otak.
Pemberian ekstrak etanol sambiloto dosis 200 mg/kg BB mampu menunda onset kejang dan memperpendek durasi kejang pada model epilepsi umum. Efek ini diduga melalui peningkatan kadar GABA di otak.
Pemberian ekstrak Ginkgo biloba 120 mg/hari selama 12 minggu tidak menunjukkan penurunan signifikan frekuensi kejang dibandingkan plasebo. Namun, terdapat peningkatan signifikan pada skor fungsi kognitif (MoCA) pada kelompok Ginkgo.
Ekstrak chamomile dosis 200 mg/kg menunda onset kejang dan mengurangi durasi kejang secara signifikan. Dosis 400 mg/kg memberikan efek protektif yang setara dengan diazepam.
Pemberian minyak atsiri lavender dosis 100 dan 200 mg/kg secara signifikan menunda onset kejang dan memperpendek durasi kejang. Efek antikonvulsan diduga melalui modulasi reseptor GABA-A.
Ekstrak kayu manis dosis 200 mg/kg secara signifikan menunda onset kejang dan mengurangi durasi kejang pada model kejang umum. Efek ini sebanding dengan fenitoin dosis standar.
Pemberian ekstrak bawang putih dosis 200 mg/kg secara signifikan menunda onset kejang dan memperpendek durasi kejang pada model kejang tonik-klonik. Efek ini diduga melalui modulasi reseptor GABA dan penurunan stres oksidatif.