Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Pengaruh Ekstrak Daun Katuk terhadap Produksi ASI dan Kadar Prolaktin pada Ibu Postpartum: Uji Klinik Acak Terkontrol

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    72 ibu postpartum usia 20–35 tahun; 36 mendapat ekstrak katuk dan 36 mendapat plasebo.
    Dosis/Durasi:
    Kapsul ekstrak etanol daun katuk 300 mg tiga kali sehari selama 14 hari.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak daun katuk meningkatkan volume ASI secara signifikan dibandingkan plasebo pada hari ke-14. Kadar prolaktin serum juga meningkat tanpa efek samping berarti pada ibu dan bayi.
  2. Meta-Analisis: Efektivitas Tanaman Herbal Galaktagog, termasuk Sauropus androgynus, terhadap Kecukupan ASI

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    14 studi acak terkontrol dengan total 1.276 ibu menyusui; 3 studi di antaranya menggunakan katuk.
    Dosis/Durasi:
    Variasi dosis, umumnya ekstrak katuk 300–600 mg/hari selama 7–14 hari.
    Temuan:
    Galaktagog herbal secara keseluruhan meningkatkan volume ASI secara bermakna. Analisis subkelompok Sauropus androgynus menunjukkan peningkatan volume ASI sekitar 62 mL/hari dibandingkan kontrol.
  3. Efek Lactagog Ekstrak Etanol Daun Katuk pada Tikus Laktasi: Kajian Prolaktin, Ekspresi Reseptor Prolaktin, dan Histologi Kelenjar Mammae

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 tikus Sprague-Dawley betina laktasi hari ke-1 sampai ke-20, dibagi 5 kelompok: kontrol, 3 dosis ekstrak, dan domperidon.
    Dosis/Durasi:
    100, 200, dan 400 mg/kgBB/hari secara oral selama 20 hari laktasi.
    Temuan:
    Ekstrak daun katuk dosis 400 mg/kgBB meningkatkan produksi susu dan ekspresi reseptor prolaktin pada kelenjar mammae dibandingkan kontrol. Perbaikan histologi berupa peningkatan alveoli dan akumulasi lemak susu juga terlihat.
  4. Perbandingan Senyawa Bioaktif dan Aktivitas Antioksidan Daun Katuk (Sauropus androgynus) pada Berbagai Metode Pengeringan

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Studi eksperimental laboratorium
    Sampel:
    Daun katuk segar dari perkebunan di Jawa Tengah; perlakuan pengeringan matahari, oven, dan freeze-drying dengan tiga ulangan.
    Dosis/Durasi:
    Tidak berlaku, karena merupakan studi in vitro ekstrak.
    Temuan:
    Freeze-drying mempertahankan total fenolik, flavonoid, dan aktivitas antioksidan DPPH terbaik dibandingkan metode lain. Pengeringan matahari menurunkan kadar vitamin C dan beta-karoten secara signifikan.
  5. Aktivitas Antidiabetes Ekstrak Etanol Daun Katuk pada Tikus Diabetes Tipe 2 yang Diinduksi Diet Tinggi Lemak dan Streptozotosin

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    36 tikus Wistar jantan diabetes tipe 2, dibagi 6 kelompok: normal, kontrol negatif, 3 dosis ekstrak, dan metformin.
    Dosis/Durasi:
    200 dan 400 mg/kgBB/hari secara oral selama 28 hari.
    Temuan:
    Ekstrak daun katuk dosis 400 mg/kgBB menurunkan glukosa darah puasa sekitar 38% dan memperbaiki sensitivitas insulin. Trigliserida dan LDL juga turun secara signifikan setelah 28 hari pemberian.
  6. Efek Antiinflamasi Ekstrak Daun Katuk terhadap Edema Kaki dan Kadar Sitokin Proinflamasi pada Tikus Model Inflamasi Akut

    Tahun:
    2024
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    32 tikus Wistar jantan (200–250 g), diinduksi karagenan 1%, dibagi 4 kelompok perlakuan.
    Dosis/Durasi:
    100, 200, dan 400 mg/kgBB per oral, diberikan selama 7 hari sebelum induksi karagenan.
    Temuan:
    Ekstrak daun katuk 400 mg/kgBB menurunkan edema kaki pada jam ke-3 dan ke-5 secara signifikan. Kadar TNF-α dan IL-6 serum juga menurun, sebanding dengan natrium diklofenak.
  7. Uji Toksisitas Subkronik Ekstrak Etanol Daun Katuk terhadap Fungsi Hati dan Ginjal Tikus Wistar

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi toksikologi in vivo
    Sampel:
    60 tikus Wistar (30 jantan, 30 betina) sesuai pedoman OECD 408, dibagi 4 kelompok dosis.
    Dosis/Durasi:
    250, 500, dan 1.000 mg/kgBB/hari secara oral selama 90 hari.
    Temuan:
    Ekstrak daun katuk hingga dosis 1.000 mg/kgBB/hari selama 90 hari tidak menyebabkan peningkatan bermakna enzim hati ALT/AST dan kreatinin serum. Perubahan histopatologi hati dan ginjal pada dosis tertinggi bersifat ringan dan reversibel.
  8. Penapisan In Silico Senyawa Bioaktif Daun Katuk sebagai Kandidat Inhibitor Enzim α-Glukosidase dan PTP-1B

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi in silico
    Sampel:
    30 senyawa metabolit sekunder daun katuk hasil identifikasi LC-MS/MS; dianalisis menggunakan molecular docking terhadap α-glukosidase dan PTP-1B.
    Dosis/Durasi:
    Tidak berlaku, karena merupakan studi in silico.
    Temuan:
    Kuersetin 3-glukosida dan kaempferol-3-rutinosida dari daun katuk memiliki energi ikatan lebih rendah daripada akarbosa dan menghambat α-glukosidase secara kompetitif. Interaksi dengan residu katalitik PTP-1B mendukung aktivitas antidiabetes.

Advertisement


Studi Klinis Lainnya

  1. Katuk dan Anemia

    Penilitian Katuk (Sauropus androgynus) untuk Anemia:

Cari: