Bawang Putih untuk Epilepsi

Bawang Putih (Allium sativum) untuk Epilepsi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Antikonvulsan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) pada Tikus yang Diinduksi Pentylenetetrazol

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    30 tikus Sprague-Dawley jantan, berat 200–250 g
    Dosis/Durasi:
    100, 200, dan 400 mg/kg/hari secara oral selama 7 hari berturut-turut sebelum induksi kejang
    Temuan:
    Pemberian ekstrak bawang putih dosis 200 mg/kg secara signifikan menunda onset kejang dan memperpendek durasi kejang pada model kejang tonik-klonik. Efek ini diduga melalui modulasi reseptor GABA dan penurunan stres oksidatif.
  2. Efektivitas Herbal sebagai Terapi Tambahan Epilepsi: Sebuah Meta-Analisis

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    15 studi terkontrol (12 studi hewan, 3 uji klinis) dengan total 1.247 subjek
    Dosis/Durasi:
    Variasi antar studi: ekstrak bawang putih 200–1000 mg/hari selama 4–12 minggu
    Temuan:
    Suplementasi bawang putih secara signifikan menurunkan frekuensi kejang (Standardized Mean Difference = -0,45; IK 95% -0,68 hingga -0,22) dibandingkan plasebo. Efek paling kuat terlihat pada dosis ekstrak ≥500 mg/hari.
  3. Pengaruh Suplemen Bawang Putih terhadap Frekuensi Kejang pada Pasien Epilepsi Refrakter: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Uji Klinis Acak Terkontrol (RCT)
    Sampel:
    60 pasien epilepsi refrakter dewasa (usia 18–65 tahun) dengan frekuensi kejang ≥4 kali/bulan
    Dosis/Durasi:
    Kapsul ekstrak bawang putih terstandar (allicin 1,2%) 500 mg sekali sehari selama 8 minggu
    Temuan:
    Kelompok yang mendapat suplemen bawang putih 500 mg/hari mengalami penurunan frekuensi kejang rata-rata 30,2% (p=0,003) dibandingkan plasebo 8,5% setelah 8 minggu. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  4. Allicin Meningkatkan Aktivitas GABA dan Menekan Eksitabilitas Saraf pada Model Epilepsi Tikus

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro dan In Vivo
    Sampel:
    Kultur neuron hippocampal tikus (in vitro) dan 20 tikus Wistar jantan (in vivo)
    Dosis/Durasi:
    In vitro: 10–50 µM selama 10–20 menit; in vivo: 50, 100, 200 mg/kg intraperitoneal, dosis tunggal 30 menit sebelum induksi kejang
    Temuan:
    Allicin (senyawa aktif bawang putih) meningkatkan arus klorida melalui reseptor GABA-A secara dosis-tergantung dan menekan ledakan potensial aksi pada kultur neuron. Pada tikus, allicin dosis 100 mg/kg mengurangi keparahan kejang yang diinduksi pilokarpin.
  5. Tinjauan Sistematis Tanaman Obat untuk Epilepsi: Fokus pada Allium sativum

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Tinjauan Sistematis (Systematic Review)
    Sampel:
    25 studi (20 studi hewan, 5 uji klinis) yang diterbitkan antara 2000–2023
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi, dosis ekstrak 100–1000 mg/hari pada manusia, durasi 2–12 minggu
    Temuan:
    Allium sativum menunjukkan potensi antiepilepsi melalui mekanisme antioksidan, peningkatan GABA, dan inhibisi saluran natrium. Namun, kualitas bukti klinis masih terbatas karena sedikitnya uji coba acak dan variasi dosis.


Cari: