• Herbapedia.id

Chickweed

Stellaria media
Chickweed
Nama: Chickweed
Nama Ilmiah: Stellaria media
Famili: Caryophyllaceae

Kandungan:
Saponin, flavonoid, kumarin, vitamin C
Nama Lain:
Mouron des oiseaux (Prancis), Vogelmiere (Jerman), Pamplina (Spanyol), Centocchio (Italia), Våtarv (Swedia)
Asal:
Eropa, Asia
Bagian Utama:
Daun, Batang, dan Bunga
Rasa:
Manis, netral

Advertisement


I. Tentang Chickweed

Stellaria media, yang dikenal luas sebagai chickweed atau rumput bintang, adalah tumbuhan herba tahunan dari famili Caryophyllaceae. Tanaman ini memiliki ciri khas batang yang ramping, lunak, dan sering kali merayap di permukaan tanah dengan ruas-ruas yang mudah berakar. Daunnya berbentuk bulat telur hingga lanset, berpasangan, dan berwarna hijau segar. Salah satu karakteristik yang paling mudah dikenali adalah garis rambut halus yang hanya tumbuh pada satu sisi batang di antara buku-buku, serta bunganya yang kecil berwarna putih dengan lima kelopak yang terbelah dalam sehingga tampak seperti sepuluh kelopak. Chickweed tumbuh dengan cepat di tanah yang lembap dan kaya nitrogen, sering dianggap sebagai gulma di kebun, ladang, dan area terbuka.

Advertisement

Tanaman ini berasal dari Eropa dan Asia Barat tetapi kini telah menyebar hampir ke seluruh dunia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis hingga subtropis. Chickweed sangat adaptif terhadap suhu dingin dan dapat tumbuh subur di musim semi dan gugur di daerah beriklim sedang, sementara di daerah tropis ia lebih sering ditemukan di dataran tinggi yang sejuk atau pada musim hujan. Reproduksinya sangat efisien; satu individu mampu menghasilkan ribuan biji yang dapat bertahan di tanah selama bertahun-tahun. Selain itu, potongan batang yang tertinggal di permukaan lembap mampu berakar kembali, menjadikannya tumbuhan yang sulit diberantas. Ekologisnya, chickweed berfungsi sebagai penutup tanah yang cepat dan menjadi sumber pakan bagi berbagai jenis serangga serta burung pemakan biji.

Secara historis, chickweed telah digunakan dalam pengobatan tradisional dan kuliner. Daun dan batang mudanya dapat dimakan mentah dalam salad atau dimasak sebagai sayuran, kaya akan vitamin C, zat besi, dan kalsium. Dalam pengobatan herbal, Stellaria media dikenal memiliki sifat antiinflamasi, pendingin, dan ekspektoran. Ekstraknya sering digunakan secara topikal untuk meredakan gatal, ruam, dan luka ringan, atau secara oral sebagai teh untuk mengatasi batuk kering dan radang tenggorokan. Namun, penggunaan medis sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena beberapa spesies dalam genus yang sama dapat bersifat toksik. Penelitian modern juga mulai mengeksplorasi potensi antioksidan dan antimikroba dari senyawa aktif yang terkandung dalam chickweed, menjadikannya subjek kajian etnobotani yang terus berkembang.

Update: 28 Jul 2026 - 08:08:20

 

II. Manfaat Chickweed

Manfaat Chickweed untuk kesehatan.

  1. Anti-inflamasi (Peradangan Kulit dan Sendi)

    Ekstrak Stellaria media menghambat produksi mediator pro-inflamasi seperti prostaglandin E2 (PGE2) dan sitokin TNF-α melalui penghambatan jalur COX-2 dan NF-κB. Senyawa triterpenoid saponin (stellariapgenin A) dan flavonoid (quercetin, luteolin) berkontribusi pada efek ini dengan menekan aktivasi MAPK dan mengurangi ekspresi iNOS.

    Senyawa Aktif: Stellariapgenin A, Quercetin, Luteolin
    Tampilkan
  2. Antimikroba (Bakteri dan Jamur)

    Flavonoid (apigenin, luteolin) dan saponin dalam Stellaria media merusak integritas membran sel mikroba dengan mengikat ergosterol (pada jamur) atau mengganggu potensial membran bakteri, menyebabkan kebocoran ion dan kematian sel. Efek bakterisidal terhadap bakteri Gram-positif lebih kuat karena struktur dinding selnya yang lebih sederhana.

    Senyawa Aktif: Apigenin, Luteolin, Saponin triterpenoid (Stellariapgenin B)
    Tampilkan
  3. Antioksidan

    Kandungan polifenol (asam kafeat, asam klorogenat) dan flavonoid (quercetin, luteolin) menyumbang kapasitas pereduksi dan penangkapan radikal bebas. Senyawa ini mendonorkan elektron untuk menetralkan spesies oksigen reaktif (ROS) dan mengkhelat ion logam transisi (Fe2+, Cu2+), sehingga mencegah kerusakan oksidatif pada lipid dan DNA.

    Senyawa Aktif: Asam kafeat, Quercetin, Luteolin
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Manfaat

Advertisement

III. Kandungan Chickweed

Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Chickweed.

  1. Quercetin-3-O-β-D-glucopyranoside

    Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Herba (batang, daun, bunga)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan Kuat (penghambatan Radikal DPPH, ABTS); Antiinflamasi Dengan Menekan NF-κB Dan COX-2; Hepatoprotektif Pada Model Sel.
    Tampilkan
  2. Luteolin-7-O-β-D-glucopyranoside

    Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Herba (daun dan batang)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi (menghambat INOS, Produksi NO Pada Makrofag); Neuroprotektif Melalui Aktivasi Jalur Nrf2; Aktivitas Antimikroba Terhadap Staphylococcus Aureus Dan Candida Albicans.
    Tampilkan
  3. Apigenin-7-O-β-D-glucopyranoside

    Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Herba (bunga dan daun)
    Aktivitas Farmakologis:
    Anksiolitik Melalui Modulasi Reseptor GABA_A; Antiinflamasi (menurunkan IL-6 Dan TNF-α); Aktivitas Antiproliferatif Pada Sel Kanker Payudara MCF-7.
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Kandungan

IV. Interaksi & Kontraindikasi Chickweed

Suplemen kalium

Tingkat Resiko: Rendah
Rekomendasi:
Pantau kadar kalium secara berkala karena efek diuretik ringan chickweed dapat meningkatkan ekskresi kalium, meskipun interaksi signifikan jarang terjadi.

Obat antihipertensi (misal ACE inhibitor, ARB)

Tingkat Resiko: Rendah
Rekomendasi:
Efek aditif penurunan tekanan darah mungkin terjadi; disarankan monitoring tekanan darah secara rutin saat penggunaan bersamaan.

Obat diuretik (misal furosemid, hidroklorotiazid)

Tingkat Resiko: Sedang
Rekomendasi:
Hindari penggunaan bersamaan karena risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Jika tidak dapat dihindari, monitor fungsi ginjal dan elektrolit secara ketat.
Tampilkan Semua Kontraindikasi

V. FAQ Chickweed

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Chickweed.

Apa itu Chickweed (Stellaria media) dan bagaimana cara menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari?
Chickweed adalah tanaman herbal yang sering tumbuh liar di daerah beriklim sedang. Daun dan batang mudanya dapat dikonsumsi segar sebagai sayuran dalam salad atau dimasak seperti bayam. Dalam pengobatan tradisional, chickweed digunakan secara topikal untuk meredakan iritasi kulit, ruam, dan eksim, serta secara oral sebagai teh untuk membantu batuk dan peradangan saluran pernapasan. (Sumber: Benzie, I.F.F., & Wachtel-Galor, S. (Eds.). (2011). Herbal Medicine: Biomolecular and Clinical Aspects. CRC Press)
Apakah aman mengonsumsi Chickweed sebagai makanan sehari-hari?
Konsumsi chickweed dalam jumlah wajar (misalnya segenggam daun segar per hari) umumnya dianggap aman karena kaya akan vitamin C, vitamin A, mineral seperti zat besi dan kalium. Namun, karena mengandung saponin dalam kadar rendah, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan iritasi lambung, mual, atau diare. Sebaiknya tidak dikonsumsi mentah dalam jumlah besar tanpa pencucian yang bersih untuk menghindari kontaminasi tanah. (Sumber: Gruenwald, J., Brendler, T., & Jaenicke, C. (2007). PDR for Herbal Medicines (4th ed.). Thomson Reuters)
Apa efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan Chickweed?
Efek samping yang dilaporkan umumnya ringan, meliputi gangguan pencernaan seperti mual, diare, dan kram perut jika dikonsumsi berlebihan. Penggunaan topikal dapat menyebabkan reaksi alergi berupa kemerahan atau gatal pada individu yang sensitif. Hindari penggunaan pada luka terbuka karena risiko iritasi. Tidak ada laporan efek samping serius pada dosis normal, namun data keamanan jangka panjang masih terbatas. (Sumber: Natural Medicines Comprehensive Database. (2023). Chickweed. Diperoleh dari https://naturalmedicines.therapeuticresearch.com)
Apakah Chickweed aman untuk bayi dan anak-anak?
Keamanan penggunaan chickweed pada bayi dan anak-anak belum diteliti secara klinis. Karena kandungan saponin dan senyawa bioaktif lainnya yang dapat mempengaruhi saluran cerna dan sistem hormon, penggunaannya tidak dianjurkan untuk anak di bawah usia 2 tahun tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Untuk anak yang lebih besar, penggunaan luar dalam jumlah kecil mungkin lebih aman, tetapi konsultasi dengan dokter anak tetap diperlukan. (Sumber: Gardiner, P., & Kemper, K.J. (2000). Pediatric Herbal Medicine. In: Micozzi, M.S. (Ed.), Fundamentals of Complementary and Alternative Medicine. Churchill Livingstone)
Apakah Chickweed aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Tidak dianjurkan. Secara tradisional, chickweed digunakan sebagai emmenagog (perangsang menstruasi) sehingga dikhawatirkan dapat memicu kontraksi rahim dan meningkatkan risiko keguguran pada awal kehamilan. Pada ibu menyusui, belum ada data yang cukup mengenai ekskresi senyawa aktif ke dalam ASI. Oleh karena itu, wanita hamil dan menyusui sebaiknya menghindari penggunaan chickweed baik secara oral maupun topikal. (Sumber: Schaefer, C., Peters, P., & Miller, R.K. (2015). Drugs During Pregnancy and Lactation (3rd ed.). Academic Press)
Apa manfaat kesehatan umum dari Chickweed yang didukung bukti ilmiah?
Ekstrak chickweed menunjukkan aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba dalam studi laboratorium. Kandungan flavonoid (seperti rutin dan quercetin) serta asam fenolat berperan dalam mengurangi peradangan dan melawan radikal bebas. Secara topikal, chickweed sering digunakan untuk meredakan eksim, psoriasis, dan gigitan serangga. Namun, bukti klinis pada manusia masih terbatas dan diperlukan penelitian lebih lanjut. (Sumber: Al-Snafi, A.E. (2018). A review on chemical constituents and pharmacological effects of Stellaria media. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 10(8), 1-6)
Bagaimana cara mengolah Chickweed untuk obat tradisional yang aman?
Untuk konsumsi internal, cuci bersih 1–2 genggam daun dan batang muda segar, kemudian rebus dalam 200 ml air selama 5–10 menit. Saring dan minum sebagai teh hangat, maksimal 2 cangkir per hari. Untuk pemakaian luar, tumbuk daun segar hingga halus lalu oleskan sebagai pasta pada area kulit yang bermasalah, biarkan selama 15–20 menit lalu bilas. Hindari penggunaan pada luka terbuka. Jika menggunakan produk komersial, ikuti petunjuk pada label. (Sumber: Willcox, M.L., Cos, P., & Vlietinck, A.J. (2011). Traditional Herbal Medicine Research Methods. Wiley)

Nasturtium (flower/leaf)

Tropaeolum majus

Purslane / Krokot

Portulaca oleracea