Kayu Manis untuk Epilepsi

Kayu Manis (Cinnamomum verum) untuk Epilepsi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Antikonvulsan Ekstrak Kulit Kayu Manis (Cinnamomum verum) pada Kejang yang Diinduksi Pentylenetetrazol pada Tikus

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Hewan Coba)
    Sampel:
    40 tikus Wistar jantan, dibagi 5 kelompok (kontrol, 3 dosis ekstrak, dan fenitoin)
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol 70% diberikan per oral dengan dosis 100, 200, dan 400 mg/kg selama 7 hari sebelum induksi kejang.
    Temuan:
    Ekstrak kayu manis dosis 200 mg/kg secara signifikan menunda onset kejang dan mengurangi durasi kejang pada model kejang umum. Efek ini sebanding dengan fenitoin dosis standar.
  2. Sinamaldehida Memperbaiki Kejang Melalui Modulasi Sistem GABAergik dan Glutamatergik pada Tikus

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Hewan Coba)
    Sampel:
    30 tikus Swiss albino jantan, dibagi 6 kelompok (kontrol, PTZ saja, sinamaldehida dosis bertingkat, dan valproat)
    Dosis/Durasi:
    Sinamaldehida murni diberikan intraperitoneal 30 menit sebelum induksi PTZ, dengan dosis 25, 50, dan 100 mg/kg (dosis efektif 50 mg/kg).
    Temuan:
    Sinamaldehida (50 mg/kg) meningkatkan kadar GABA otak dan menurunkan glutamat, sehingga menekan kejang dan melindungi neuron hipokampus dari kerusakan.
  3. Aktivitas Antikonvulsan Tanaman Obat Tradisional: Tinjauan Sistematis terhadap Studi In Vivo Termasuk Kayu Manis

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi hewan coba yang memenuhi kriteria inklusi, mencakup berbagai tanaman termasuk Cinnamomum verum
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada dosis tunggal; rentang dosis efektif ekstrak 100–300 mg/kg selama 1–4 minggu pada model kejang akut dan kronis.
    Temuan:
    Kayu manis secara konsisten menunjukkan efek antikonvulsan melalui mekanisme antioksidan dan peningkatan transmisi GABA. Sebagian besar studi menggunakan dosis 100–300 mg/kg ekstrak.
  4. Meta-Analisis Efek Ekstrak Cinnamomum terhadap Kejang pada Hewan Coba

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi hewan coba dengan total 210 subjek, menggunakan model kejang PTZ dan elektroshock
    Dosis/Durasi:
    Dosis ekstrak berkisar 100–300 mg/kg per oral atau intraperitoneal, diberikan selama 7–21 hari sebelum induksi kejang.
    Temuan:
    Ekstrak Cinnamomum secara signifikan mengurangi durasi kejang (SMD = -1.45; 95% CI -2.10 hingga -0.80) dan meningkatkan latensi kejang. Efek terlihat pada dosis 100–300 mg/kg.
  5. Perbandingan Efek Antikonvulsan Ekstrak Kulit dan Daun Kayu Manis pada Tikus Model Epilepsi Lobar Temporal

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Hewan Coba)
    Sampel:
    50 tikus Sprague-Dawley jantan, dibagi 5 kelompok (kontrol, kulit 250 mg/kg, daun 250 mg/kg, kombinasi, dan valproat)
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak etanol 70% diberikan per oral dengan dosis 250 mg/kg setiap hari selama 14 hari setelah induksi status epileptikus dengan pilokarpin.
    Temuan:
    Ekstrak kulit kayu manis lebih efektif dibanding ekstrak daun dalam mengurangi frekuensi kejang dan kerusakan sel piramidal hipokampus. Kombinasi keduanya tidak memberikan efek sinergis.
  6. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kayu Manis terhadap Ekspresi Reseptor GABA-A di Hipokampus Tikus Epilepsi

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Hewan Coba)
    Sampel:
    24 tikus Wistar jantan, dibagi 4 kelompok (kontrol, epilepsi, epilepsi + kayu manis 150 mg/kg, epilepsi + diazepam)
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak air kayu manis diberikan per oral dengan dosis 150 mg/kg setiap hari selama 21 hari setelah induksi epilepsi dengan PTZ berulang.
    Temuan:
    Kayu manis meningkatkan ekspresi subunit α1 dan γ2 reseptor GABA-A di hipokampus, serta menurunkan frekuensi kejang spontan. Efeknya mendekati diazepam.


Cari: