• Herbapedia.id

Sambiloto

Andrographis paniculata
Nama: Sambiloto
Nama Ilmiah: Andrographis paniculata
Famili: Acanthaceae

Kandungan:
Andrografolid
Nama Lain:
King of Bitters (India), Chuan Xin Lian (China), Fah Talai Jone (Thailand), Hempedu Bumi (Malaysia), Kariyat (Philippines)
Asal:
India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Indonesia
Bagian Utama:
Daun, Batang
Rasa:
Pahit

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Sambiloto

Andrographis paniculata, yang dikenal luas sebagai sambiloto, adalah tumbuhan herbal tahunan dari famili Acanthaceae yang berasal dari wilayah Asia Selatan dan Tenggara. Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga setinggi 30–110 cm dengan batang tegak bersegi empat, daun berbentuk lanset dengan tepi rata, serta bunga kecil berwarna putih dengan bercak ungu. Sambiloto dikenal karena rasa pahit yang sangat kuat—sehingga dijuluki "king of bitters"—yang disebabkan oleh kandungan senyawa aktif utamanya, yaitu andrografolid. Senyawa diterpen lakton ini menjadi penanda biologis utama yang bertanggung jawab atas sebagian besar khasiat farmakologis tanaman. Selain andrografolid, sambiloto juga mengandung neoandrografolid, deoksiandrografolid, flavonoid seperti apigenin dan quercetin, serta berbagai polifenol yang bekerja secara sinergis.

Advertisement

Secara farmakologis, sambiloto telah dipelajari secara ekstensif karena aktivitas imunomodulator, antiinflamasi, antivirus, dan hepatoprotektifnya. Andrografolid mampu merangsang produksi sel limfosit dan antibodi, menjadikannya efektif dalam memperkuat daya tahan tubuh terhadap infeksi saluran pernapasan, influenza, dan demam. Penelitian modern juga menunjukkan bahwa sambiloto memiliki efek antipiretik (menurunkan demam) dan antioksidan yang kuat, serta mampu menghambat replikasi virus, termasuk virus dengue dan SARS-CoV-2 dalam studi in vitro. Di samping itu, ekstrak sambiloto sering digunakan untuk mendukung fungsi hati dengan merangsang regenerasi sel hati dan meningkatkan ekskresi empedu, sehingga bermanfaat pada kasus hepatitis ringan dan gangguan pencernaan akibat toksin.

Dalam pengobatan tradisional, sambiloto digunakan secara luas di Indonesia, India (Ayurveda), dan China untuk mengatasi demam, radang tenggorokan, diare, dan infeksi kulit. Biasanya dikonsumsi dalam bentuk rebusan daun kering, kapsul ekstrak, atau pati (sari tanaman). Namun, karena sifatnya yang sangat pahit dan efek stimulasi imun yang kuat, penggunaan sambiloto perlu diperhatikan. Efek samping yang mungkin terjadi meliputi gangguan pencernaan ringan, kelelahan, atau penurunan tekanan darah. Sambiloto dikontraindikasikan pada wanita hamil (dapat memicu kontraksi rahim) dan penderita gangguan autoimun tanpa pengawasan medis. Interaksi obat juga perlu diwaspadai, terutama dengan obat imunosupresan dan antikoagulan. Meskipun demikian, Andrographis paniculata tetap menjadi salah satu herbal andalan yang menjembatani pengobatan tradisional dan bukti ilmiah modern.

Update: 29 Jul 2026 - 05:40:17

 

II. Manfaat Sambiloto

Manfaat Sambiloto untuk kesehatan.

  1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) / Common Cold

    Andrographolide menghambat replikasi virus influenza dan rhinovirus melalui inhibisi neuraminidase dan modulasi jalur sinyal NF-κB, mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6) serta meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag.

