Jahe untuk Tuberkulosis (TBC)

Jahe (Zingiber officinale) untuk Tuberkulosis (TBC), list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas Antimikobakteri Ekstrak Jahe (Zingiber officinale) terhadap Mycobacterium tuberculosis secara In Vitro

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi In Vitro
    Sampel:
    Kultur Mycobacterium tuberculosis strain H37Rv dan isolat klinis multi-drug resistant (MDR) sebanyak 5 isolat
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi ekstrak 25-200 µg/mL diinkubasi selama 7 hari dalam medium Middlebrook 7H9
    Temuan:
    Ekstrak etanol jahe menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap M. tuberculosis dengan nilai MIC berkisar 50-100 µg/mL. Aktivitas terlihat baik pada strain sensitif maupun MDR.
  2. Efektivitas Suplementasi Ekstrak Jahe sebagai Terapi Tambahan pada Pasien Tuberkulosis Paru: Uji Klinis Acak Terkontrol

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    RCT (Randomized Controlled Trial)
    Sampel:
    60 pasien tuberkulosis paru BTA positif, dibagi menjadi kelompok kontrol (30) dan kelompok intervensi (30)
    Dosis/Durasi:
    500 mg ekstrak jahe (setara 2 g jahe segar) dua kali sehari selama 2 bulan bersamaan dengan terapi OAT kategori 1
    Temuan:
    Penambahan ekstrak jahe 500 mg dua kali sehari selama 2 bulan meningkatkan konversi sputum pada minggu ke-8 (93% vs 77%, p=0.04) dan menurunkan kejadian hepatotoksisitas akibat obat anti-TBC.
  3. Meta-Analisis Tanaman Obat sebagai Agen Antituberkulosis: Fokus pada Zingiber officinale dan Curcuma longa

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    15 studi (in vitro, in vivo, dan klinis) yang memenuhi kriteria inklusi dari total 230 artikel yang disaring
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi, rentang dosis ekstrak 100-1000 mg/hari selama 1-6 bulan
    Temuan:
    Jahe menunjukkan efek antituberkulosis yang signifikan dengan pooled effect size (OR) 0,45 (95% CI: 0,30-0,67) dibandingkan kontrol. Gingerol dan shogaol diidentifikasi sebagai senyawa aktif utama.
  4. Review Sistematis Aktivitas Antimikobakteri Zingiber officinale: Dari Mekanisme Molekuler hingga Aplikasi Klinis

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    20 artikel yang meliputi 10 studi in vitro, 6 studi in vivo, dan 4 studi klinis
    Dosis/Durasi:
    Tidak ada dosis tunggal, namun dosis efektif in vivo berkisar 200-400 mg/kgBB pada hewan coba
    Temuan:
    Kandungan gingerol dan shogaol bekerja melalui penghambatan enzim InhA dan pembentukan biofilm M. tuberculosis. Sebagian besar studi in vitro menunjukkan MIC <100 µg/mL.
  5. Pengaruh Pemberian Ekstrak Jahe terhadap Respons Imun dan Beban Bakteri pada Model Mencit Tuberkulosis

    Tahun:
    2016
    Tipe:
    Studi In Vivo (Hewan Coba)
    Sampel:
    40 mencit BALB/c jantan yang diinfeksi M. tuberculosis H37Rv, dibagi menjadi 4 kelompok (kontrol, dosis rendah, sedang, tinggi)
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak jahe diberikan secara oral dengan dosis 100, 200, dan 400 mg/kgBB/hari selama 28 hari setelah infeksi
    Temuan:
    Pemberian ekstrak jahe dosis 200 mg/kgBB selama 4 minggu menurunkan jumlah koloni bakteri di paru hingga 2 log CFU dan meningkatkan kadar IFN-γ serta IL-12 secara signifikan.
  6. Interaksi Jahe (Zingiber officinale) dengan Rifampisin pada Pasien Tuberkulosis: Studi Farmakokinetik

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi Klinis Farmakokinetik
    Sampel:
    24 pasien tuberkulosis paru yang menerima terapi rifampisin 600 mg/hari, diberikan jahe segar 10 g/hari selama 14 hari
    Dosis/Durasi:
    Jahe segar 10 g (setara 1 sendok makan parutan jahe) diminum bersama rifampisin setiap pagi selama 14 hari
    Temuan:
    Konsumsi jahe tidak mengubah secara signifikan konsentrasi puncak (Cmax) dan AUC rifampisin dalam plasma. Tidak ditemukan interaksi obat yang merugikan secara klinis.


Cari: