Advertisement
Pala (Myristica fragrans) adalah tumbuhan rempah asli Kepulauan Banda, Maluku, yang telah dikenal sejak abad pertengahan sebagai salah satu komoditas paling berharga di dunia. Tanaman ini termasuk dalam famili Myristicaceae dan dapat tumbuh hingga setinggi 20 meter. Daunnya berbentuk lonjong dengan tepi rata, sementara buahnya berupa buah batu (drupa) berwarna kuning pucat ketika matang. Keunikan utama pala terletak pada bijinya yang dilapisi fuli (selaput biji berwarna merah terang) — keduanya menghasilkan aroma dan rasa khas yang dijadikan rempah.
Pala asli dari Kepulauan Banda, Maluku. Tanaman ini suka banget tumbuh di daerah tropis yang lembap, tanah yang gembur dan kaya bahan organik, serta butuh curah hujan yang stabil. Biasanya tumbuh optimal di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Karakteristik/ciri-ciri Pala (Myristica fragrans):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Perawakan | Pohon tinggi yang selalu hijau (evergreen) dengan tajuk berbentuk kerucut atau piramid. |
| Batang | Batang berkayu, tegak, berwarna keabu-abuan, dan punya getah berwarna kemerahan kalau dilukai. |
| Daun | Daunnya tunggal, bentuknya lonjong sampai lanset, teksturnya agak kaku seperti kulit, permukaannya licin mengkilap, dan kalau diremas aromanya wangi khas. |
| Bunga | Bunga pala itu unik, ada bunga jantan dan betina di pohon yang berbeda (dioecious), warnanya kuning pucat dan bentuknya seperti lonceng kecil. |
| Buah | Buah berbentuk bulat atau lonjong mirip buah persik, warnanya kuning saat matang dan akan terbelah dua kalau sudah masak. |
| Biji Dan Fuli | Di dalam buah ada biji keras berwarna cokelat (pala) yang dibungkus oleh selaput merah yang bercabang-cabang (fuli atau mace). |
8 Manfaat Pala untuk kesehatan.
Ekstrak pala dan senyawa aktifnya (myristicin, elemicin, eugenol) menghambat aktivitas enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan lipoksigenase (LOX), menurunkan produksi prostaglandin E2 (PGE2) dan leukotrien. Selain itu, senyawa ini menekan aktivasi faktor transkripsi NF-κB, sehingga mengurangi ekspresi sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IL-1β, dan IL-6. Efek ini dimediasi pula melalui penghambatan jalur MAPK (p38, ERK) dan aktivasi Nrf2 yang meningkatkan enzim antioksidan endogen.
Minyak atsiri pala dan komponen utamanya (safrole, eugenol, isoeugenol) merusak integritas membran sel mikroba dengan mengganggu potensial membran dan meningkatkan permeabilitas, menyebabkan kebocoran ion dan molekul intraseluler. Senyawa ini juga menghambat sintesis dinding sel bakteri (terutama Gram-positif) dan mengganggu fungsi enzim esensial seperti ATPase bakteri serta polimerisasi biofilm. Aktivitas antijamur terjadi melalui inhibisi ergosterol dan sintesis glukan pada dinding sel jamur.
Senyawa fenolik dan fenilpropanoid dalam pala (myristicin, elemicin, lignan macelignan) bertindak sebagai donor hidrogen dan peredam radikal bebas (ROS, RNS) melalui mekanisme transfer elektron. Mereka juga meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GPx) dengan mengaktifkan jalur Nrf2/ARE. Selain itu, senyawa ini mengkelat ion logam transisi (Fe²⁺, Cu²⁺) sehingga menghambat reaksi Fenton dan produksi radikal hidroksil.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Pala.
Interaksi & Kontraindikasi Pala dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.
Pala (Myristica fragrans) sering digunakan sebagai rempah kuliner dan obat tradisional, namun konsumsi dalam dosis berlebih dapat menimbulkan efek samping toksik yang serius. Toksisitas pala terutama disebabkan oleh kandungan senyawa fenilpropana seperti miristisin (myristicin), elemisin, dan safrol. Ketika dikonsumsi dalam jumlah besar (biasanya melebihi 5 gram atau sekitar satu sendok teh bubuk pala), senyawa-senyawa ini dimetabolisme di dalam hati menjadi zat halusinogenik yang mirip dengan amfetamin. Hal ini dapat menyebabkan berbagai gejala neurologis akut termasuk halusinasi visual dan auditori, pusing parah, kecemasan ekstrim, kebingungan, disorientasi, serta rasa takut akan kematian yang akan datang (impending doom).
Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Pala.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Pala.