Beluntas

Pluchea indica | Pluchea indica
Beluntas
Nama
Beluntas (Pluchea indica)
Nama Latin/Ilmiah
Pluchea indica
Bagian Digunakan
Daun
Rasa
Pahit

Nama Lain
Beluntas (Indonesia), beluntas (Malaysia), khom (Thailand), saboy (Filipina), cúc tần (Vietnam)
Asal
Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina
Kandungan Utama
Flavonoid, minyak atsiri, alkaloid, tanin, saponin

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Beluntas

Beluntas (Pluchea indica) adalah tumbuhan perdu yang banyak ditemukan di daerah tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tanaman ini tumbuh subur di tepi pantai, ladang, atau pekarangan dengan ketinggian hingga 2 meter. Daunnya bergerigi, berbau khas, dan sering dimanfaatkan sebagai lalapan atau obat tradisional. Nama daerahnya beragam, seperti baluntas (Jawa), beluntas (Sunda), dan luntas (Madura), yang mencerminkan penyebarannya yang luas di Nusantara.

Baca Lebih Lanjut
Update: 15 Agu 2026 - 20:42:22
 

II. Ciri-ciri Beluntas

Tumbuh subur di tempat terbuka, sering ditemukan di daerah pesisir pantai, tanah bergaram, atau sebagai tanaman pagar. Sangat bandel karena tahan terhadap kondisi tanah yang kurang subur. Karakteristik/ciri-ciri Beluntas (Pluchea indica):

Bagian Ciri-Ciri
Perawakan Semak tegak yang bisa tumbuh sampai 2 meter, punya banyak cabang yang rapat.
Batang Berkayu, bulat, bercabang banyak, dan permukaannya beralur halus dengan warna cokelat kusam.
Daun Berbentuk bulat telur dengan ujung agak runcing, pinggirannya bergerigi tajam, teksturnya agak kaku dan berbau khas aromatik kalau diremas.
Bunga Bunga majemuk yang muncul di ujung batang atau ketiak daun, bentuknya seperti bonggol kecil berwarna ungu muda atau putih.
Akar Sistem perakaran tunggang yang cukup kuat untuk menopang batang semak.

III. Manfaat Beluntas

8 Manfaat Beluntas untuk kesehatan.

  1. Anti-inflammatory and Joint Pain (Osteoarthritis)

    Inhibition of COX-2, iNOS, and NF-κB pathways; downregulation of pro-inflammatory cytokines (TNF-α, IL-6, IL-1β); reduction of prostaglandin E2 (PGE2) synthesis.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Luteolin, Asam Kafeat
    Tampilkan
  2. Antimicrobial Activity

    Disruption of bacterial cell membrane integrity; inhibition of biofilm formation; interference with nucleic acid synthesis via topoisomerase inhibition (in vitro evidence).

    Senyawa Aktif: Pluchealactone, Chlorogenic Acid, β-Caryophyllene
    Tampilkan
  3. Antioxidant

    Scavenging of free radicals (DPPH, ABTS, superoxide); upregulation of endogenous antioxidant enzymes (SOD, CAT, GPx) via Nrf2 pathway activation.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Kaempferol, Apigenin
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Beluntas

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Beluntas.

  1. Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antiinflamasi, Antikanker (in Vitro).
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi, Antiproliferatif, Neuroprotektif (in Vitro Dan In Vivo).
    Tampilkan
  3. Golongan: Terpenoid
    Bagian Tanaman: Daun (minyak atsiri)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi (agonis Reseptor CB2), Analgesik, Gastroprotektif.
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Beluntas

Interaksi & Kontraindikasi Beluntas dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Kehamilan

    Tingkat Resiko: Tinggi
    Rekomendasi:
    Hindari penggunaan beluntas selama kehamilan karena berpotensi merangsang kontraksi uterus dan meningkatkan risiko keguguran.

  2. Penggunaan pada penderita Gangguan ginjal berat

    Tingkat Resiko: Tinggi
    Rekomendasi:
    Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan beluntas. Efek diuretiknya dapat memperburuk fungsi ginjal dan menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit.

