Advertisement
Oxalis acetosella, atau yang dikenal sebagai Wood Sorrel, adalah tumbuhan herba tahunan yang termasuk dalam famili Oxalidaceae. Spesies ini tumbuh rendah dengan daun trifoliat berbentuk hati yang menyerupai semanggi, dan sering dijumpai di lantai hutan beriklim sedang serta daerah teduh dan lembap di belahan bumi utara. Keunikan utamanya terletak pada kandungan asam oksalat, yang memberikan rasa asam khas pada daunnya—sejak abad pertengahan tumbuhan ini kerap digunakan sebagai penyedap atau pengganti cuka dalam masakan rakyat Eropa.
Advertisement
Secara ekologis, Oxalis acetosella beradaptasi dengan lingkungan hutan yang minim cahaya melalui gerakan niktinasti, yaitu daun yang melipat pada malam hari atau saat cuaca buruk untuk mengurangi penguapan dan kerusakan akibat suhu rendah. Bunganya yang berwarna putih dengan urat ungu halus muncul pada musim semi, bersifat protandri, dan menawarkan nektar bagi serangga penyerbuk seperti lebah dan lalat. Selain perbanyakan secara generatif, tumbuhan ini juga berkembang biak vegetatif melalui rimpang bawah tanah, memungkinkannya membentuk koloni luas di bawah naungan kanopi hutan.
Meskipun bermanfaat sebagai sumber vitamin C dan antioksidan, konsumsi Oxalis acetosella dalam jumlah besar perlu diwaspadai karena asam oksalat dapat menghambat penyerapan kalsium atau menyebabkan gangguan ginjal bila dikonsumsi berlebihan. Dalam pengobatan tradisional, ekstrak tumbuhan ini dipakai untuk meredakan sariawan, demam, dan infeksi saluran kemih, tetapi dosisnya harus dibatasi. Sebagai bagian dari keanekaragaman hayati bawah hutan, Wood Sorrel juga berperan dalam menjaga kelembapan tanah dan menjadi indikator kualitas ekosistem hutan yang masih alami.
Manfaat Wood Sorrel untuk kesehatan.
Senyawa polifenolik, terutama kuersetin dan kaempferol, mendonorkan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya untuk menetralkan radikal bebas dan memutus rantai peroksidasi lipid. Pada tingkat molekuler, kuersetin juga dapat mengaktifkan jalur Nrf2/ARE dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti SOD, katalase, dan GSH-Px, meskipun bukti langsung pada O. acetosella masih terbatas pada studi in vitro.
Polifenol dan asam organik mengganggu membran sitoplasma bakteri, meningkatkan permeabilitas membran dan menyebabkan kebocoran ion K+. Asam oksalat menurunkan pH lingkungan sehingga menghambat pertumbuhan bakteri. Kuersetin dan kaempferol juga dapat menghambat enzim DNA girase atau ATPase bakteri, tetapi mekanisme ini terutama dibuktikan pada senyawa murni dan belum tentu setara pada ekstrak kasar.
Flavonoid dapat mengganggu integritas membran sel jamur dan menghambat sintesis ergosterol. Asam fenolat dan asam oksalat diduga mengkelat ion logam yang diperlukan sebagai kofaktor enzim jamur. Efek ini tampak pada ekstrak kasar O. acetosella terhadap Candida spp., namun jalur biokimia pastinya belum terkonfirmasi.
Flavonoid seperti kuersetin dan kaempferol menghambat enzim COX-2 dan 5-LOX, sehingga menurunkan produksi prostaglandin PGE2 dan leukotrien. Selain itu, flavonoid menghambat aktivasi NF-κB dan MAPK yang mengatur ekspresi sitokin proinflamasi TNF-α, IL-1β, dan IL-6. Efek ini didukung oleh senyawa yang terdeteksi dalam O. acetosella, tetapi belum diuji langsung dalam uji klinis.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Wood Sorrel.