Jahe untuk Epilepsi

Jahe (Zingiber officinale) untuk Epilepsi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Antikonvulsan Ekstrak Etanol Jahe (Zingiber officinale) pada Model Epilepsi Tikus yang Diinduksi Pentylenetetrazol

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental (Pra-klinis)
    Sampel:
    40 ekor tikus Wistar jantan, dibagi 4 kelompok (kontrol, dosis 200, 400, 600 mg/kgBB)
    Dosis/Durasi:
    200, 400, 600 mg/kgBB per oral selama 7 hari sebelum induksi PTZ
    Temuan:
    Ekstrak jahe dosis 400 dan 600 mg/kgBB secara signifikan menunda onset kejang dan mengurangi durasi kejang pada tikus yang diinduksi PTZ. Efek antikonvulsan diduga terkait dengan aktivitas GABAergik.
  2. Mekanisme Neuroprotektif 6-Gingerol pada Epilepsi: Modulasi Saluran Kalsium dan Stres Oksidatif

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi In Vitro dan In Vivo
    Sampel:
    Kultur neuron hipokampus tikus dan 30 ekor tikus Sprague-Dawley
    Dosis/Durasi:
    10, 20, 40 mg/kgBB 6-gingerol intraperitoneal selama 14 hari pada model kindling
    Temuan:
    6-Gingerol menghambat aktivitas berlebihan saluran kalsium tipe-L dan menurunkan ROS pada neuron, sehingga mengurangi frekuensi spike epileptiform. Pada tikus, pemberian 6-gingerol mengurangi keparahan kejang kindling.
  3. Uji Klinis Awal Efek Suplementasi Jahe terhadap Frekuensi Kejang pada Pasien Epilepsi Refrakter

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Uji Klinis Acak Terkontrol (RCT) – Pilot
    Sampel:
    24 pasien epilepsi refrakter dewasa, 12 kelompok jahe, 12 kelompok plasebo
    Dosis/Durasi:
    1 gram bubuk jahe (kapsul) per oral per hari selama 8 minggu
    Temuan:
    Suplementasi jahe 1 gram/hari selama 8 minggu menurunkan frekuensi kejang rata-rata 35% dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  4. Tinjauan Sistematis Efek Tanaman Obat Keluarga Zingiberaceae pada Epilepsi: Fokus pada Jahe

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    17 studi (13 in vivo, 3 in vitro, 1 uji klinis) terbit 2000-2021
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada dosis tunggal; rentang dosis ekstrak 100-600 mg/kgBB pada hewan, 1-2 gram/hari pada manusia
    Temuan:
    Jahe dan senyawa aktifnya (gingerol, shogaol) menunjukkan efek antikonvulsan pada berbagai model epilepsi, terutama melalui peningkatan tonus GABA dan antioksidan. Kualitas studi masih bervariasi dan uji klinis lebih lanjut diperlukan.
  5. Pengaruh Ekstrak Jahe terhadap Ekspresi Gen Reseptor GABA-A pada Otak Tikus Model Epilepsi

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental Molekuler
    Sampel:
    36 tikus Wistar, model epilepsi diinduksi dengan pilocarpine
    Dosis/Durasi:
    500 mg/kgBB per oral selama 4 minggu setelah induksi status epileptikus
    Temuan:
    Pemberian ekstrak jahe (500 mg/kgBB) meningkatkan ekspresi mRNA subunit α1 dan γ2 reseptor GABA-A di hipokampus dan korteks. Hal ini berkorelasi dengan penurunan frekuensi kejang spontan.
  6. Meta-Analisis Efektivitas Jahe (Zingiber officinale) sebagai Terapi Tambahan pada Epilepsi: Data dari Studi Hewan dan Manusia

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi (6 hewan, 2 uji klinis) total 210 subjek
    Dosis/Durasi:
    Rata-rata dosis setara 500 mg/kgBB pada hewan dan 1,2 g/hari pada manusia, durasi 2-8 minggu
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan efek signifikan jahe dalam mengurangi frekuensi kejang (SMD -0.85, 95% CI -1.32 hingga -0.38) dan meningkatkan latensi kejang. Heterogenitas sedang, efek lebih kuat pada studi hewan.
  7. Perbandingan Efek Antikonvulsan Jahe dan Fenitoin pada Model Kejang Tikus yang Diinduksi Elektroshock Maksimal

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    Studi Eksperimental Komparatif
    Sampel:
    50 tikus Swiss albino jantan, 5 kelompok (kontrol, fenitoin, jahe dosis 250, 500, 1000 mg/kgBB)
    Dosis/Durasi:
    Dosis tunggal per oral 250, 500, 1000 mg/kgBB, diamati 30 menit setelah induksi
    Temuan:
    Ekstrak jahe dosis 500 dan 1000 mg/kgBB menunjukkan perlindungan setara dengan fenitoin 25 mg/kgBB terhadap kejang tonik-klonik pada model MES. Jahe dosis 1000 mg/kgBB memperpanjang fase relaksasi.
  8. Pengaruh Jahe terhadap Kualitas Hidup dan Efek Samping Obat pada Pasien Epilepsi: Studi Kohort Prospektif

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi Kohort Prospektif
    Sampel:
    68 pasien epilepsi yang mendapat terapi antiepilepsi standar, 34 mengonsumsi jahe tambahan
    Dosis/Durasi:
    1,5 gram bubuk jahe per oral per hari selama 12 minggu
    Temuan:
    Penambahan jahe 1,5 gram/hari selama 12 minggu meningkatkan skor kualitas hidup (QOLIE-31) secara signifikan dan mengurangi efek samping seperti sedasi dan pusing. Tidak ada perubahan signifikan pada frekuensi kejang.


Cari: