
Advertisement
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan varietas botani dari spesies bawang bombay yang terkenal karena kebiasaan pertumbuhannya membentuk rumpun. Berbeda dengan bawang bombay biasa yang membentuk umbi tunggal besar, varietas aggregatum menghasilkan beberapa umbi kecil yang melekat pada pangkal yang sama, sehingga sering disebut sebagai bawang merah siung. Umbi-umbi ini dilapisi kulit tipis berwarna merah keunguan hingga cokelat kemerahan, dengan daging umbi berlapis-lapis putih atau merah muda. Daunnya berbentuk silindris, berongga, dan berwarna hijau, mirip dengan daun bawang pada umumnya. Tanaman ini termasuk famili Amaryllidaceae dan berasal dari Asia Tengah, namun kini dibudidayakan secara luas di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.
Tumbuh paling oke di dataran rendah sampai menengah dengan sinar matahari penuh. Suka tanah yang gembur, subur, dan nggak gampang menggenang air (drainase bagus). Butuh suhu hangat biar umbinya bisa terbentuk dengan sempurna. Karakteristik/ciri-ciri Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Akar | Tipe serabut yang tumbuh dangkal, warnanya putih dan nggak terlalu panjang. |
| Batang | Batang sejati ada di bagian bawah yang berbentuk cakram tipis (disebut diskus). Batang yang terlihat di atas itu sebenarnya cuma pelepah daun yang saling menumpuk. |
| Daun | Bentuknya panjang seperti pipa atau silinder berongga, warnanya hijau segar, dan pangkalnya melebar membentuk lapisan yang melindungi umbi. |
| Umbi | Ini bagian yang paling dicari. Umbinya berlapis-lapis, berwarna merah keunguan, bentuknya bulat agak lonjong, dan tumbuh bergerombol di dalam tanah. |
| Bunga | Bunganya muncul di ujung tangkai yang panjang, bentuknya seperti payung (umbel) dengan kelopak kecil berwarna putih atau merah muda, tapi jarang muncul kalau bawang ditanam khusus untuk diambil umbinya. |
7 Manfaat Bawang Merah untuk kesehatan.
Senyawa flavonoid (quercetin, kaempferol) dan senyawa sulfur organik (diallyl disulfide) dalam bawang merah meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GPx). Quercetin juga secara langsung menangkap radikal bebas (ROS/ RNS) melalui donasi elektron dan mengkhelat ion logam transisi, mengurangi peroksidasi lipid.
Quercetin dan allicin menghambat jalur NF-κB dan MAPK, menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, dan produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-1β, IL-6). Senyawa sulfur juga memodulasi aktivasi Nrf2 sehingga meningkatkan respons anti-inflamasi.
Allicin dan senyawa tiosulfinat lain berinteraksi dengan gugus tiol protein mikroba, menginaktivasi enzim esensial (misal, DNA polimerase, enzim respirasi). Juga mengganggu integritas membran sel dan menghambat pembentukan biofilm.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Bawang Merah.
Interaksi & Kontraindikasi Bawang Merah dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.
Konsumsi Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum) secara umum aman dalam jumlah yang wajar pada makanan, namun dapat menimbulkan berbagai efek samping terutama jika dikonsumsi secara berlebihan atau pada individu yang sensitif. Efek samping gastrointestinal yang paling umum meliputi iritasi pada mukosa lambung, peningkatan produksi asam lambung, mulas (heartburn), dan perut kembung. Senyawa sulfur aktif dan fructan yang terkandung di dalamnya dapat memicu gejala sindrom iritasi usus besar (IBS) pada individu tertentu, menyebabkan kram perut, diare, atau gas berlebih akibat proses fermentasi di dalam usus.
Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Bawang Merah.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Bawang Merah.