Salam

Indonesian Bay Leaf | Syzygium polyanthum
Salam
Nama
Salam (Indonesian Bay Leaf)
Nama Latin/Ilmiah
Syzygium polyanthum
Bagian Digunakan
Daun
Rasa
Asam

Nama Lain
Daun salam (Indonesia), Salam leaf (Malaysia), Bai ya (Thailand), Salam blad (Belanda), Indonesian bay leaf (Inggris)
Asal
Indonesia, Malaysia, Thailand
Kandungan Utama
Eugenol, sitronelal, flavonoid, tanin

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Salam

Syzygium polyanthum, yang dikenal luas sebagai daun salam atau Indonesian bay leaf, adalah pohon tropis asli Asia Tenggara, khususnya tumbuh subur di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Berbeda dengan bay leaf Mediterania (Laurus nobilis), daun salam memiliki bentuk lonjong dengan ujung runcing, permukaan licin, dan aroma khas yang lebih lembut. Pohon ini bisa mencapai tinggi 25 meter, dengan batang berkayu dan tajuk rimbun. Daunnya sering digunakan dalam keadaan segar atau kering, namun aroma segarnya lebih dominan. Dalam ekosistem, pohon ini berperan sebagai tanaman peneduh dan habitat bagi burung, serta buahnya yang kecil (beri ungu gelap) menjadi makanan satwa liar.

Baca Lebih Lanjut
Update: 10 Agu 2026 - 08:20:03
 

II. Ciri-ciri Salam

Tumbuh subur di hutan dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian hingga 1.400 mdpl. Suka tempat yang lembap dan banyak disinari matahari. Karakteristik/ciri-ciri Salam (Syzygium polyanthum):

Bagian Ciri-Ciri
Batang Pohonnya bisa tumbuh tinggi mencapai 25 meter, kulit kayunya berwarna abu-abu kecokelatan dan permukaannya agak bersisik.
Daun Berbentuk lonjong atau elips, warnanya hijau tua mengilap, punya aroma khas yang wangi kalau diremas, dan letaknya berpasangan atau berhadapan.
Bunga Bunganya kecil-kecil, berwarna putih atau kekuningan, dan biasanya muncul dalam kelompok (malai) di ketiak daun.
Buah Buah buni berbentuk bulat atau agak gepeng, ukurannya kecil (sekitar 1 cm), warnanya merah gelap sampai ungu kehitaman saat sudah matang.
Akar Memiliki sistem perakaran tunggang yang cukup kuat untuk menopang pohon.

III. Manfaat Salam

8 Manfaat Salam untuk kesehatan.

  1. Antidiabetes

    Ekstrak daun salam meningkatkan sekresi insulin melalui stimulasi sel β pankreas, meningkatkan sensitivitas insulin dengan mengaktivasi jalur AMPK dan PPARγ, serta menghambat enzim α-glukosidase dan α-amilase sehingga memperlambat penyerapan glukosa postprandial. Senyawa flavonoid (kuersetin, mirisetin) bertanggung jawab atas efek ini.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Mirisetin, Asam elagat
    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi pada Osteoarthritis

    Penghambatan enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan lipoksigenase (LOX), serta penurunan produksi sitokin pro-inflamasi TNF-α dan IL-6 melalui jalur NF-κB. Senyawa polifenol seperti kuersetin dan katekin bertindak sebagai inhibitor langsung.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Katekin, Asam Galat
    Tampilkan
  3. Antimikroba (spektrum luas)

    Minyak atsiri dan senyawa fenolik (eugenol, sitronellal) mengganggu integritas membran sel bakteri dengan meningkatkan permeabilitas, menyebabkan kebocoran ion dan kandungan sel. Pada jamur, menghambat sintesis ergosterol. Efek bakterisida pada Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan jamur Candida albicans.

    Senyawa Aktif: Eugenol, Sitronellal, β-Kariofilen
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Salam

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Salam.

  1. Golongan: Fenilpropanoid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antimikroba (bakteri Dan Jamur), Antiinflamasi, Analgesik, Antioksidan.
    Tampilkan
  2. Citronellal

    Golongan: Monoterpenoid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antijamur, Insektisida/repelan Serangga, Antibakteri, Antiinflamasi.
    Tampilkan
  3. Golongan: Monoterpenoid
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi, Bronkodilator, Antimikroba, Antiproliferatif.
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Salam

Interaksi & Kontraindikasi Salam dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Penggunaan bersamaan dengan Obat diabetes (insulin, metformin, sulfonilurea)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Daun salam memiliki efek hipoglikemik. Kombinasi dengan obat diabetes dapat meningkatkan risiko hipoglikemia. Pantau gula darah secara ketat dan konsultasikan dengan dokter sebelum penggunaan bersamaan.

  2. Penggunaan bersamaan dengan Obat antihipertensi (ACE inhibitor, beta blocker, CCB)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Daun salam dapat menurunkan tekanan darah. Penggunaan bersama obat antihipertensi berpotensi menyebabkan hipotensi. Disarankan pemantauan tekanan darah rutin dan penyesuaian dosis jika diperlukan.

  3. Diuretik (furosemide, hidroklorotiazid)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Efek diuretik ringan daun salam dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit saat digunakan dengan diuretik. Perhatikan asupan cairan dan konsultasi medis.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+5)

VI. Efek Samping Salam

Daun salam (Syzygium polyanthum) umumnya dikenal aman bila digunakan sebagai bumbu makanan atau teh herbal dalam dosis sedang. Namun, konsumsi ekstrak pekat atau dosis tinggi dapat menimbulkan efek samping yang perlu diwaspadai. Efek yang paling sering dilaporkan adalah hipoglikemia berlebihan, terutama bila digunakan bersamaan dengan obat antidiabetes. Hal ini terjadi karena ekstrak daun salam meningkatkan aktivitas insulin dan pengambilan glukosa oleh sel, sehingga kadar gula darah dapat turun drastis dan menyebabkan lemas, keringat dingin, pusing, gemetar, hingga pingsan.

Baca Semua Efek Samping

VII. Studi Klinis & Meta-Analisis Salam

Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Salam.

  1. Meta-Analisis Efektivitas Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) terhadap Penurunan Glukosa Darah pada Diabetes Melitus Tipe 2

    Tahun: 2023
    Temuan:
    Meta-analisis menunjukkan penurunan glukosa darah puasa yang bermakna secara statistik pada kelompok yang diberi ekstrak daun salam dibandingkan kontrol. Namun, heterogenitas antarlokasi cukup tinggi dan efek terhadap HbA1c masih memerlukan studi lebih lanjut.
    Tampilkan
  2. Uji Klinis Acak Terkendali Ekstrak Daun Salam terhadap Kadar HbA1c dan Profil Lipid pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

    Tahun: 2022
    Temuan:
    Ekstrak daun salam 500 mg tiga kali sehari selama 12 minggu menurunkan HbA1c dan LDL-kolesterol secara signifikan dibandingkan plasebo. Tidak ditemukan efek samping serius selama intervensi.
    Tampilkan
  3. Aktivitas Antihiperglikemik dan Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Salam pada Tikus Wistar Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin

    Tahun: 2021
    Temuan:
    Ekstrak etanol daun salam menurunkan kadar glukosa darah puasa dan meningkatkan aktivitas enzim superoksida dismutase. Pemberian dosis 400 mg/kgBB memiliki efek hampir setara dengan glibenklamid 0,5 mg/kgBB.
    Tampilkan

VIII. FAQ Salam

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Salam.

Apa saja kandungan fitokimia utama dalam daun salam (Syzygium polyanthum)?
Daun salam mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid (kuersetin, mirisetin), tanin, alkaloid, saponin, triterpenoid, dan minyak atsiri (eugenol, sitral). Kandungan ini bertanggung jawab atas aktivitas antioksidan, antidiabetes, dan antimikroba. Sumber: Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 2018; 16(1): 45-52.
Apakah daun salam aman dikonsumsi setiap hari sebagai bumbu masak?
Penggunaan daun salam sebagai bumbu masak dalam jumlah wajar (1-2 lembar per hidangan) umumnya aman untuk orang dewasa sehat. Namun, konsumsi ekstrak pekat atau suplemen dosis tinggi dalam jangka panjang belum diteliti secara memadai. Badan POM RI menyatakan daun salam termasuk bahan alami yang aman sebagai bumbu (PerKa BPOM No. 13/2016).
Bagaimana efek daun salam terhadap kadar gula darah?
Ekstrak daun salam terbukti menghambat enzim α-glukosidase dan meningkatkan sensitivitas insulin, sehingga membantu menurunkan gula darah postprandial pada penderita diabetes tipe 2. Uji klinis pada 20 pasien diabetes menunjukkan penurunan HbA1c setelah 30 hari konsumsi 3 gram bubuk daun salam per hari. Sumber: Journal of Ethnopharmacology, 2016; 192: 596-602.
Apakah ibu hamil dan menyusui boleh mengonsumsi daun salam?
Penggunaan daun salam sebagai bumbu masak dianggap aman selama kehamilan dan menyusui dalam jumlah normal. Namun, konsumsi ekstrak pekat atau rebusan kental tidak disarankan karena kurangnya data keamanan pada janin dan bayi. Beberapa senyawa seperti eugenol dosis tinggi dapat merangsang kontraksi rahim. Sumber: Drug Safety in Pregnancy & Lactation, 2020.
Bisakah daun salam digunakan untuk bayi atau anak-anak?
Daun salam sebagai bumbu masak dalam jumlah normal aman untuk anak di atas 1 tahun. Untuk tujuan pengobatan (misalnya mengatasi kolik atau diare), rebusan daun salam dosis rendah (1-2 lembar dalam 200 ml air) dapat diberikan pada anak di atas 2 tahun dengan pengawasan dokter. Hindari penggunaan pada bayi di bawah 6 bulan karena sistem pencernaannya belum matang. Sumber: Pedoman Herbal untuk Anak, Kementerian Kesehatan RI, 2017.
Apa efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi daun salam?
Efek samping jarang terjadi pada penggunaan wajar. Beberapa laporan menyebutkan gangguan pencernaan ringan (mual, diare) jika dikonsumsi berlebihan. Ekstrak pekat dapat menyebabkan iritasi lambung atau reaksi alergi pada individu sensitif. Tidak ada toksisitas akut yang dilaporkan pada dosis lazim. Sumber: WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, 2009.
Bagaimana cara menggunakan daun salam untuk obat tradisional sehari-hari?
Daun salam sering direbus untuk diminum sebagai teh herbal. Caranya: rebus 5-7 lembar daun salam segar dalam 300 ml air hingga tersisa 200 ml, minum 1-2 kali sehari. Ramuan ini digunakan tradisional untuk mengatasi batuk, diare, atau menurunkan kolesterol. Untuk penggunaan luar, daun segar ditumbuk dan ditempel pada luka atau gigitan serangga. Sumber: Tanaman Obat Indonesia, IPB Press, 2015.
Apakah daun salam dapat menurunkan kolesterol?
Studi pada hewan menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun salam dosis 200 mg/kgBB mampu menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan LDL pada tikus hiperkolesterolemia. Mekanisme diduga melalui penghambatan enzim HMG-KoA reduktase dan peningkatan ekskresi asam empedu. Uji klinis pada manusia masih terbatas. Sumber: BMC Complementary and Alternative Medicine, 2015; 15: 118.

Tarragon

Artemisia dracunculus

Dafnah

Laurus nobilis

Cari: