Advertisement
Chrysanthemum indicum, yang dikenal luas sebagai Ju Hua dalam pengobatan tradisional Tiongkok, merupakan spesies krisan liar yang telah digunakan selama ribuan tahun. Tumbuhan herba tahunan ini berasal dari wilayah Asia Timur, termasuk Tiongkok, Jepang, dan Korea. Ciri khasnya adalah bunga majemuk berwarna kuning cerah dengan bagian tengah yang menonjol, serta daun yang berlekuk dalam dan beraroma khas. Dalam sistem botani, Ju Hua termasuk dalam famili Asteraceae dan sering dibedakan dari spesies krisan budidaya karena ukuran bunganya yang lebih kecil serta kandungan senyawa aktif yang lebih pekat.
Advertisement
Secara farmakologis, Ju Hua dikenal sebagai tanaman obat yang memiliki sifat antiinflamasi, antipiretik, dan antioksidan. Kandungan utama seperti flavonoid (misalnya luteolin dan quercetin), krisantemin, serta minyak atsiri (termasuk kamfor dan borneol) berperan dalam menurunkan panas tubuh, meredakan sakit kepala, serta mengatasi mata merah dan penglihatan kabur yang kerap dikaitkan dengan kelebihan "api hati" menurut konsep pengobatan tradisional. Penelitian modern juga menunjukkan bahwa ekstrak C. indicum mampu menghambat pertumbuhan bakteri tertentu dan memiliki aktivitas perlindungan terhadap sel hati, sehingga relevan digunakan sebagai terapi pendukung gangguan peradangan.
Dalam praktik klinis, Ju Hua biasanya diseduh sebagai teh herbal atau direbus bersama ramuan lain untuk mengatasi gejala flu, demam, hipertensi ringan, serta gangguan penglihatan. Meskipun tergolong aman, penggunaannya perlu hati-hati pada individu dengan alergi serbuk sari atau mereka yang mengonsumsi obat penekan sistem imun. Tanaman ini juga kerap dibudidayakan sebagai tanaman hias, namun varietas yang digunakan untuk pengobatan tetap mengutamakan spesies liar dengan kandungan senyawa aktif yang optimal. Dengan demikian, Ju Hua tidak hanya menjadi warisan budaya medis, tetapi juga objek kajian ilmiah kontemporer yang terus berkembang.
Manfaat Chrysanthemum Flower / Ju Hua untuk kesehatan.
Menghambat aktivasi NF-κB dan menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, serta sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α dan IL-6 melalui modulasi jalur MAPK/ERK. Flavonoid luteolin dan apigenin menghambat fosforilasi IκB dan translokasi NF-κB ke nukleus.
Mengaktifkan jalur Nrf2/ARE sehingga meningkatkan ekspresi enzim antioksidan seperti SOD, katalase, dan GPx. Senyawa flavonoid dan asam fenolik juga berperan sebagai peredam radikal bebas langsung (DDPH, ABTS) dan pengkhelat logam transisi.
Flavonoid dan minyak atsiri (kamfer, borneol) merusak membran bakteri melalui interaksi dengan lipid bilayer, menyebabkan kebocoran ion dan lisis sel. Pada jamur, senyawa ini menghambat sintesis ergosterol dan mengganggu integritas membran.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Chrysanthemum Flower / Ju Hua.