Aktivitas antivirus adalah kemampuan senyawa bioaktif dari herbal untuk menghambat siklus hidup virus, baik dengan mencegah masuknya virus ke dalam sel inang, menghambat replikasi, atau memodulasi sistem imun untuk melawan infeksi. Dengan meningkatnya ancaman pandemi virus seperti COVID-19, pencarian agen antiviral alami semakin mendapat perhatian. Herbal Indonesia seperti sambiloto (andrographolide), kunyit (kurkumin), dan beberapa spesies Glycosmis (glycobismine F) telah menunjukkan potensi antivirus yang menjanjikan.
Mekanisme antivirus yang umum pada herbal termasuk penghambatan ikatan spike virus ke reseptor ACE2 (seperti pada glycobismine F terhadap SARS-CoV-2), penghambatan enzim protease virus, atau peningkatan produksi interferon dan sitokin antivirus lainnya. Aktivitas antivirus biasanya diuji dengan metode in vitro menggunakan kultur sel yang diinfeksi virus, serta in silico melalui molecular docking. Penelitian terus berkembang untuk mengidentifikasi senyawa herbal yang dapat menjadi kandidat obat untuk berbagai infeksi virus, termasuk influenza, HIV, dengue, dan COVID-19.
Advertisement
Menghambat neuraminidase virus dan replikasi RNA virus dengan mengikat hemaglutinin; meningkatkan ekspresi IFN-β melalui jalur RIG-I/MDA5. Asam klorogenat dan luteolin mengganggu fusi membran virus.
Senyawa: asam klorogenat, luteolin, loganin
Tingkat Bukti: Sedang
Menghambat replikasi virus dengan mengganggu sintesis protein virus melalui inhibisi neuraminidase dan RNA polimerase. Senyawa indirubin dan tryptanthrin memblokir masuknya virus ke sel inang dengan mengikat protein spike SARS-CoV-2.
Senyawa: indirubin, tryptanthrin, isatin
Tingkat Bukti: Sedang
Baicalein dan baicalin menghambat replikasi virus dengan mengikat protein permukaan virus (misal: spike SARS-CoV-2), menghambat neuraminidase influenza, serta mengganggu pompa efluks bakteri dan pembentukan biofilm.
Senyawa: Baicalein, Baicalin, Wogonin
Tingkat Bukti: Sedang
Menghambat adsorpsi dan penetrasi virus, memblokir aktivitas neuraminidase, dan menginduksi interferon. Forsythiaside A berikatan dengan hemaglutinin virus.
Senyawa: Forsythiaside A, Phillyrin, Oleanolic acid
Tingkat Bukti: Terbatas
Penghambatan adsorpsi dan penetrasi virus ke sel inang dengan mengikat glikoprotein permukaan (hemagglutinin, spike). Quercitrin dan hyperoside menghambat replikasi virus melalui inhibisi RNA polimerase dan modulasi jalur interferon.
Senyawa: Quercitrin, Hyperoside, Afzelin
Tingkat Bukti: Sedang
Efedrin dan pseudoefedrin menghambat aktivitas neuraminidase virus influenza, mengurangi pelepasan virion dari sel inang.
Senyawa: Efedrin, Pseudoefedrin, Norefedrin
Tingkat Bukti: Terbatas