Ginkgo Biloba untuk Epilepsi

Ginkgo Biloba (Ginkgo biloba) untuk Epilepsi, list studi klinis, kajian ilmiah, meta-analisis dan literatur.

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efek Ekstrak Ginkgo Biloba terhadap Frekuensi Kejang pada Pasien Epilepsi Refrakter: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2018
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    72 pasien epilepsi refrakter (usia 18–65 tahun) yang tetap mengalami kejang meskipun mendapat minimal dua obat antiepilepsi
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak Ginkgo biloba (EGb 761) 120 mg per hari selama 12 minggu
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Ginkgo biloba 120 mg/hari selama 12 minggu tidak menunjukkan penurunan signifikan frekuensi kejang dibandingkan plasebo. Namun, terdapat peningkatan signifikan pada skor fungsi kognitif (MoCA) pada kelompok Ginkgo.
  2. Mekanisme Antikonvulsan Ekstrak Ginkgo Biloba pada Tikus yang Diinduksi Kejang dengan Pentylenetetrazol

    Tahun:
    2015
    Tipe:
    Studi Eksperimental Hewan
    Sampel:
    48 tikus Wistar jantan, dibagi menjadi 6 kelompok (kontrol, tiga dosis Ginkgo, valproat, dan kombinasi)
    Dosis/Durasi:
    Dosis 50, 100, dan 200 mg/kg BB per oral selama 7 hari sebelum induksi kejang
    Temuan:
    Ekstrak Ginkgo biloba dosis 100 dan 200 mg/kg BB secara signifikan memperpanjang latensi kejang dan mengurangi durasi kejang pada tikus. Efek ini diduga melalui modulasi neurotransmiter GABA dan penurunan stres oksidatif.
  3. Pengaruh Ginkgo Biloba terhadap Farmakokinetik Asam Valproat pada Pasien Epilepsi

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi Interaksi Obat (Desain crossover)
    Sampel:
    16 pasien epilepsi dewasa yang stabil dengan terapi asam valproat monoterapi
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak Ginkgo biloba 240 mg per hari (dibagi dua dosis) selama 14 hari
    Temuan:
    Ko-administrasi Ginkgo biloba 240 mg/hari selama 14 hari menurunkan kadar plasma asam valproat secara signifikan (AUC turun 18%, Cmax turun 22%). Hal ini berpotensi mengurangi efektivitas terapi dan meningkatkan risiko kejang.
  4. Tinjauan Sistematis Tanaman Obat sebagai Terapi Tambahan pada Epilepsi: Fokus pada Ginkgo Biloba dan Curcuma Longa

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    23 studi (6 tentang Ginkgo biloba, sisanya Curcuma longa) yang memenuhi kriteria inklusi dari 412 artikel yang disaring
    Dosis/Durasi:
    Bervariasi antar studi (100–240 mg/hari, durasi 2–12 minggu)
    Temuan:
    Bukti klinis tentang Ginkgo biloba sebagai terapi tambahan epilepsi masih terbatas dan heterogen. Sebagian besar studi hewan menunjukkan efek antikonvulsan, namun studi pada manusia belum menunjukkan efektivitas yang konsisten serta terdapat risiko interaksi obat.
  5. Hubungan Konsumsi Suplemen Ginkgo Biloba dengan Kontrol Kejang pada Pasien Epilepsi Dewasa: Studi Potong Lintang

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi Observasional Potong Lintang
    Sampel:
    210 pasien epilepsi dewasa di poliklinik saraf, 48 di antaranya melaporkan konsumsi suplemen Ginkgo secara rutin
    Dosis/Durasi:
    Dosis harian rata-rata 120–240 mg, durasi ≥3 bulan
    Temuan:
    Pasien yang mengonsumsi Ginkgo biloba secara rutin (≥3 bulan) memiliki odds 2,1 kali lebih tinggi untuk mengalami kejang tidak terkontrol dibandingkan non-pengguna. Temuan ini menguatkan kekhawatiran tentang potensi prokonvulsan pada dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang.
  6. Efektivitas dan Keamanan Ginkgo Biloba sebagai Terapi Tambahan pada Epilepsi: Meta-Analisis Studi Acak Terkontrol

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    4 uji klinis acak (total 312 pasien) yang membandingkan Ginkgo biloba plus obat antiepilepsi standar versus plasebo plus obat standar
    Dosis/Durasi:
    Dosis 120–240 mg/hari selama 8–24 minggu (variasi antar studi)
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam penurunan frekuensi kejang antara kelompok Ginkgo dan plasebo (RR=1,02, 95% CI 0,91–1,14). Namun, terdapat peningkatan risiko efek samping gastrointestinal ringan pada kelompok Ginkgo (RR=1,8, p=0,04).


Cari: