Advertisement
Kafein (1,3,7-trimetilxantin) adalah alkaloid metilxantin yang secara alami ditemukan dalam biji kopi (Coffea arabica), daun teh (Camellia sinensis), biji kola (Cola acuminata), dan biji kakao (Theobroma cacao). Senyawa ini memiliki rumus molekul C₈H₁₀N₄O₂ dengan berat molekul 194,22 g/mol. Secara fisikokimia, kafein berbentuk kristal putih, tidak berbau, dan memiliki rasa pahit yang khas, dengan titik leleh 235-237,5°C serta mampu menyublim pada suhu 178°C.
Kelarutannya dalam air sekitar 20 g/L, dengan nilai logP -0,07 yang menunjukkan sifat hidrofilik sedang, dan memiliki bioavailabilitas oral yang sangat tinggi (98%) setelah absorpsi cepat di saluran cerna. Kafein tidak memiliki donor ikatan hidrogen, yang memungkinkannya melintasi sawar darah-otak dengan mudah untuk memberikan efek stimulasi pada sistem saraf pusat.
Kafein menunjukkan aktivitas farmakologis terutama sebagai antagonis reseptor adenosin di sistem saraf pusat, yang menghambat efek inhibisi adenosin dan meningkatkan aktivitas neurotransmitter seperti dopamin dan noradrenalin, menghasilkan efek stimulasi, peningkatan kewaspadaan, dan pengurangan kelelahan. Efek ini juga mencakup relaksasi otot polos, stimulasi otot jantung, dan peningkatan diuresis. Dalam dosis terapeutik normal (50-150 mg per dosis, total 400 mg/hari), kafein terbukti meningkatkan daya ingat jangka pendek, mengurangi frekuensi migrain, serta memiliki efek bronkodilator yang menyerupai teofilin. Pada dosis lebih tinggi (>150-400 mg), efek samping seperti takikardia, gelisah, cemas, dan gangguan tidur dapat muncul.
Konsumsi dalam dosis berlebihan (>10 g atau kadar serum 80-100 µg/mL) dapat berakibat fatal dengan gejala aritmia, kejang, dan kolaps kardiovaskular. Dalam konteks riset ilmiah, kafein sering digunakan sebagai senyawa penanda untuk mengukur aktivitas enzim CYP1A2, karena 90% metabolismenya dikatalisis oleh enzim ini menjadi paraxanthin, theobromin, dan theophylline.
Dalam sistem pengobatan Ayurveda, kafein tidak dikenal sebagai zat tunggal, namun tanaman sumbernya—terutama kopi—memiliki sifat ushna (panas), tikta (pahit), dan rooksha (kering), sehingga cenderung menstimulasi dosha Vata dan Pitta. Bagi individu dengan dominasi Kapha (lamban, berat), konsumsi kopi dapat memberikan efek menguntungkan, namun bagi tipe Pitta-Vata (cemas, cepat marah) dapat menyebabkan destabilisasi.
Untuk menyeimbangkan efeknya, Ayurveda menyarankan tambahan seperti kapulaga (menyejukkan Pitta), ghee (untuk Vata), atau jahe (untuk Kapha), serta mengonsumsinya pada jam emas 9-11 pagi saat agni pencernaan optimal. Dalam Pengobatan Tradisional Tionghoa (TCM), efek stimulasi kafein dipandang sebagai "peningkatan Qi" namun dengan risiko "menguras Yin" jika berlebihan. Implementasi fitokimia modern justru menyoroti bahaya interaksi obat: kafein sebagai substrat CYP1A2 dapat berinteraksi signifikan dengan inhibitor enzim ini.
Fluvoxamine (antidepresan) dapat menurunkan bersihan kafein hingga 80% dan memperpanjang waktu paruh dari 5 jam menjadi 31 jam. Kontrasepsi oral yang mengandung etinil estradiol juga menghambat CYP1A2 secara kompetitif dan bergantung waktu, yang terbukti memperpanjang eliminasi kafein hingga 33 jam pada kasus overdosis. Interaksi ini dapat menyebabkan akumulasi toksik pada dosis yang seharusnya aman, sehingga pemantauan riwayat pengobatan pasien sangat krusial.
---
- Parchem. (n.d.). Caffeine CAS 58-08-2 Product Specifications.
- National Institutes of Health. (2026). Caffeine MeSH Descriptor Data. MeSH Database.
- Nayak, B. (2025). Is Your Daily Coffee Helping or Harming You? Dr. Brahmanand Nayak Blog.
- Adachi, K., et al. (2024). Interaction of a caffeine overdose with clinical doses of contraceptive ethinyl estradiol in a young woman. Acute Medicine & Surgery, 11(1), e985. NIH/PMC.
- Erowid. (1999). Caffeine Dosage Information. Erowid Psychoactive Vault.
- Zhejiang University. (n.d.). Caffeine ADMET Properties. PK/DB Compound Database.
- National Center for Advancing Translational Sciences. (n.d.). Caffeine Citrate. Inxight Drugs.
- Vitalojas. (2025). Coffee & Ayurveda: How to drink coffee the Ayurvedic way.
- Jeppesen, U., et al. (1996). A fluvoxamine-caffeine interaction study. Pharmacogenetics, 6(3), 213-222.
- ScienceDirect. (2019). Acute intentional caffeine overdose treated preemptively with hemodialysis. American Journal of Emergency Medicine.
- Molbase. (n.d.). Caffeine CAS 58-08-2 Physicochemical Properties.
- Nehlig, A., et al. (1992). Caffeine and the central nervous system: mechanisms of action, biochemical, metabolic and psychostimulant effects. Brain Research Reviews, 17(2), 139-170. PubMed.
- NIH/PMC. (2021). Table 3: Alkaloids and lifespan extension. Molecules, 26(23), 7323.
- Labbé, L., et al. (1999). Stereoselective Disposition of Mexiletine During Caffeine Coadministration. Therapeutic Drug Monitoring, 21(2), 191-199.
- Erowid. (2002). How are LD50s in Humans Determined? Ask Erowid.