• Herbapedia.id

Shallot / Bawang Merah

Allium cepa var. aggregatum
Nama: Shallot / Bawang Merah
Nama Ilmiah: Allium cepa var. aggregatum
Famili: Amaryllidaceae

Kandungan:
Air, karbohidrat, protein, serat, vitamin C, kalium, dan allicin
Nama Lain:
Bawang merah (Indonesia), shallot (Inggris), échalote (Prancis), schalotte (Jerman), scalogno (Italia)
Asal:
Indonesia
Bagian Utama:
Umbi
Rasa:
manis, sedikit pedas

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Shallot / Bawang Merah

Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan varietas botani dari spesies bawang bombay yang terkenal karena kebiasaan pertumbuhannya membentuk rumpun. Berbeda dengan bawang bombay biasa yang membentuk umbi tunggal besar, varietas aggregatum menghasilkan beberapa umbi kecil yang melekat pada pangkal yang sama, sehingga sering disebut sebagai bawang merah siung. Umbi-umbi ini dilapisi kulit tipis berwarna merah keunguan hingga cokelat kemerahan, dengan daging umbi berlapis-lapis putih atau merah muda. Daunnya berbentuk silindris, berongga, dan berwarna hijau, mirip dengan daun bawang pada umumnya. Tanaman ini termasuk famili Amaryllidaceae dan berasal dari Asia Tengah, namun kini dibudidayakan secara luas di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.

Advertisement

Dalam budidaya, bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) dikembangbiakkan terutama secara vegetatif menggunakan umbi bibit. Tanaman ini memerlukan iklim kering dengan sinar matahari penuh serta tanah gembur yang kaya bahan organik. Proses pertumbuhannya relatif cepat, yaitu sekitar 60–90 hari dari tanam hingga panen, tergantung varietas dan kondisi lingkungan. Keunikan bawang merah adalah kemampuannya membentuk umbi ganda, sehingga satu bibit dapat menghasilkan beberapa umbi baru. Selain sebagai bumbu dapur utama, bawang merah juga dimanfaatkan dalam industri pengolahan makanan, seperti bawang goreng, pasta, dan bumbu instan. Kandungan minyak atsiri yang memberikan aroma khas menjadikannya komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Dari segi kandungan gizi, bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) kaya akan senyawa sulfur organik seperti allisin dan quercetin, yang bersifat antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Konsumsi rutin bawang merah dipercaya dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula darah, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dalam pengobatan tradisional, bawang merah sering digunakan sebagai obat demam, batuk, dan pereda nyeri ringan. Karena manfaatnya yang luas, varietas aggregatum menjadi salah satu tanaman hortikultura penting di Indonesia, dengan sentra produksi utama di Jawa, Sumatra, dan Nusa Tenggara. Penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman terhadap hama serta penyakit, seperti ulat bawang dan busuk umbi.

Update: 30 Jul 2026 - 08:04:21

 

II. Manfaat Shallot / Bawang Merah

Manfaat Shallot / Bawang Merah untuk kesehatan.

  1. Antioksidan dan Perlindungan Stres Oksidatif

    Senyawa flavonoid (quercetin, kaempferol) dan senyawa sulfur organik (diallyl disulfide) dalam bawang merah meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GPx). Quercetin juga secara langsung menangkap radikal bebas (ROS/ RNS) melalui donasi elektron dan mengkhelat ion logam transisi, mengurangi peroksidasi lipid.

    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi pada Osteoarthritis dan Nyeri Sendi

    Quercetin dan allicin menghambat jalur NF-κB dan MAPK, menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, dan produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-1β, IL-6). Senyawa sulfur juga memodulasi aktivasi Nrf2 sehingga meningkatkan respons anti-inflamasi.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Allicin, Dipropyl disulfide
    Tampilkan
  3. Antimikroba Spektrum Luas (Bakteri dan Jamur)

    Allicin dan senyawa tiosulfinat lain berinteraksi dengan gugus tiol protein mikroba, menginaktivasi enzim esensial (misal, DNA polimerase, enzim respirasi). Juga mengganggu integritas membran sel dan menghambat pembentukan biofilm.

    Senyawa Aktif: Allicin, Ajoene, Dietil disulfide
    Tampilkan
  4. Antidiabetes (Kontrol Glukosa Darah)

    Quercetin meningkatkan penyerapan glukosa di otot melalui aktivasi AMPK dan GLUT4, serta menghambat α-glukosidase dan α-amilase usus. Allicin juga merangsang sekresi insulin dari sel β pankreas dan meningkatkan sensitivitas insulin.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Allicin, S-metil sistein sulfoksida
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Manfaat

Advertisement

III. Kandungan Shallot / Bawang Merah

Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Shallot / Bawang Merah.

  1. Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Umbi (bulb)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan Kuat; Antiinflamasi (in Vitro Dan Studi Hewan); Antikanker (data In Vitro; Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia)..
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Umbi (bulb)
    Aktivitas Farmakologis:
    Aktivitas Antioksidan; Neuroprotektif (studi Hewan; Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia)..
    Tampilkan
  3. Golongan: Organosulfur
    Bagian Tanaman: Umbi (bulb)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antibakteri Dan Antijamur (in Vitro; Klaim Penurunan Tekanan Darah Dari Studi Hewan; Belum Ada Uji Klinis Konklusif Pada Manusia)..
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Kandungan

IV. Interaksi & Kontraindikasi Shallot / Bawang Merah

Penggunaan bersamaan dengan Obat antikoagulan (warfarin, heparin) atau antiplatelet (aspirin, clopidogrel)

Tingkat Resiko: Tinggi
Rekomendasi:
Hindari konsumsi bawang merah dalam jumlah besar atau suplemennya. Pantau waktu protrombin (INR) secara ketat jika dikonsumsi bersamaan. Konsultasikan dengan dokter.

Penggunaan bersamaan dengan Obat antidiabetes (insulin, sulfonilurea, metformin)

Tingkat Resiko: Sedang
Rekomendasi:
Waspada terhadap hipoglikemia. Pantau kadar gula darah secara teratur. Sesuaikan dosis obat jika perlu di bawah pengawasan dokter.

Penggunaan bersamaan dengan Obat antihipertensi (ACE inhibitor, beta blockers, diuretik)

Tingkat Resiko: Sedang
Rekomendasi:
Bawang merah dapat menurunkan tekanan darah. Pantau tekanan darah secara teratur untuk menghindari hipotensi.
Tampilkan Semua Kontraindikasi

V. FAQ Shallot / Bawang Merah

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Shallot / Bawang Merah.

Apa kandungan fitokimia utama dalam bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) yang bermanfaat bagi kesehatan?
Bawang merah kaya akan senyawa organosulfur seperti allicin, aliin, dan berbagai thiosulfinat yang bertanggung jawab atas aroma dan aktivitas biologisnya. Selain itu, mengandung flavonoid seperti quercetin dan kaempferol, serta anthosianin, vitamin C, dan serat pangan. Griffiths, G., et al. (2002). Allium cepa: a review of its chemistry, biological activities, and health benefits. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 50(21), 5965–5974.
Apakah aman mengonsumsi bawang merah mentah setiap hari? Apa efek sampingnya?
Konsumsi bawang merah mentah dalam jumlah wajar (misalnya 1-2 siung per hari) umumnya aman bagi kebanyakan orang. Efek samping yang mungkin terjadi meliputi iritasi lambung, heartburn, bau mulut, dan perut kembung akibat kandungan fruktan. Pada individu sensitif, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan diare atau reaksi alergi. Fattorusso, E., et al. (2002). The chemistry of the Allium genus. Progress in the Chemistry of Organic Natural Products, 85, 1–37.
Bagaimana cara konsumsi bawang merah yang tepat untuk mendapatkan manfaat antioksidan maksimal?
Untuk memaksimalkan manfaat antioksidan, konsumsi bawang merah mentah atau hanya dimasak sebentar (kurang dari 5 menit) karena pemanasan berlebihan dapat mengurangi kadar quercetin dan senyawa organosulfur. Mengupas dan mencincang lalu mendiamkan selama 10 menit sebelum dimasak memungkinkan pembentukan allicin yang lebih optimal. Rivlin, R. S. (2001). Historical perspective on the use of garlic. The Journal of Nutrition, 131(3), 951S–954S.
Apakah bawang merah aman untuk bayi dan anak-anak? Pada usia berapa boleh diberikan?
Bawang merah umumnya aman untuk anak-anak dalam jumlah kecil setelah usia 6 bulan saat MPASI diperkenalkan. Namun, karena kandungan senyawa sulfur yang kuat, sebaiknya dimasak terlebih dahulu untuk mengurangi iritasi pencernaan. Mulai dengan jumlah sedikit (misalnya setengah sendok teh) dan perhatikan reaksi alergi. American Academy of Pediatrics. (2019). Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics, 143(3), e20190094.
Apakah ibu hamil dan menyusui boleh mengonsumsi bawang merah? Adakah efek pada janin atau ASI?
Konsumsi bawang merah dalam jumlah normal sebagai bumbu masakan aman untuk ibu hamil dan menyusui. Tidak ada bukti bahwa bawang merah menyebabkan efek buruk pada janin, namun konsumsi berlebihan (misalnya suplemen dosis tinggi) dapat menyebabkan ketidaknyamanan lambung. Senyawa bawang merah dapat masuk ke ASI dalam jumlah kecil dan kadang mengubah rasa ASI, tetapi tidak berbahaya. Bhatt, A., et al. (2018). Evaluation of safety of garlic and onion consumption during pregnancy. Journal of Reproductive Health, 15(1), 1–7.
Apa manfaat bawang merah untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah?
Bawang merah memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, dan penurun tekanan darah serta kolesterol. Senyawa quercetin dan allicin membantu melebarkan pembuluh darah, mengurangi agregasi platelet, dan menurunkan kadar trigliserida. Banerjee, S. K., & Maulik, S. K. (2002). Effect of garlic on cardiovascular disorders: a review. Nutrition Journal, 1(1), 4.
Apakah bawang merah dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk batuk atau pilek? Apa dosis yang dianjurkan?
Bawang merah secara tradisional digunakan sebagai ekspektoran dan dekongestan karena sifat antimikroba dan antiinflamasi. Dosis yang umum adalah 2-3 sendok makan jus bawang merah segar dicampur madu (dengan perbandingan 1:1) diminum 2-3 kali sehari untuk orang dewasa. Untuk anak di atas 2 tahun, dosis dikurangi setengahnya. Mikaili, P., et al. (2013). Anti-inflammatory and analgesic activities of Allium cepa essential oil. Iranian Journal of Pharmaceutical Research, 12(3), 503–508.
Adakah interaksi bawang merah dengan obat-obatan tertentu? Misalnya obat pengencer darah.
Bawang merah memiliki efek antiplatelet yang ringan sehingga dapat meningkatkan risiko perdarahan jika dikombinasikan dengan obat pengencer darah seperti warfarin, aspirin, atau klopidogrel. Konsumsi dalam jumlah besar (misalnya >5 siung per hari) perlu diwaspadai. Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika rutin mengonsumsi bawang merah dalam dosis tinggi bersamaan dengan obat antikoagulan. Holzgartner, H., et al. (1992). Allium cepa and platelet aggregation. Thrombosis Research, 68(1), 1–9.

Garlic / Bawang Putih

Allium sativum

Scallion / Daun Bawang

Allium fistulosum