Minuman hangat yang memadukan daun katuk (Sauropus androgynus) dengan jahe dan serai, diadaptasi dari tradisi jamu Nusantara. Literatur fitokimia menyebutkan daun katuk kaya flavonoid, vitamin C, dan vitamin K, sedangkan jahe memberikan gingerol yang bersifat antioksidan.
| 300 ml air |
| 30 g daun katuk segar, pilih yang muda |
| 15 g jahe, memarkan |
| 2 batang serai, bagian putihnya dimemarkan |
| 1 sdm air perasan lemon |
| 1 sdt madu (opsional) |
Membantu menjaga daya tahan tubuh dan meredakan kembung berkat gingerol, saponin, dan polifenol. Secara tradisional, ramuan hangat ini juga dipakai untuk mendukung pemulihan stamina dan produksi ASI pada ibu menyusui.
Advertisement
Minum 200–250 ml sekali sehari, 3–4 hari per minggu; jangan mengganti air minum harian.
Daun katuk mengandung vitamin K yang dapat melawan efek warfarin; konsultasikan dengan dokter jika Anda rutin memakai pengencer darah.
Jangan mengonsumsi daun katuk mentah dalam bentuk jus pekat karena berisiko terhadap kesehatan paru-paru; hindari juga pada trimester pertama kehamilan tanpa anjuran tenaga kesehatan. Penderita batu ginjal oksalat dan penyakit ginjal kronis sebaiknya berkonsultasi dahulu.
Resep Herbal: #0505