Advertisement
Bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) merupakan varietas botani dari spesies bawang bombay yang terkenal karena kebiasaan pertumbuhannya membentuk rumpun. Berbeda dengan bawang bombay biasa yang membentuk umbi tunggal besar, varietas aggregatum menghasilkan beberapa umbi kecil yang melekat pada pangkal yang sama, sehingga sering disebut sebagai bawang merah siung. Umbi-umbi ini dilapisi kulit tipis berwarna merah keunguan hingga cokelat kemerahan, dengan daging umbi berlapis-lapis putih atau merah muda. Daunnya berbentuk silindris, berongga, dan berwarna hijau, mirip dengan daun bawang pada umumnya. Tanaman ini termasuk famili Amaryllidaceae dan berasal dari Asia Tengah, namun kini dibudidayakan secara luas di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.
Advertisement
Dalam budidaya, bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) dikembangbiakkan terutama secara vegetatif menggunakan umbi bibit. Tanaman ini memerlukan iklim kering dengan sinar matahari penuh serta tanah gembur yang kaya bahan organik. Proses pertumbuhannya relatif cepat, yaitu sekitar 60–90 hari dari tanam hingga panen, tergantung varietas dan kondisi lingkungan. Keunikan bawang merah adalah kemampuannya membentuk umbi ganda, sehingga satu bibit dapat menghasilkan beberapa umbi baru. Selain sebagai bumbu dapur utama, bawang merah juga dimanfaatkan dalam industri pengolahan makanan, seperti bawang goreng, pasta, dan bumbu instan. Kandungan minyak atsiri yang memberikan aroma khas menjadikannya komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Dari segi kandungan gizi, bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) kaya akan senyawa sulfur organik seperti allisin dan quercetin, yang bersifat antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi. Konsumsi rutin bawang merah dipercaya dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengontrol kadar gula darah, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dalam pengobatan tradisional, bawang merah sering digunakan sebagai obat demam, batuk, dan pereda nyeri ringan. Karena manfaatnya yang luas, varietas aggregatum menjadi salah satu tanaman hortikultura penting di Indonesia, dengan sentra produksi utama di Jawa, Sumatra, dan Nusa Tenggara. Penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman terhadap hama serta penyakit, seperti ulat bawang dan busuk umbi.
Manfaat Shallot / Bawang Merah untuk kesehatan.
Senyawa flavonoid (quercetin, kaempferol) dan senyawa sulfur organik (diallyl disulfide) dalam bawang merah meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GPx). Quercetin juga secara langsung menangkap radikal bebas (ROS/ RNS) melalui donasi elektron dan mengkhelat ion logam transisi, mengurangi peroksidasi lipid.
Quercetin dan allicin menghambat jalur NF-κB dan MAPK, menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, dan produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-1β, IL-6). Senyawa sulfur juga memodulasi aktivasi Nrf2 sehingga meningkatkan respons anti-inflamasi.
Allicin dan senyawa tiosulfinat lain berinteraksi dengan gugus tiol protein mikroba, menginaktivasi enzim esensial (misal, DNA polimerase, enzim respirasi). Juga mengganggu integritas membran sel dan menghambat pembentukan biofilm.
Quercetin meningkatkan penyerapan glukosa di otot melalui aktivasi AMPK dan GLUT4, serta menghambat α-glukosidase dan α-amilase usus. Allicin juga merangsang sekresi insulin dari sel β pankreas dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Shallot / Bawang Merah.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Shallot / Bawang Merah.