Advertisement
Licorice atau yang dikenal di Indonesia sebagai Kayu Legi (Glycyrrhiza glabra) merupakan tanaman perdu abadi dari famili Fabaceae yang berasal dari kawasan Mediterania dan Asia Barat. Bagian yang paling bernilai dari tanaman ini adalah akar tunggangnya yang panjang dan berdaging, berwarna cokelat keabu-abuan di luar dan kuning di dalam. Akar ini mengandung senyawa glisirizin (glycyrrhizin) yang memberikan rasa manis khas hingga 50 kali lebih manis dari gula tebu. Secara botani, tanaman ini memiliki daun majemuk menyirip, bunga ungu kebiruan yang tersusun dalam tandan, dan buah polong yang berisi biji kecil. Pertumbuhannya optimal di tanah berpasir dengan drainase baik dan paparan sinar matahari penuh, serta sering dibudidayakan di daerah subtropis dan tropis kering.
Advertisement
Kandungan fitokimia utama dalam akar Glycyrrhiza glabra meliputi glisirizin, flavonoid (seperti likuiritin dan likuiritigenin), kumarin, serta sterol tumbuhan. Glisirizin memiliki efek antiinflamasi, antivirus, dan ekspektoran yang kuat, namun konsumsi berlebihan dapat menyebabkan pseudohiperaldosteronisme akibat penghambatan enzim 11β-hidroksisteroid dehidrogenase tipe 2. Selain itu, flavonoid dalam licorice berperan sebagai antioksidan dan pelindung mukosa lambung, sehingga sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk tukak lambung dan radang tenggorokan. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dengan merebus akar kering, kemudian menguapkan airnya hingga diperoleh pasta atau ekstrak kental yang siap diolah menjadi produk komersial.
Dalam penggunaannya, Glycyrrhiza glabra telah dimanfaatkan selama ribuan tahun oleh peradaban Mesir kuno, Yunani, Tiongkok, dan India sebagai jamu serta bahan perisa. Di industri modern, licorice digunakan dalam produk confectionery (permen licorice), minuman herbal, suplemen kesehatan, dan kosmetik untuk efek menenangkan kulit. Peraturan internasional membatasi konsumsi harian glisirizin maksimal 100 mg untuk menghindari efek samping. Dengan multifungsi sebagai pemanis alami, antiinflamasi, dan adaptogen, licorice tetap menjadi subjek penelitian farmakologi yang menarik, meskipun diperlukan kehati-hatian dalam dosis terapinya.
Manfaat Licorice / Kayu Legi untuk kesehatan.
Meningkatkan produksi mukus lambung, menghambat aktivitas pepsin, mengurangi sekresi asam lambung, dan mempercepat regenerasi mukosa melalui aktivasi faktor pertumbuhan epidermis (EGF) dan siklooksigenase-2 (COX-2). Deglycyrrhizinated licorice (DGL) menghambat pertumbuhan Helicobacter pylori dan mengurangi adhesi bakteri.
Glycyrrhizin menghambat replikasi virus hepatitis C (HCV) melalui induksi interferon endogen, modulasi imun (peningkatan sel NK dan T helper), serta penghambatan enzim NS3 protease dan RNA polimerase. Juga menghambat penyerapan virus ke hepatosit.
Menghambat jalur NF-κB dan COX-2 sehingga menurunkan produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, IL-1β). Senyawa glabridin dan licochalcone A juga menghambat enzim fosfolipase A2 dan lipooksigenase, mengurangi peradangan sendi.
Mengaktifkan AMPK dan PPAR-γ, meningkatkan translokasi GLUT4 ke membran sel, serta menghambat α-glukosidase dan α-amilase sehingga memperlambat penyerapan karbohidrat. Asam glycyrrhetinic juga menghambat 11β-HSD1, mengurangi konversi kortison menjadi kortisol di jaringan adiposa.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Licorice / Kayu Legi.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Licorice / Kayu Legi.