Teh untuk Tuberkulosis (TBC)

Teh (Camellia sinensis) untuk Tuberkulosis (TBC), list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas Antimikobakteri Epigallocatechin-3-gallate (EGCG) dari Teh Hijau terhadap Mycobacterium tuberculosis secara In Vitro

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Kultur Mycobacterium tuberculosis H37Rv dan isolat klinis multi-drug resistant (MDR)
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi EGCG 6,25–200 µg/mL selama 7–14 hari inkubasi
    Temuan:
    EGCG menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan M. tuberculosis dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) 50–100 µg/mL. EGCG juga bersifat sinergis dengan rifampisin dan isoniazid.
  2. Efek Sinergis Kombinasi Epigallocatechin-3-gallate dan Rifampisin terhadap Mycobacterium tuberculosis

    Tahun:
    2006
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Mycobacterium tuberculosis H37Ra dan isolat klinis sensitif rifampisin
    Dosis/Durasi:
    EGCG 25–100 µM dengan rifampisin 0,125–1 µg/mL selama 5 hari
    Temuan:
    Kombinasi EGCG dan rifampisin menunjukkan efek sinergis dengan indeks fraksional konsentrasi hambat (FICI) <0,5. EGCG meningkatkan permeabilitas dinding sel bakteri sehingga meningkatkan uptake rifampisin.
  3. Aktivitas Antimikobakteri Ekstrak Teh Hitam (Camellia sinensis) terhadap Mycobacterium tuberculosis Multidrug-Resistant

    Tahun:
    2014
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Isolat klinis M. tuberculosis multidrug-resistant (MDR-TB) dan strain H37Rv
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak teh hitam 31,25–500 µg/mL selama 7 hari inkubasi
    Temuan:
    Ekstrak teh hitam menunjukkan aktivitas bakterisida terhadap MDR-TB dengan MIC 125–250 µg/mL. Aktivitas ini dikaitkan dengan kandungan theaflavin dan thearubigin.
  4. Potensi Teh Hijau sebagai Terapi Adjuvan pada Tuberkulosis: Sebuah Tinjauan Sistematis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    10 studi in vitro dan 3 studi hewan yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Tidak spesifik; dosis EGCG pada studi hewan 50–100 mg/kg/hari selama 4–8 minggu
    Temuan:
    Teh hijau dan komponennya (EGCG) menunjukkan aktivitas antimikobakteri yang menjanjikan serta mampu memodulasi respons imun. Namun, bukti klinis pada manusia masih terbatas.
  5. Pengaruh Pemberian Ekstrak Teh Hijau terhadap Respons Imun dan Beban Bakteri pada Mencit yang Diinfeksi Mycobacterium tuberculosis

    Tahun:
    2017
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo (Hewan)
    Sampel:
    30 mencit BALB/c yang diinfeksi M. tuberculosis H37Rv, dibagi menjadi kelompok kontrol, dosis rendah dan tinggi ekstrak teh hijau
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak teh hijau 100 dan 200 mg/kg/hari secara oral selama 4 minggu pasca infeksi
    Temuan:
    Pemberian ekstrak teh hijau dosis tinggi (200 mg/kg) secara signifikan mengurangi beban bakteri di paru-paru dan meningkatkan kadar IFN-γ dan TNF-α dibandingkan kontrol.
  6. Hubungan Konsumsi Teh dengan Risiko Tuberkulosis: Studi Kasus-Kontrol di Tiongkok

    Tahun:
    2013
    Tipe:
    Studi Kasus-Kontrol
    Sampel:
    300 pasien TBC baru dan 300 kontrol sehat dari rumah sakit di Provinsi Zhejiang
    Dosis/Durasi:
    Konsumsi teh minimal 1 cangkir per hari selama lebih dari 1 tahun
    Temuan:
    Konsumsi teh hijau secara teratur (≥1 cangkir/hari) dikaitkan dengan penurunan risiko TBC sebesar 30% (OR 0,70; 95% CI 0,52–0,95). Konsumsi teh hitam tidak menunjukkan hubungan signifikan.


Cari: