Bawang Putih untuk Tuberkulosis (TBC)

Bawang Putih (Allium sativum) untuk Tuberkulosis (TBC), list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas Antimikobakteri Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) terhadap Mycobacterium tuberculosis secara In Vitro

    Tahun:
    2012
    Tipe:
    In vitro study
    Sampel:
    Kultur M. tuberculosis H37Rv dan 10 isolat klinis
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 62.5-1000 µg/mL, inkubasi 14 hari
    Temuan:
    Ekstrak etanol bawang putih menghambat pertumbuhan M. tuberculosis dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) 125-250 µg/mL. Ekstrak menunjukkan efek sinergis dengan rifampisin.
  2. Efek Suplementasi Bawang Putih sebagai Terapi Tambahan pada Pasien Tuberkulosis Paru: Uji Acak Terkontrol

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    60 pasien TBC paru BTA positif, dibagi menjadi kelompok kontrol (obat standar) dan kelompok intervensi (obat standar + ekstrak bawang putih)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak bawang putih (standar allicin 1%) dua kali sehari selama 8 minggu
    Temuan:
    Kelompok intervensi menunjukkan konversi sputum yang lebih cepat (rata-rata 4 minggu vs 6 minggu) dan peningkatan berat badan yang lebih signifikan. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
  3. Tinjauan Sistematis Tanaman Obat untuk Tuberkulosis: Fokus pada Bawang Putih

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    15 studi in vitro dan 5 uji klinis yang memenuhi kriteria inklusi
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi, tidak ada rekomendasi dosis pasti
    Temuan:
    Bawang putih menunjukkan aktivitas antimikobakteri yang konsisten secara in vitro dan potensi sebagai terapi tambahan pada TBC. Namun, kualitas uji klinis masih terbatas dan diperlukan penelitian lebih lanjut.
  4. Meta-Analisis Efektivitas Bawang Putih sebagai Terapi Tambahan pada Tuberkulosis

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Meta-Analysis
    Sampel:
    4 RCT dengan total 280 pasien
    Dosis/Durasi:
    Rata-rata dosis ekstrak bawang putih 1000 mg/hari selama 8-12 minggu
    Temuan:
    Suplementasi bawang putih secara signifikan mempercepat konversi sputum (RR 1,35; 95% CI 1,12-1,62) dan meningkatkan kadar CD4+ pada pasien TBC. Tidak ada perbedaan signifikan dalam efek samping antara kelompok.
  5. Aktivitas Antituberkulosis Minyak Bawang Putih pada Model Hewan

    Tahun:
    2014
    Tipe:
    In vivo study (animal)
    Sampel:
    30 mencit yang diinfeksi M. tuberculosis, dibagi 3 kelompok (kontrol, dosis rendah, dosis tinggi)
    Dosis/Durasi:
    50 dan 100 mg/kg BB per oral selama 4 minggu
    Temuan:
    Minyak bawang putih dosis tinggi (100 mg/kg BB) secara signifikan mengurangi jumlah bakteri di paru dan limpa serta memperpanjang waktu survival. Efeknya sebanding dengan isoniazid dosis rendah.
  6. Pengaruh Ekstrak Bawang Putih terhadap Respons Imun pada Pasien Tuberkulosis

    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Quasi-experimental
    Sampel:
    40 pasien TBC, diukur kadar IFN-gamma dan IL-2 sebelum dan sesudah suplementasi
    Dosis/Durasi:
    600 mg ekstrak bawang putih (allicin 1,5%) per hari selama 4 minggu
    Temuan:
    Suplementasi bawang putih meningkatkan kadar IFN-gamma secara signifikan (p<0,05) dan menunjukkan peningkatan respons imun seluler. Hal ini berpotensi membantu pemulihan dari infeksi TBC.


Cari: