Aktivitas antibakteri adalah kemampuan suatu senyawa atau ekstrak herbal untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri patogen. Dengan meningkatnya resistensi antibiotik, pencarian antibiotik alami dari herbal menjadi semakin penting. Berbagai tumbuhan Indonesia telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri yang kuat, termasuk temulawak (xanthorrhizol), bawang putih (allicin), dan serai (citral). Senyawa-senyawa ini bekerja dengan berbagai mekanisme, termasuk merusak integritas membran sel bakteri, menghambat sintesis protein, atau mengganggu metabolisme sel.
Aktivitas antibakteri herbal biasanya diuji menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) atau dilusi untuk menentukan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Herbal dengan aktivitas antibakteri spektrum luas sangat berharga untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh berbagai bakteri, baik Gram positif maupun Gram negatif. Keunggulan antibakteri alami dibandingkan antibiotik sintetik adalah risiko resistensi yang lebih rendah karena herbal mengandung banyak senyawa aktif yang bekerja secara sinergis melalui berbagai target (multitarget). Indonesia dengan keanekaragaman hayatinya yang kaya memiliki potensi besar untuk menemukan senyawa antibakteri baru yang dapat menjadi solusi untuk masalah resistensi antibiotik global.
Advertisement
Merusak membran sel bakteri melalui peningkatan permeabilitas dan kebocoran ion K+; menghambat glikosiltransferase ekstra-seluler (Gtf) sehingga menekan pembentukan biofilm. Senyawa iridoid dan flavonoid berperan.
Senyawa: loganin, Asam Klorogenat, Luteolin
Tingkat Bukti: Sedang
Senyawa seperti azadirachtin dan nimbin mengganggu sintesis dinding sel dan membran mikroba, menghambat enzim glikosidase dan polimerase, serta menginduksi stres oksidatif. Pada jamur, menghambat ergosterol dan kitin sintase.
Senyawa: Azadirachtin, Nimbin, Gedunin
Tingkat Bukti: Sangat Kuat
Merusak membran sel bakteri dengan meningkatkan permeabilitas dan menghambat sintesis dinding sel melalui inhibisi enzim transpeptidase. Senyawa tryptanthrin juga mengikat DNA girase bakteri.
Senyawa: tryptanthrin, indirubin, isatin
Tingkat Bukti: Terbatas
Baicalein dan baicalin menghambat replikasi virus dengan mengikat protein permukaan virus (misal: spike SARS-CoV-2), menghambat neuraminidase influenza, serta mengganggu pompa efluks bakteri dan pembentukan biofilm.
Senyawa: Baicalein, Baicalin, Wogonin
Tingkat Bukti: Sedang
Merusak integritas membran sel mikroba, menghambat sintesis dinding sel, dan menginterkalasi DNA. Senyawa fenolik dan tanin berperan sebagai agen penggumpalan protein bakteri.
Senyawa: Artocarpin, Tanin, Flavonoid Total
Tingkat Bukti: Terbatas
Gangguan integritas membran sel bakteri melalui interaksi dengan fosfolipid, penghambatan enzim DNA girase dan topoisomerase IV oleh alkaloid berberin, serta efek sinergis dengan palmatin terhadap efluks pompa.
Senyawa: Berberin, Palmatin, Kolumbamin
Tingkat Bukti: Terbatas