Katuk

Katuk | Sauropus androgynus
Katuk
Nama
Katuk (Katuk)
Nama Latin/Ilmiah
Sauropus androgynus
Bagian Digunakan
Daun Muda, Pucuk
Rasa
Mild, slightly sweet

Nama Lain
Cekur manis (Malaysia), Atay-atay (Filipina), Rau ngót (Vietnam), Pak waan (Thailand), Sweet leaf (Amerika Serikat)
Asal
Indonesia, Malaysia, Thailand, India, dan Sri Lanka
Kandungan Utama
Protein, vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, fosfor, dan serat.

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Katuk

Daun katuk (Sauropus androgynus) merupakan tanaman perdu yang banyak ditemukan di Asia Tenggara dan dikenal sebagai sayuran hijau bergizi tinggi. Tanaman ini memiliki daun kecil berbentuk lonjong dengan warna hijau gelap, serta sering dikonsumsi sebagai lalapan atau bahan sayur bening. Di Indonesia, daun katuk juga populer sebagai sayuran pelancar ASI bagi ibu menyusui, karena kandungan senyawa yang dipercaya mampu merangsang produksi air susu ibu.

Baca Lebih Lanjut
Update: 14 Agu 2026 - 10:41:57
 

II. Ciri-ciri Katuk

Tumbuh subur di daerah tropis dengan dataran rendah sampai menengah. Suka tempat yang lembap, tanah subur, dan bisa hidup di bawah sinar matahari langsung maupun tempat yang agak teduh. Karakteristik/ciri-ciri Katuk (Sauropus androgynus):

Bagian Ciri-Ciri
Perawakan Semak tegak atau perdu yang bisa tumbuh hingga 2-3 meter, batangnya berkayu dan banyak cabang.
Daun Daun tunggal dengan susunan berselang-seling, bentuknya lonjong sampai bulat telur, ukurannya kecil, warna hijau gelap di bagian atas dan lebih muda di bawah.
Bunga Bunga kecil berwarna merah gelap keunguan atau kuning kehijauan, muncul di ketiak daun, biasanya tersembunyi di bawah daun.
Buah Buah berbentuk bulat, putih atau agak keputihan saat masih muda, dan berubah jadi agak kemerahan atau ungu saat matang.
Akar Sistem perakaran tunggang yang cukup kuat untuk menopang batang perdu.

III. Manfaat Katuk

8 Manfaat Katuk untuk kesehatan.

  1. Galaktagog (Peningkatan Produksi ASI)

    Stimulasi sekresi prolaktin melalui modulasi reseptor dopaminergik di kelenjar pituitari anterior serta aktivitas estrogenik dari senyawa fitosterol (β-sitosterol) dan flavonoid yang meningkatkan sintesis laktalbumin dan kasein.

    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi

    Penghambatan siklooksigenase-2 (COX-2) dan lipoksigenase (LOX), penekanan jalur NF-κB, serta penurunan sitokin proinflamasi TNF-α dan IL-6 melalui aktivitas flavonoid dan polifenol.

    Tampilkan
  3. Antioksidan

    Penangkapan radikal bebas (DPPH, ABTS, superoksida), peningkatan aktivitas enzim antioksidan endogen (SOD, katalase, GPx) melalui aktivasi jalur Nrf2/ARE oleh polifenol.

    Senyawa Aktif: Asam Galat, Rutin, Epikatekin
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Katuk

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Katuk.

  1. Papaverine

    Golongan: Alkaloid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Bronkodilator, Vasodilator, Antispasmodik, Dan Laktagogum (meningkatkan Produksi ASI).
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan Kuat, Antiinflamasi, Antialergi, Dan Kardioprotektif.
    Tampilkan
  3. Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antikanker, Neuroprotektif, Dan Antiaterogenik.
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Katuk

Interaksi & Kontraindikasi Katuk dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Kehamilan

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Hindari konsumsi dosis tinggi (misal: ekstrak pekat atau jus daun katuk dalam jumlah besar) karena potensi efek uterotonik dan risiko bronkiolitis obliterans. Penggunaan wajar sebagai sayuran umumnya aman, namun konsultasikan dengan dokter.

  2. Masa menyusui

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Aman dikonsumsi dalam jumlah wajar (sebagai sayur) untuk meningkatkan produksi ASI. Hindari ekstrak atau dosis tinggi karena belum ada data keamanan jangka panjang.

  3. Warfarin / antikoagulan oral

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Daun katuk kaya vitamin K, dapat menurunkan efektivitas warfarin. Lakukan monitoring INR secara ketat jika dikonsumsi bersamaan, dan hindari konsumsi berlebihan.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+7)

VI. Efek Samping Katuk

Konsumsi daun katuk (Sauropus androgynus) dalam jumlah berlebihan atau dalam bentuk ekstrak mentah/jus segar telah dikaitkan dengan efek samping serius pada sistem pernapasan, terutama kondisi yang dikenal sebagai bronkiolitis obliterans. Kasus-kasus keracunan massal di Taiwan dan beberapa negara Asia lainnya menunjukkan bahwa konsumsi jus katuk untuk tujuan penurunan berat badan atau kesehatan dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru yang bersifat obstruktif. Gejala klinis yang sering dilaporkan meliputi batuk kronis, sesak napas yang progresif, dan penurunan kapasitas vital paksa (FVC) yang kadangkala bersifat irreversibel meskipun konsumsi telah dihentikan.

Baca Semua Efek Samping

VII. Studi Klinis & Meta-Analisis Katuk

Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Katuk.

  1. Pengaruh Ekstrak Daun Katuk terhadap Produksi ASI dan Kadar Prolaktin pada Ibu Postpartum: Uji Klinik Acak Terkontrol

    Tahun: 2023
    Temuan:
    Pemberian ekstrak daun katuk meningkatkan volume ASI secara signifikan dibandingkan plasebo pada hari ke-14. Kadar prolaktin serum juga meningkat tanpa efek samping berarti pada ibu dan bayi.
    Tampilkan
  2. Meta-Analisis: Efektivitas Tanaman Herbal Galaktagog, termasuk Sauropus androgynus, terhadap Kecukupan ASI

    Tahun: 2022
    Temuan:
    Galaktagog herbal secara keseluruhan meningkatkan volume ASI secara bermakna. Analisis subkelompok Sauropus androgynus menunjukkan peningkatan volume ASI sekitar 62 mL/hari dibandingkan kontrol.
    Tampilkan
  3. Efek Lactagog Ekstrak Etanol Daun Katuk pada Tikus Laktasi: Kajian Prolaktin, Ekspresi Reseptor Prolaktin, dan Histologi Kelenjar Mammae

    Tahun: 2021
    Temuan:
    Ekstrak daun katuk dosis 400 mg/kgBB meningkatkan produksi susu dan ekspresi reseptor prolaktin pada kelenjar mammae dibandingkan kontrol. Perbaikan histologi berupa peningkatan alveoli dan akumulasi lemak susu juga terlihat.
    Tampilkan

VIII. FAQ Katuk

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Katuk.

