• Herbapedia.id

Epazote

Dysphania ambrosioides

Info

Nama: Epazote
Nama Ilmiah: Dysphania ambrosioides
Famili: Amaranthaceae

Nama Lain:
Paico (Peru), apazote (Guatemala), Mexican tea (Inggris), wormseed (Amerika Serikat), herbe à vers (Prancis)
Asal:
Meksiko, Amerika Tengah, Amerika Selatan
Bagian Utama:
Daun dan Batang Muda
Rasa:
Pungent, earthy, and slightly bitter

Advertisement


I. Tentang Epazote

Dysphania ambrosioides, yang lebih dikenal sebagai epazote, adalah tumbuhan herba tahunan dari famili Amaranthaceae yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional dan kuliner, terutama di Meksiko dan wilayah Andean. Epazote memiliki aroma khas yang kuat, sering digambarkan sebagai perpaduan antara mint, jeruk, dan minyak tanah, sehingga mudah dikenali. Daunnya yang bergerigi dan berwarna hijau tua mengandung senyawa aktif seperti ascaridole, limonene, dan p-cymene, yang memberikan sifat karminatif dan antiparasit. Di alam liar, epazote tumbuh liar di lahan terbuka, tepi sungai, dan area terganggu, menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi tanah dan iklim.

Advertisement

Dalam dunia kuliner, epazote digunakan sebagai bumbu penyedap, terutama untuk masakan kacang-kacangan seperti frijoles de olla atau sopa de frijol. Daun segar atau kering ditambahkan untuk mengurangi efek flatulensi dari kacang hitam, kacang pinto, atau kedelai. Selain itu, epazote juga dipakai dalam hidangan tradisional Meksiko seperti chiles rellenos, quesadillas, dan berbagai sajian berbasis telur. Aromanya yang kuat membuatnya hanya perlu digunakan dalam jumlah sedikit, karena jika berlebihan dapat mendominasi rasa masakan. Di luar Meksiko, penggunaan epazote masih relatif terbatas, namun mulai dikenal di kalangan pecinta kuliner etnik dan komunitas diaspora Amerika Latin.

Aspek medis dari epazote patut mendapat perhatian karena kandungan ascaridole-nya yang bersifat toksik terhadap parasit usus, terutama cacing gelang dan cacing kait. Ekstrak atau teh epazote secara tradisional digunakan sebagai obat cacing, namun harus dengan dosis yang hati-hati karena ascaridole dalam jumlah besar dapat menyebabkan keracunan pada manusia, termasuk mual, muntah, dan gangguan saraf. Penelitian modern menunjukkan bahwa epazote juga memiliki aktivitas antijamur, antioksidan, dan antimikroba. Meskipun demikian, penggunaan untuk pengobatan mandiri sangat tidak disarankan tanpa pengawasan ahli, mengingat potensi toksisitasnya. Secara keseluruhan, Dysphania ambrosioides adalah tanaman multifungsi yang kaya akan sejarah budaya dan potensi farmakologis, namun memerlukan kehati-hatian dalam pemanfaatannya.

Update: 28 Jul 2026 - 01:54:16

 

II. Manfaat Epazote

Manfaat Epazote untuk kesehatan.

  1. Aktivitas Antioksidan

    Senyawa fenolik dan flavonoid dalam kemangi (seperti asam rosmarinat, apigenin, dan luteolin) mendonorkan elektron untuk menetralkan radikal bebas, meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen (SOD, katalase, GPx) melalui aktivasi jalur Nrf2/ARE, serta mengurangi stres oksidatif intraseluler.

    Senyawa Aktif: Asam rosmarinat, Apigenin, Luteolin
    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi dan Nyeri Sendi

    Eugenol dan linalool menghambat aktivasi NF-κB, menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, dan produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-1β, IL-6) melalui jalur MAPK dan PI3K/Akt. Asam rosmarinat juga menghambat lipoxygenase dan siklooksigenase.

    Senyawa Aktif: Eugenol, Linalool, Asam rosmarinat
    Tampilkan
  3. Antimikroba Spektrum Luas (Infeksi Oral dan Saluran Napas)

    Minyak atsiri kemangi (terutama linalool, estragol, dan 1,8-sineol) merusak membran sel bakteri dan jamur, mengganggu potensial membran, serta menginhibisi sintesis ergosterol pada jamur. Juga menghambat adhesi dan pembentukan biofilm Streptococcus mutans dan Candida albicans.

    Senyawa Aktif: Linalool, Estragol (metil chavicol), 1,8-Sineol
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Manfaat

Advertisement

III. Kandungan Epazote

Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Epazote.

  1. Ascaridole

    Golongan: Terpenoid (Monoterpenoid peroksida)
    Bagian Tanaman: Daun, Batang, Biji
    Aktivitas Farmakologis:
    Antelmintik (terutama Terhadap Cacing Gelang Dan Cacing Tambang), Antimalaria, Antioksidan
    Tampilkan
  2. p-cymene

    Golongan: Terpenoid (Monoterpen)
    Bagian Tanaman: Daun, Minyak Atsiri
    Aktivitas Farmakologis:
    Anti-inflamasi, Antimikroba, Analgesik
    Tampilkan
  3. α-terpinene

    Golongan: Terpenoid (Monoterpen)
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antimikroba, Antioksidan, Anti-inflamasi
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Kandungan

IV. Interaksi & Kontraindikasi Epazote

Kehamilan

Tingkat Resiko: Sangat Tinggi
Rekomendasi:
Kontraindikasi mutlak. Epazote bersifat abortifacient dan toksik bagi janin. Hindari penggunaan selama kehamilan. (Referensi: NIH, Drugs and Lactation Database)

Menyusui

Tingkat Resiko: Tinggi
Rekomendasi:
Tidak dianjurkan karena senyawa toksik (ascaridole) dapat diekskresikan ke ASI dan membahayakan bayi. (Referensi: WHO Monographs on Selected Medicinal Plants)

Anak-anak (terutama di bawah 12 tahun)

Tingkat Resiko: Tinggi
Rekomendasi:
Risiko keracunan ascaridole lebih tinggi pada anak. Hindari penggunaan oral. (Referensi: American Academy of Pediatrics, Poison Control Data)
Tampilkan Semua Kontraindikasi

V. FAQ Epazote

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Epazote.

