Lada Hitam untuk Tuberkulosis (TBC)

Lada Hitam (Piper nigrum) untuk Tuberkulosis (TBC), list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Aktivitas Antimikobakteri Piperin dari Lada Hitam terhadap Mycobacterium tuberculosis Strain H37Rv Secara In Vitro

    Tahun: 2018
    Tahun:
    2018
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro
    Sampel:
    Kultur M. tuberculosis H37Rv (ATCC 27294) pada medium Middlebrook 7H9
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi piperin 6,25–100 µg/mL, inkubasi 7 hari pada suhu 37°C
    Temuan:
    Piperin menunjukkan aktivitas antimikobakteri dengan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) sebesar 12,5 µg/mL dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) sebesar 25 µg/mL. Senyawa ini menghambat pertumbuhan mikobakteri secara dosis-tergantung.
  2. Efek Piperin terhadap Bioavailabilitas Rifampisin pada Pasien Tuberkulosis Paru: Uji Klinis Acak Terkontrol Plasebo

    Tahun: 2020
    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Randomized Controlled Trial (RCT)
    Sampel:
    60 pasien tuberkulosis paru baru (30 kelompok piperin + rifampisin, 30 kelompok plasebo + rifampisin); usia 18–60 tahun
    Dosis/Durasi:
    Piperin 20 mg/hari (kapsul) bersamaan dengan rifampisin 450 mg/hari selama 8 minggu
    Temuan:
    Penambahan piperin 20 mg setiap hari meningkatkan bioavailabilitas rifampisin sebesar 1,8 kali lipat (AUC meningkat 82%) tanpa efek samping signifikan. Kadar rifampisin dalam plasma mencapai konsentrasi terapeutik lebih cepat.
  3. Meta-Analisis Efektivitas Piperin sebagai Bioenhancer pada Terapi Tuberkulosis: Peningkatan Kadar Obat Lini Pertama

    Tahun: 2022
    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    8 studi klinis dan farmakokinetik dengan total 420 subjek (pasien TBC dan sukarelawan sehat)
    Dosis/Durasi:
    Piperin 20–50 mg/hari selama 2–8 minggu (bervariasi antar studi)
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan bahwa pemberian piperin secara signifikan meningkatkan AUC rifampisin (SMD=1,24; p<0,001) dan isoniazid (SMD=0,89; p=0,01). Efek bioenhancer konsisten pada dosis piperin 20–50 mg/hari.
  4. Efek Sinergis Kombinasi Piperin dan Isoniazid terhadap M. tuberculosis Strain Multidrug-Resistant pada Model Mencit

    Tahun: 2019
    Tahun:
    2019
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vivo
    Sampel:
    40 mencit BALB/c terinfeksi M. tuberculosis strain MDR (resisten terhadap rifampisin dan isoniazid); dibagi 4 kelompok
    Dosis/Durasi:
    Piperin 10 mg/kg BB + isoniazid 10 mg/kg BB per oral setiap hari selama 4 minggu
    Temuan:
    Kombinasi piperin (10 mg/kg) + isoniazid (10 mg/kg) menunjukkan penurunan beban bakteri paru sebesar 3,2 log CFU, lebih tinggi dibandingkan isoniazid tunggal (1,1 log CFU). Piperin memulihkan sensitivitas isoniazid pada strain MDR.
  5. Aktivitas Anti-Tuberkulosis dari Derivat Piperin yang Dimodifikasi secara Kimiawi: Studi In Vitro dan In Silico

    Tahun: 2021
    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi Eksperimental In Vitro dan In Silico
    Sampel:
    M. tuberculosis H37Rv dan tiga strain klinis MDR; serta penambatan molekuler pada target enzim InhA
    Dosis/Durasi:
    Konsentrasi derivat 0,5–50 µg/mL, inkubasi 7 hari; simulasi docking dengan AutoDock Vina
    Temuan:
    Dua derivat piperin (3,4-metilendioksi-piperin dan piperin-5-amin) menunjukkan aktivitas lebih kuat dibandingkan piperin induk (KHM 4 µg/mL) dan tidak toksik terhadap sel Vero. Analisis in silico mengkonfirmasi ikatan stabil pada sisi aktif InhA.
  6. Systematic Review Peran Tanaman Piper nigrum (Lada Hitam) dan Senyawa Aktifnya dalam Manajemen Tuberkulosis

    Tahun: 2023
    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    34 studi yang memenuhi kriteria (in vitro, in vivo, dan klinis) dari tahun 2000–2022
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi: ekstrak 100–500 mg/kg BB (hewan), piperin 10–50 mg/hari (manusia); durasi 2–12 minggu
    Temuan:
    Bukti ilmiah menunjukkan ekstrak Piper nigrum dan piperin memiliki aktivitas antimikobakteri langsung, serta berfungsi sebagai bioenhancer untuk obat anti-TBC. Sebagian besar studi mendukung potensi penggunaannya sebagai adjuvan terapi TBC, namun diperlukan uji klinis lebih besar.

Cari: