Onkologi & Dermatologi
Melanoma adalah jenis kanker kulit yang sangat agresif dan berasal dari melanosit, sel penghasil pigmen kulit.
Meskipun pengobatan modern seperti imunoterapi dan terapi target telah meningkatkan prognosis, tantangan seperti resistensi obat dan efek samping tetap ada, sehingga mendorong eksplorasi terapi komplementer.
Berbagai senyawa alami dari tanaman obat menunjukkan potensi antimelanoma melalui mekanisme seperti menghambat proliferasi sel, menginduksi apoptosis, menghambat metastasis, dan memodulasi sistem imun.
Ekstrak metanol pala (Myristica fragrans) secara signifikan menurunkan viabilitas sel B16F10 dan menginduksi apoptosis melalui peningkatan spesies oksigen reaktif (ROS) serta aktivasi kaspase-3. Efek sitotoksik bersifat dosis-tergantung dengan IC50 sebesar 45 µg/mL.
Ekstrak etanol jahe menghambat proliferasi sel SK-MEL-2 secara signifikan dan menginduksi apoptosis melalui peningkatan ekspresi caspase-3.
Ekstrak etanol daun jambu biji dosis 50–200 µg/mL menghambat proliferasi sel melanoma secara signifikan (IC50=87,5 µg/mL) dan menginduksi apoptosis melalui peningkatan ekspresi caspase-3. Efek sitotoksik bersifat selektif terhadap sel kanker tanpa merusak sel fibroblas normal.
Advertisement
Ginsenoside Rg3 menghambat proliferasi sel melanoma dan menginduksi apoptosis melalui jalur mitokondria yang dimediasi oleh peningkatan ekspresi Bax dan penurunan Bcl-2.
Kurkumin secara signifikan menghambat proliferasi dan menginduksi apoptosis pada sel melanoma melalui modulasi jalur NF-κB dan Wnt/β-catenin. Dosis efektif in vitro berkisar 5-50 µM, sedangkan in vivo 50-200 mg/kg.
Cannabinoid, termasuk yang berasal dari Cannabis sativa, menunjukkan efek anti-proliferatif dan pro-apoptotik pada berbagai lini sel melanoma. Temuan ini mendukung potensi pengembangan terapi berbasis cannabinoid untuk melanoma.