Apa itu epazote dan bagaimana penggunaan sehari-harinya dalam masakan?
Epazote (Dysphania ambrosioides, sebelumnya Chenopodium ambrosioides) adalah herba aromatik yang lazim digunakan dalam masakan Meksiko dan Amerika Tengah untuk membumbui hidangan kacang-kacangan, sup, dan tumisan. Daun segar atau kering ditambahkan saat memasak karena dipercaya dapat mengurangi produksi gas usus yang disebabkan oleh kacang. Secara fitokimia, epazote mengandung senyawa volatil seperti ascaridole, limonene, dan p-cymene (Journal of Agricultural and Food Chemistry, 2004, 52(6), 1731-1735).
Apakah epazote aman dikonsumsi secara rutin dalam jumlah kecil?
Konsumsi epazote dalam jumlah kecil sebagai bumbu masakan umumnya dianggap aman pada orang dewasa sehat. Namun, penggunaan harian dalam dosis besar tidak dianjurkan karena kandungan ascaridole yang bersifat toksik pada dosis tinggi. Minyak atsiri epazote yang mengandung ascaridole dapat menyebabkan iritasi mukosa dan kerusakan hati jika dikonsumsi berlebihan (WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Vol. 2, 2002, hlm. 70-79).
Apa efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi epazote?
Efek samping umumnya terkait dengan dosis tinggi atau penggunaan minyak esensial murni. Gejala dapat meliputi mual, muntah, diare, pusing, sakit kepala, dan dalam kasus overdosis dapat terjadi depresi sistem saraf pusat, kejang, bahkan koma. Senyawa ascaridole bersifat neurotoksik dan hepatotoksik pada dosis besar (Toxicology Reports, 2015, 2, 1171-1178). Penggunaan pada penderita gangguan hati atau ginjal harus dihindari.
Apakah epazote aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Tidak disarankan. Epazote, terutama ekstrak atau minyaknya, bersifat uterotonik dan dapat merangsang kontraksi rahim, sehingga berpotensi menyebabkan keguguran. Ascaridole juga dapat melewati plasenta. Pada ibu menyusui, senyawa aktif dapat terdeteksi dalam ASI dan membahayakan bayi. American Herbal Products Association mengklasifikasikan epazote sebagai herba yang tidak aman selama kehamilan (AHPA Botanical Safety Handbook, 2nd ed., 2013, hlm. 307-308).
Bolehkah epazote diberikan pada bayi dan anak-anak?
Tidak disarankan. Sistem detoksifikasi pada bayi dan anak-anak masih belum matang, sehingga risiko toksisitas lebih tinggi. Beberapa laporan kasus menunjukkan keracunan ascaridole pada anak-anak setelah penggunaan epazote sebagai obat cacing tradisional, yang menyebabkan kejang, gangguan pernapasan, dan kerusakan hati. Dosis aman pada anak belum pernah ditetapkan (Pediatric Emergency Care, 2005, 21(8), 528-530).
Bagaimana epazote digunakan sebagai obat tradisional?
Dalam pengobatan tradisional Amerika Latin, epazote digunakan sebagai antelmintik (obat cacing), terutama untuk mengatasi infeksi cacing gelang dan cacing kremi. Bagian yang digunakan adalah daun segar atau rebusan. Namun, penelitian modern menunjukkan efektivitas antelmintik yang rendah dan risiko toksisitas yang signifikan. Saat ini lebih banyak digunakan secara eksternal sebagai repelen serangga atau antijamur pada kulit. Journal of Ethnopharmacology (2008, 116(3), 461-467) melaporkan aktivitas antimikroba tetapi menekankan batas keamanan yang sempit.
Senyawa aktif apa yang paling berperan dalam efek biologis epazote?
Senyawa utama adalah ascaridole, suatu peroksida terpenoid siklik yang memberikan bau khas dan sebagian besar aktivitas farmakologis maupun toksiknya. Ascaridole bersifat antihelmintik, antimikroba, dan antifungi, tetapi juga oksidan kuat yang dapat merusak sel. Senyawa lain seperti limonene, α-terpinene, dan p-cymene juga berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan dan antiinflamasi (Phytochemistry, 2000, 53(5), 553-557). Konsentrasi ascaridole bervariasi tergantung varietas, lokasi tumbuh, dan waktu panen.
Apakah epazote berinteraksi dengan obat-obatan modern?
Karena efeknya pada enzim hati, epazote berpotensi mempengaruhi metabolisme obat yang dimetabolisme oleh enzim sitokrom P450, khususnya CYP3A4. Hal ini dapat mengubah kadar obat dalam darah, terutama obat dengan indeks terapi sempit (misalnya warfarin, antikonvulsan). Selain itu, sifat diuretik ringan epazote dapat memperkuat efek obat diuretik atau antihipertensi. Data interaksi klinis terbatas, sehingga disarankan konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi suplemen epazote (Natural Medicines Comprehensive Database, 2023).

Lovage

Levisticum officinale

Papalo

Porophyllum ruderale