    Senyawa Aktif: Andrografolid, neoandrographolide, deoxyandrographolide
    Tampilkan
  2. Diare Akut Infeksius

    Menghambat pertumbuhan bakteri patogen (E. coli, Shigella, Salmonella) melalui kerusakan membran sel dan inhibisi toksin, serta mengurangi sekresi cairan usus dengan memblokir reseptor kolera toksin dan menghambat peristaltik usus.

    Senyawa Aktif: Andrografolid, andrograpanin, sambiloto flavonoid
    Tampilkan
  3. Osteoartritis Lutut

    Menghambat aktivitas COX-2 dan 5-LOX, menekan produksi prostaglandin dan leukotrien, serta menghambat degradasi kartilago melalui inhibisi MMP-13 dan jalur NF-κB.

    Senyawa Aktif: Andrografolid, 14-deoxy-11,12-didehydroandrographolide, neoandrographolide
    Tampilkan
  4. Demam Tifoid (Demam Enterik)

    Aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi melalui penghambatan sintesis protein bakteri dan kerusakan membran sel, serta efek antipiretik dengan menghambat sintesis prostaglandin di hipotalamus.

    Senyawa Aktif: Andrografolid, andropanolide, deoxyandrographolide
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Manfaat

Advertisement

III. Kandungan Sambiloto

Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Sambiloto.

  1. Golongan: Diterpenoid Lakton
    Bagian Tanaman: Daun, batang, akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi, Imunostimulan, Hepatoprotektif, Antikanker (induksi Apoptosis), Antivirus (SARS-CoV-2, HIV, Influenza), Antidiabetes, Antihipertensi.
    Tampilkan
  2. Deoksiandrografolid

    Golongan: Diterpenoid Lakton
    Bagian Tanaman: Daun, batang
    Aktivitas Farmakologis:
    Antimikroba (gram Positif/negatif), Antimalaria (inhibisi Pertumbuhan Plasmodium Falciparum), Antiinflamasi, Analgesik.
    Tampilkan
  3. Neoandrografolid

    Golongan: Diterpenoid Lakton
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antipiretik, Imunomodulator (meningkatkan Fagositosis Makrofag), Antidiare (menghambat Sekresi Usus).
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Kandungan

IV. Interaksi & Kontraindikasi Sambiloto

Penggunaan bersamaan dengan obat antikoagulan (warfarin, heparin, aspirin dosis tinggi)

Tingkat Resiko: Tinggi
Rekomendasi:
Hindari penggunaan bersamaan karena sambiloto dapat meningkatkan risiko perdarahan. Jika tidak dapat dihindari, pantau INR secara ketat dan konsultasikan dengan dokter.

Penggunaan bersamaan dengan obat antihipertensi (ACE inhibitor, beta-blocker, diuretik, dll.)

Tingkat Resiko: Sedang
Rekomendasi:
Sambiloto memiliki efek hipotensif, dapat menyebabkan tekanan darah turun berlebihan. Pantau tekanan darah secara rutin dan sesuaikan dosis obat antihipertensi dengan panduan dokter.

Penggunaan bersamaan dengan obat antidiabetes (insulin atau obat hipoglikemik oral)

Tingkat Resiko: Sedang
Rekomendasi:
Sambiloto dapat menurunkan kadar gula darah. Risiko hipoglikemia meningkat. Monitor gula darah secara teratur dan konsultasikan penyesuaian dosis obat diabetes.
Tampilkan Semua Kontraindikasi

V. FAQ Sambiloto

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Sambiloto.

Apa saja senyawa aktif utama dalam sambiloto (Andrographis paniculata) dan bagaimana mekanisme kerjanya?
Senyawa aktif utama dalam sambiloto adalah andrografolid, diterpen lakton, dan flavonoid seperti apigenin dan luteolin. Andrografolid diketahui memiliki efek antiinflamasi, antiviral, dan imunomodulator dengan menghambat aktivasi NF-κB dan mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi (Journal of Ethnopharmacology, 2018; Phytomedicine, 2019).
Bagaimana cara konsumsi sambiloto yang aman untuk penggunaan sehari-hari?
Konsumsi harian sambiloto umumnya dalam bentuk kapsul atau ekstrak standar yang mengandung andrografolid 4–5%. Dosis lazim dewasa adalah 300–600 mg ekstrak per hari, dibagi dalam 2–3 kali minum, diminum setelah makan untuk mengurangi iritasi lambung. Rebusan daun segar (3–5 gram) dapat diminum 2 kali sehari, namun rasa pahitnya perlu diperhatikan (Planta Medica, 2017; World Journal of Gastroenterology, 2020).
Apakah sambiloto efektif untuk meningkatkan sistem imun dan mencegah infeksi?
Beberapa studi klinis menunjukkan sambiloto dapat mempercepat pemulihan dan mengurangi keparahan infeksi saluran pernapasan atas berkat efek imunostimulan dan antiviralnya. Andrografolid meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag dan produksi interferon gamma (Cochrane Database of Systematic Reviews, 2019; Journal of Herbal Medicine, 2021). Namun, bukti untuk pencegahan infeksi pada populasi sehat masih terbatas.
Apa efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi sambiloto?
Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah gangguan pencernaan seperti mual, diare, dan nyeri perut, terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Beberapa kasus menunjukkan reaksi alergi seperti ruam kulit. Penggunaan jangka panjang (lebih dari 3 bulan) belum diteliti dengan baik dan berpotensi mempengaruhi fungsi hati (Drug Metabolism and Disposition, 2020; Toxicology Reports, 2021).
Apakah sambiloto aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui?
Tidak aman. Sambiloto diketahui memiliki efek uterotonik (merangsang kontraksi rahim) dan dapat meningkatkan risiko keguguran. Studi pada hewan menunjukkan andrografolid dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin. Ibu menyusui juga sebaiknya menghindari karena keamanannya pada bayi belum diketahui (Reproductive Toxicology, 2016; Phytotherapy Research, 2018).
Apakah sambiloto aman untuk anak-anak dan bayi?
Keamanan sambiloto pada anak di bawah 6 tahun belum ditetapkan karena kurangnya data klinis. Pada anak yang lebih besar, ekstrak sambiloto pernah digunakan dalam uji klinis untuk infeksi saluran pernapasan dengan dosis disesuaikan berat badan, namun pengawasan dokter sangat dianjurkan. Bayi harus dihindari karena sistem enzimatiknya masih imatur (Pediatric Infectious Disease Journal, 2016; Journal of Alternative and Complementary Medicine, 2019).
Bagaimana interaksi sambiloto dengan obat-obatan konvensional?
Sambiloto dapat menghambat enzim CYP450 (terutama CYP3A4 dan CYP2C9), sehingga dapat meningkatkan kadar obat yang dimetabolisme oleh enzim tersebut, seperti warfarin, statin, dan beberapa antidiabetes. Selain itu, efek imunomodulatornya dapat berinteraksi dengan imunosupresan (misalnya siklosporin). Konsultasi dokter diperlukan jika mengonsumsi obat-obatan tersebut (Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2017; British Journal of Clinical Pharmacology, 2020).
Berapa dosis harian yang dianjurkan untuk dewasa?
Dosis yang umum digunakan dalam penelitian klinis adalah 3–6 gram simplisia kering per hari (setara dengan 300–600 mg ekstrak standar yang mengandung 4–5% andrografolid). Dosis tersebut biasanya dibagi 2–3 kali konsumsi. Pastikan menggunakan produk yang terstandardisasi untuk menghindari variasi kandungan. Dosis lebih tinggi (di atas 10 gram/hari) meningkatkan risiko efek samping gastrointestinal (Clinical Therapeutics, 2018; International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 2019).

Meniran

Phyllanthus niruri

Gotu Kola / Pegagan

Centella asiatica