Advertisement
Kuersetin (3,3',4',5,7-pentahidroksiflavon) adalah flavonol yang termasuk dalam subkelas flavonoid, dengan rumus molekul C₁₅H₁₀O₇ dan berat molekul 302,23 g/mol. Senyawa ini banyak ditemukan dalam berbagai buah dan sayuran seperti tomat, selada, bawang bombay, apel, serta anggur, dan merupakan bioflavonoid paling aktif serta paling banyak dikonsumsi dalam diet manusia.
Secara fisikokimia, kuersetin berupa serbuk kristal berwarna kuning dengan titik leleh 316°C, memiliki kelarutan yang sangat buruk dalam air (hanya sekitar 0,01-0,06 mg/mL pada 25°C), namun larut dalam pelarut organik seperti metanol, etanol, aseton, dan DMSO. Senyawa ini bersifat hidrofobik, tidak stabil terhadap suhu dan cahaya, serta mudah terdegradasi pada media basa, yang menjadi tantangan utama dalam aplikasi terapeutiknya.
Kuersetin menunjukkan spektrum aktivitas farmakologis yang luas sebagai agen antioksidan, anti-inflamasi, anti-apoptosis, dan modulator metabolik melalui berbagai jalur sinyal seluler. Efek antioksidannya berasal dari gugus fenolik yang bereaksi dengan radikal bebas membentuk radikal fenoksi yang lebih stabil, sementara aktivitas anti-inflamasinya dimediasi melalui penghambatan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin dan penekanan jalur NF-κB. Dalam konteks onkologi, kuersetin terbukti memodulasi jalur sinyal MerTK yang berperan dalam efersitosis dan supresi imun, serta menekan ekspresi PD-L1, menghambat pemeliharaan sel punca kanker, dan menginduksi apoptosis, sehingga berpotensi meningkatkan kemosensitivitas terhadap berbagai agen kemoterapi.
Selain itu, kuersetin menunjukkan efek neuroprotektif pada penyakit Parkinson melalui peningkatan kadar dopamin striatal, modulasi jalur PI3K/AKT, Nrf2, MAPK, dan NF-κB, serta perlindungan mitokondria dan penghambatan agregasi α-sinuklein. Pada kesehatan tulang, kuersetin bersama rutin terbukti meningkatkan aktivitas alkaline phosphatase (ALP) dan mengaktifkan osteoprotegerin (OPG) sekaligus menghambat ekspresi RANKL, sehingga mendukung pembentukan tulang dan menekan resorpsi tulang.
Dalam sistem pengobatan tradisional, kuersetin merupakan komponen bioaktif penting dalam berbagai tanaman yang digunakan secara empiris. Dalam Ayurveda, kuersetin telah diidentifikasi dalam tanaman seperti Azadirachta indica (neem) bersama dengan rutin, isokuersetin, dan kuersetin, yang digunakan dalam berbagai formulasi untuk efek antioksidan dan antigenotoksik. Tanaman Cissus quadrangularis yang digunakan dalam pengobatan tradisional India dan Thailand untuk penyembuhan fraktur tulang mengandung kuersetin dan rutin sebagai komponen aktif yang bertanggung jawab terhadap aktivitas osteogeniknya.
Dalam Pengobatan Tradisional Tionghoa (TCM), berbagai tanaman yang mengandung kuersetin telah digunakan secara historis sebagai bagian dari formulasi untuk meningkatkan imunitas dan melawan infeksi virus. Bioavailabilitas oral kuersetin pada manusia sangat rendah, hanya sekitar 1%, akibat kelarutan air yang buruk dan degradasi di saluran cerna, dengan bentuk glukuronida dan sulfat sebagai metabolit dominan dalam plasma. Berbagai strategi formulasi canggih telah dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan ini, termasuk sistem oleogel yang mampu mengubah kuersetin menjadi dispersi padat amorf untuk meningkatkan stabilitas dan bioaksesibilitasnya , Pickering emulsions berbasis zein/pektin yang berhasil mencapai bioavailabilitas hingga 69,87% pada formulasi dengan long-chain triglycerides (LCT) , serta excipient nanoemulsions yang terbukti meningkatkan bioavailabilitas in vivo sebesar 46,6% dan aktivitas antioksidan 1,47 kali lipat pada studi hewan.
Dari sisi keamanan, kuersetin memiliki potensi interaksi obat yang perlu diwaspadai: penelitian menunjukkan kuersetin menghambat aktivitas enzim CYP450 terutama CYP2D6 (efek kuat), CYP2C19 dan CYP3A4 (efek sedang), sehingga berpotensi meningkatkan risiko efek samping obat-obatan yang dimetabolisme oleh enzim tersebut, seperti losartan dan tamoxifen.
---
- Smolecule. (2023). Quercetin Product Information. CAS: 117-39-5.
- Wiley Online Library. (2025). Quercetin as a Multi-Target Natural Therapeutic in Aging-Related Diseases: Systemic Molecular and Cellular Mechanisms. Phytotherapy Research, 39(10), 4821-4869.
- BVS. (2021). Depletion of β-sitosterol and enrichment of quercetin and rutin in Cissus quadrangularis Linn fraction enhanced osteogenic but reduced osteoclastogenic marker expression. BMC Complementary Medicine and Therapies.
- Zhang, S., et al. (2025). Stable oleogel system for improved delivery of poorly soluble quercetin. Journal of Food Engineering. ScienceDirect.
- Elbarbry, F., Ung, A., & Abdelkawy, K. (2018). Studying the Inhibitory Effect of Quercetin and Thymoquinone on Human Cytochrome P450 Enzyme Activities. OpenLB.
- Dadun, University of Navarra. Quercetin: Physicochemical and Pharmacokinetic Properties.
- Jafari, S., & Ghasemi, S. (2025). Enhancing Chemosensitivity With Quercetin: Mechanistic Insights Into MerTK and Associated Signaling Pathways. Cancer Reports, Wiley.
- Gasmi, A., et al. (2024). Ayurvedic and Chinese Herbs against Coronaviruses. Bentham Science.
- Yang, Y., et al. (2025). Zein-based pickering emulsions enhance quercetin bioavailability and anti-inflammatory efficacy. Journal of Food Engineering. ScienceDirect.
- Karancsi, Z., et al. (2023). Effect of hydroxylated and methylated flavonoids on cytochrome P450 activity in porcine intestinal epithelial cells. Acta Veterinaria Hungarica.
- BioCrick. Quercetin Product Information. CAS: 117-39-5.
- Singh, N.K., & Solanki, K. (2025). Unveiling the Potential of Flavonoids in the Regulation of Parkinson's Disease: Special Focus on Quercetin. Journal of Biochemical and Molecular Toxicology, Wiley.
- CORE. (2013). Chemical and Biological Characterization of Ayurvedic Preparations. PhD Thesis, University of Ferrara.
- Europe PMC. (2026). Excipient Nanoemulsion-Based Enhancement of Spinach Quercetin Bioavailability and Antioxidant Efficacy. Journal of Agricultural and Food Chemistry.
- Memorial Sloan Kettering Cancer Center. (2023). Quercetin - Integrative Medicine Herb Summary.