Infeksi
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri ini umumnya menyerang paru-paru, tetapi dapat menyebar ke organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, otak, ginjal, dan jantung melalui aliran darah.
Gejala utama TBC meliputi batuk berdahak selama lebih dari 3 minggu (kadang disertai darah), nyeri dada, demam, dan penurunan berat badan.
Sifat bakteri TBC yang 'pintar dan licik'—mampu bersembunyi di dalam sel dan berpura-pura mati—menjadikan pengobatannya harus dilakukan secara khusus dan tuntas.
Pengobatan utama TBC adalah dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang merupakan kombinasi beberapa jenis antibiotik, diminum secara rutin selama minimal 6 bulan, dan tidak boleh dihentikan tanpa arahan dokter.
Bahan-bahan herbal berikut memiliki potensi sebagai terapi komplementer untuk membantu meringankan gejala, mengurangi efek samping obat, atau meningkatkan daya tahan tubuh.
Ekstrak etanol bawang putih menghambat pertumbuhan M. tuberculosis dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) 125-250 µg/mL. Ekstrak menunjukkan efek sinergis dengan rifampisin.
Ekstrak gel Aloe vera menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan M. tuberculosis MDR dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) 250 µg/mL. Efek sinergis terlihat ketika dikombinasikan dengan rifampisin, menurunkan MIC rifampisin hingga 4 kali lipat.
Advertisement
Ekstrak etanol daun meniran menunjukkan aktivitas antimikobakteri dengan KHM 125 µg/mL terhadap M. tuberculosis H37Rv. Aktivitas ini terkait dengan kandungan flavonoid dan tanin yang menghambat dinding sel bakteri.
Ekstrak etanol jahe menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap M. tuberculosis dengan nilai MIC berkisar 50-100 µg/mL. Aktivitas terlihat baik pada strain sensitif maupun MDR.
EGCG menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan M. tuberculosis dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) 50–100 µg/mL. EGCG juga bersifat sinergis dengan rifampisin dan isoniazid.
Ekstrak etanol daun mimba menunjukkan aktivitas antimikobakteri dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) sebesar 50 µg/mL terhadap H37Rv dan 25–100 µg/mL terhadap isolat klinis. Aktivitas ini bersifat bakterisidal pada konsentrasi 2× MIC.
Minyak esensial peppermint menunjukkan aktivitas antimikobakterial dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) 0,5% (v/v) terhadap M. tuberculosis H37Rv dan isolat klinis. Komponen utama mentol dan menton berkontribusi terhadap efek ini.
Piperin menunjukkan aktivitas antimikobakteri dengan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sebesar 12,5 µg/mL dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) sebesar 25 µg/mL. Senyawa ini menghambat pertumbuhan mikobakteri secara dosis-tergantung.