  3. Penggunaan bersamaan dengan Obat antidiabetes (metformin, insulin)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Pantau kadar gula darah secara teratur karena beluntas dapat meningkatkan efek penurunan gula darah dan berisiko hipoglikemia.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+7)

VI. Efek Samping Beluntas

Daun beluntas (Pluchea indica) umumnya dikenal sebagai tanaman herbal tradisional yang sering dikonsumsi sebagai lalapan atau diolah menjadi jamu untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan seperti bau badan, gangguan pencernaan, dan meredakan nyeri rematik. Meskipun kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol yang bertindak sebagai antioksidan, konsumsi beluntas dalam jumlah berlebihan atau tanpa pengolahan yang tepat tetap dapat memicu beberapa efek samping ringan pada saluran pencernaan. Beberapa individu melaporkan gejala mual, rasa tidak nyaman di lambung, hingga peningkatan asam lambung setelah mengonsumsi ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi tinggi, terutama bagi mereka yang memiliki lambung sensitif.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Beluntas

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Beluntas.

Apa saja kandungan fitokimia utama dalam daun Beluntas (Pluchea indica)?
Daun Beluntas mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid (misalnya quercetin, kaempferol), alkaloid, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, dan minyak atsiri (terutama α-pinene, limonene). Kandungan ini berkontribusi pada aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan antimikroba. Sumber: Jurnal Farmasi Indonesia, 2018, 15(2), 100-110.
Bagaimana cara konsumsi Beluntas yang aman untuk penggunaan sehari-hari?
Beluntas dapat dikonsumsi sebagai lalapan segar, direbus sebagai sayur, atau diseduh sebagai teh. Untuk teh, gunakan 3-5 lembar daun segar atau 1-2 gram daun kering yang diseduh dengan air panas selama 5-10 menit. Konsumsi maksimal 2-3 cangkir per hari. Pastikan daun dicuci bersih untuk menghindari kontaminasi. Sumber: Pedoman Tanaman Obat Indonesia, Badan POM RI, 2020.
Apakah Beluntas bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah?
Ekstrak etanol daun Beluntas terbukti menurunkan kadar glukosa darah pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin, karena aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dan peningkatan sensitivitas insulin. Namun, uji klinis pada manusia masih terbatas. Penderita diabetes disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya. Sumber: Journal of Ethnopharmacology, 2019, 245, 112-119.
Apa efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi Beluntas?
Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan hipotensi (tekanan darah turun), gangguan pencernaan ringan seperti mual atau diare, dan reaksi alergi pada individu sensitif. Kandungan alkaloid dalam dosis tinggi berpotensi toksik. Hentikan penggunaan jika muncul gejala tidak biasa. Sumber: Pharmaceutical Biology, 2016, 54(6), 1031-1038.
Apakah Beluntas aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Beluntas tidak dianjurkan untuk ibu hamil karena efek uterotonik dari senyawa aktifnya yang dapat merangsang kontraksi rahim dan berisiko keguguran. Untuk ibu menyusui, keamanannya belum diteliti secara memadai, sehingga sebaiknya dihindari. Sumber: WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Vol. 4, 2009.
Bisakah Beluntas diberikan kepada bayi atau anak-anak?
Tidak ada data keamanan yang cukup untuk penggunaan Beluntas pada bayi dan anak-anak. Karena potensi efek samping dan toksisitas, pemberian sebagai obat herbal tidak disarankan. Untuk penggunaan sebagai sayuran dalam jumlah kecil pada anak di atas 2 tahun dapat dipertimbangkan setelah konsultasi dokter. Sumber: Pediatrics Review, 2014, 35(7), 295-302.
Apakah Beluntas dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu?
Beluntas berpotensi berinteraksi dengan obat antihipertensi (karena efek hipotensi sinergis), obat antidiabetes (meningkatkan risiko hipoglikemia), dan obat antikoagulan (karena kandungan flavonoid yang dapat mempengaruhi agregasi trombosit). Selalu informasikan penggunaan herbal kepada tenaga medis. Sumber: Drug Interactions with Herbal Medicines, CRC Press, 2017.
Berapa dosis yang disarankan untuk penggunaan Beluntas sebagai obat herbal?
Tidak ada dosis standar resmi. Penggunaan tradisional: 5-10 gram daun segar direbus dalam 200 ml air, diminum 1-2 kali sehari. Ekstrak kering 500-1000 mg per hari. Mulai dengan dosis rendah dan perhatikan respons tubuh. Konsultasi dengan ahli herbal atau dokter sangat dianjurkan. Sumber: Herbal Medicine: Biomolecular and Clinical Aspects, 2nd ed., CRC Press, 2011.

Daun Encok

Plumbago zeylanica

Serai Wangi

Cymbopogon nardus

Cari: