Advertisement
Apigenin (4',5,7-trihydroxyflavone) adalah flavonoid yang termasuk dalam subkelas flavone, dengan rumus molekul C₁₅H₁₀O₅ dan berat molekul 270,24 g/mol. Senyawa ini banyak ditemukan dalam bentuk glikosida pada berbagai sayuran (peterseli, seledri, bawang), buah-buahan (jeruk), herba (kamomil, timi, oregano, kemangi), serta minuman berbasis tanaman seperti teh dan anggur. Dalam bentuk aglikon murni, apigenin berupa kristal jarum kuning dengan titik leleh >300 °C, hampir tidak larut dalam air namun larut dalam alkali encer dan DMSO.
Senyawa ini bersifat termolabil dan direkomendasikan untuk disimpan pada suhu ≤ -10 °C. Secara biosintesis, apigenin dihasilkan dari jalur fenilpropanoid melalui kondensasi tiga molekul malonil-KoA dengan p-kumaril-KoA, yang kemudian diikuti siklisasi oleh enzim chalcone synthase (CHS) dan chalcone isomerase (CHI) menjadi naringenin, sebelum akhirnya dioksidasi oleh flavone synthase (FSI) menjadi apigenin.
Apigenin menunjukkan spektrum aktivitas farmakologis yang sangat luas, menjadikannya salah satu flavonoid yang paling diteliti. Aktivitas anti-inflamasinya dimediasi melalui penghambatan ekspresi COX-2 yang dimediasi oleh NO dan penekanan sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan TGF-β. Sebagai antioksidan, apigenin meningkatkan ekspresi enzim antioksidan seperti katalase dan GSH-sintase melalui aktivasi jalur Nrf2, serta berperan sebagai pengkelat ion logam dan penangkap radikal bebas. Dalam konteks onkologi, apigenin menginduksi apoptosis melalui downregulasi protein anti-apoptosis dan menyebabkan penangkapan siklus sel pada fase G2/M dan G0/G1 pada berbagai lini sel kanker.
Studi praklinis juga menunjukkan efek kardioprotektif melalui reduksi stres oksidatif dan perlindungan terhadap kerusakan miokard akibat isoproterenol dan doksorubisin. Selain itu, apigenin menunjukkan aktivitas neuroprotektif, antidiabetes, antimikroba, dan efek menguntungkan pada gangguan gastrointestinal seperti kolitis ulseratif. Namun, bioavailabilitas oral apigenin sangat rendah (< 1%) akibat kelarutan yang buruk dalam air, stabilitas yang rendah dalam cairan usus, dan efek first-pass intestinal yang ekstensif.
Dalam Pengobatan Tradisional Tionghoa (TCM), apigenin merupakan senyawa bioaktif penting dalam berbagai formulasi herbal tradisional. Tanaman sumber apigenin seperti Chrysanthemum morifolium (Jú Huā), Scutellaria baicalensis (Huáng Qín), dan Lonicera japonica telah digunakan selama berabad-abad untuk mengatasi inflamasi, infeksi, dan gangguan hati. Formulasi seperti Qin Pi Tang (rebusan peterseli) digunakan untuk masalah pencernaan dan demam, sementara Shu Gan Wan dimanfaatkan untuk hepatoproteksi dan kesehatan pencernaan.
Penelitian modern dengan pendekatan jaringan farmakologi dan penambatan molekuler mengidentifikasi apigenin sebagai salah satu komponen aktif utama dalam dekoksi Xiaoqinglong untuk pengobatan asma, dengan afinitas pengikatan kuat terhadap target seperti AKT1, EGFR, dan SRC melalui jalur PI3K-Akt dan HIF-1. Dalam Ayurveda, tanaman kaya apigenin seperti kamomil dan seledri secara tradisional digunakan sebagai agen anti-inflamasi dan pencernaan. Implementasi fitokimia modern berfokus pada peningkatan bioavailabilitas melalui berbagai sistem penghantaran. Formulasi SNEDDS (Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System) terbukti meningkatkan bioavailabilitas apigenin hingga 3,8 kali lipat pada studi hewan , sementara pendekatan lain seperti solid dispersi dengan Pluronic F-127 mencapai 100% kelarutan pada pH 6,8.
Namun, apigenin juga memiliki potensi interaksi obat yang perlu diwaspadai. Apigenin merupakan inhibitor kompetitif enzim CYP2C9 dengan nilai Ki ≤ 2,2 µM, sehingga berpotensi mengganggu metabolisme obat-obatan seperti diklofenak dan warfarin yang dimetabolisme oleh enzim tersebut. Selain itu, apigenin juga mengatur ekspresi berbagai transporter seperti ABCA9, ABCC6, dan ABCC9, serta memengaruhi isoform CYP450 lainnya termasuk CYP27b1 dan CYP3a57, yang dapat memengaruhi metabolisme xenobiotik dan endogen.
---
- Ray, S.D., & Maldonado, R. (2024). Apigenin. Encyclopedia of Toxicology (Fourth Edition). ScienceDirect.
- (2024). Apigenin-loaded SNEDDS formulations: In vitro and in vivo evaluation. Nature Scientific Reports, 14, 32148.
- (2025). Medical and biological role of Apigenin: A comprehensive review. ScienceDirect.
- Puthanveetil, P. (2026). Interpretation of Potential Interactions and Adverse Effects by Apigenin and Chrysin Based on Their Regulation of Metabolizers and Transporters. Cell Biochemistry and Function, Wiley.
- (2025). Therapeutic Potential of Flavonoids—The Use of Apigenin in Medicine. MDPI Applied Sciences, 15(24), 12996.
- (2019). The Therapeutic Potential of Apigenin. International Journal of Molecular Sciences, 20(6), 1305. NIH/PMC.
- Seo, S.W., et al. (2024). Pharmacokinetics and extensive intestinal first-pass effects of apigenin and its active metabolite, apigenin-7-O-glucuronide, in rats. RISS.
- Wei, S., et al. (2025). Xiaoqinglong decoction against asthma: UPLC-Q-TOF-MS, network pharmacology, and molecular docking. ScienceDirect.
- (2025). Mechanism of CYP2C9 Inhibition by Flavones and Flavonols. ScienceDirect.
- (2025). Apigenin unveiled: an encyclopedic review of its preclinical and clinical insights. Discover Plants, Springer, 2, 11.
- Chem-Impex. (2024). Apigenin Product Information.