Apa saja kandungan fitokimia utama dalam daun katuk (Sauropus androgynus)?
Daun katuk mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid (kaempferol, quercetin, rutin), tanin, saponin, steroid/triterpenoid, dan kumarin. Kandungan yang menonjol antara lain papaverin (alkaloid) dan asam askorbat (vitamin C) yang tinggi. Komponen ini berkontribusi pada aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan laktagogum. (Sumber: Journal of Ethnopharmacology, 2015; International Journal of Pharmacognosy and Phytochemical Research, 2017)
Apakah daun katuk aman dikonsumsi oleh ibu hamil?
Keamanan konsumsi daun katuk pada ibu hamil belum sepenuhnya teruji secara klinis. Secara tradisional digunakan dalam jumlah kecil sebagai sayur, namun beberapa studi menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk dosis tinggi dapat merangsang kontraksi uterus pada hewan percobaan karena efek alkaloid dan saponin. Oleh karena itu, ibu hamil disarankan menghindari konsumsi dalam jumlah besar atau dalam bentuk suplemen pekat. Konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat dianjurkan. (Sumber: Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition, 2002; Phytomedicine, 2006)
Bagaimana efektivitas daun katuk dalam meningkatkan produksi ASI?
Daun katuk secara tradisional dikenal sebagai laktagogum (pemicu ASI). Mekanisme diduga melalui kandungan alkaloid papaverin yang bersifat relaksan otot polos dan meningkatkan aliran darah ke kelenjar susu, serta fitosterol yang menstimulasi hormon prolaktin. Beberapa studi klinis kecil menunjukkan peningkatan volume ASI pada ibu menyusui yang mengonsumsi daun katuk, namun penelitian lebih lanjut dengan desain double-blind masih diperlukan. Konsumsi dalam bentuk sayur rebus sebanyak 100-200 gram per hari dianggap aman. (Sumber: Journal of Chinese Medicine, 2000; American Journal of Clinical Nutrition, 2013)
Apa efek samping yang mungkin timbul akibat konsumsi daun katuk berlebihan?
Konsumsi daun katuk dalam jumlah sangat besar atau jangka panjang dilaporkan dapat menyebabkan efek toksik pada paru-paru, yaitu bronkiolitis obliterans (penyempitan saluran napas kecil). Kasus ini terutama terjadi pada pengguna yang mengonsumsi jus daun katuk mentah dalam dosis tinggi (sekitar 200-500 gram per hari) dalam program penurunan berat badan di Taiwan dan Jepang. Efek samping lain meliputi gangguan pencernaan (mual, diare) dan potensi hepatotoksisitas pada dosis ekstrem. Oleh karena itu, konsumsi wajar sebagai sayur (porsi normal) tidak menimbulkan risiko signifikan. (Sumber: Thorax, 1996; Toxicology Letters, 2007)
Apakah daun katuk aman untuk bayi dan anak-anak?
Daun katuk umumnya dikonsumsi sebagai bagian dari MPASI (makanan pendamping ASI) dalam jumlah kecil dan sudah dimasak. Namun, pemberian langsung pada bayi di bawah 6 bulan tidak dianjurkan karena saluran cerna masih sensitif. Pada anak-anak, penggunaan dalam porsi sayur biasa dianggap aman. Hindari pemberian ekstrak pekat atau jus mentah karena risiko toksisitas paru. Tidak ada studi spesifik tentang keamanan pada populasi ini, sehingga sebaiknya konsultasi dengan dokter anak. (Sumber: World Health Organization – Monograf Tanaman Obat, 2009; Jurnal Kesehatan Anak, 2018)
Apakah daun katuk bermanfaat untuk penderita diabetes atau kolesterol tinggi?
Beberapa studi pada hewan dan in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun katuk memiliki efek hipoglikemik (menurunkan gula darah) melalui penghambatan enzim α-glukosidase dan peningkatan sensitivitas insulin. Aktivitas antioksidan dari flavonoid juga membantu menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Namun, bukti klinis pada manusia masih terbatas. Penderita diabetes atau hiperkolesterolemia tidak boleh menggantikan obat tanpa konsultasi dokter. Konsumsi sebagai sayur dalam diet seimbang dapat memberikan kontribusi positif. (Sumber: Journal of Natural Medicines, 2013; Phytotherapy Research, 2014)
Bagaimana cara pengolahan daun katuk yang tepat agar nutrisi tetap terjaga dan toksisitas terminimalkan?
Daun katuk sebaiknya dimasak (direbus, ditumis, atau dikukus) daripada dikonsumsi mentah. Pemanasan dapat mengurangi kadar alkaloid yang berpotensi toksik sekaligus meningkatkan bioavailabilitas beberapa senyawa. Merebus dalam air mendidih selama 5-10 menit dan membuang air rebusan pertama dapat menurunkan kandungan saponin dan oksalat. Untuk mempertahankan vitamin C, sebaiknya proses pemasakan tidak terlalu lama. Jus mentah atau ekstrak pekat tidak dianjurkan. (Sumber: Journal of Food Science and Technology, 2015; Food Chemistry, 2018)

Jambu Biji

Psidium guajava

Pepaya

Carica papaya

Cari: