Advertisement
Matricaria chamomilla, yang lebih dikenal sebagai chamomile Jerman, adalah tumbuhan herba tahunan dari famili Asteraceae. Tanaman ini memiliki batang tegak bercabang dengan tinggi sekitar 20–50 cm, daun menyirip berganda yang halus seperti benang, dan bunga majemuk berbentuk bonggol dengan kelopak putih di tepi serta cakram kuning di tengah. Bunga ini mengeluarkan aroma manis yang khas, terutama saat dikeringkan. Tumbuhan asli Eropa dan Asia Barat ini kini telah tersebar luas di berbagai daerah beriklim sedang, sering ditemukan tumbuh liar di ladang, pinggir jalan, atau dibudidayakan sebagai tanaman obat.
Advertisement
Kandungan kimia utama dalam Matricaria chamomilla meliputi minyak atsiri yang kaya akan chamazulene, bisabolol, dan flavonoid seperti apigenin. Chamazulene memberikan warna biru pada minyak esensial dan bersifat antiinflamasi kuat, sementara bisabolol bekerja sebagai antimikroba dan penenang. Apigenin berperan sebagai antioksidan dan berikatan dengan reseptor GABA di otak, menghasilkan efek relaksasi dan mengurangi kecemasan. Selain itu, chamomile juga mengandung kumarin, mucilage, dan asam fenolik yang mendukung khasiatnya sebagai antispasmodik, mempercepat penyembuhan luka, serta meredakan gangguan pencernaan dan insomnia.
Dalam penggunaannya, Matricaria chamomilla paling populer diseduh sebagai teh herbal. Bunga kering direbus atau direndam dalam air panas selama sekitar 5–10 menit. Ekstraknya juga banyak ditemukan dalam krim, salep, dan produk perawatan kulit untuk mengatasi iritasi, eksim, atau luka ringan. Budidayanya relatif mudah karena dapat tumbuh di tanah yang dikeringkan dengan baik dan sinar matahari penuh. Panen dilakukan saat bunga mekar penuh, kemudian dikeringkan di tempat teduh agar kualitas minyak atsiri tetap terjaga. Karena sifatnya yang multitarget, chamomile telah digunakan sejak abad pertengahan dan tetap menjadi salah satu tanaman obat paling populer di dunia.
Manfaat Chamomile untuk kesehatan.
Penghambatan aktivitas cyclooxygenase-2 (COX-2) dan lipoxygenase (LOX) oleh chamazulene dan apigenin, serta penurunan ekspresi mediator pro-inflamasi seperti TNF-α, IL-1β, dan NF-κB. Senyawa flavonoid juga menghambat jalur MAPK dan prostaglandin E2.
Kerusakan membran sel mikroba oleh minyak atsiri (terutama chamazulene dan farnesene) yang meningkatkan permeabilitas lipid bilayer, penghambatan sintesis ergosterol pada jamur, serta gangguan quorum sensing bakteri. Sinergisme dengan antibiotik konvensional juga dilaporkan.
Peningkatan produksi mukus lambung dan penghambatan sekresi asam melalui efek antioksidan apigenin dan α-bisabolol; aktivasi prostaglandin E2 dan penurunan histamin. Efek anti-Helicobacter pylori juga telah diamati.
Apigenin berikatan dengan reseptor GABA-A benzodiazepine site menghasilkan efek ansiolitik tanpa sedasi berat, melalui modulasi klorida. Juga mempengaruhi sistem serotonergik dan penurunan kortisol.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Chamomile.