Kedondong Leaf

Spondias dulcis
Nama
Kedondong Leaf
Nama Latin/Ilmiah
Spondias dulcis
Bagian Digunakan
Daun Muda (pucuk Daun)
Rasa
Asam
Nama Lain
Ambarella (Sri Lanka), June plum (Jamaika), golden apple (Barbados), wi (Fiji), cóc (Vietnam).
Asal
Melanesia (Papua hingga Fiji).
Kandungan Utama
Flavonoid, tanin, saponin, dan polifenol

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Kedondong Leaf

Daun kedondong berasal dari tumbuhan tropis yang dikenal dengan nama ilmiah Spondias dulcis, anggota famili Anacardiaceae yang juga mencakup mangga dan jambu mete. Pohon ini tumbuh subur di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, dengan daun majemuk menyirip yang tersusun rapi sepanjang tangkai. Daunnya yang muda berwarna hijau kemerahan dan sering dikonsumsi sebagai lalapan segar, sementara daun yang lebih tua memiliki tekstur lebih tebal dengan rasa asam yang khas, menjadikannya bahan penting dalam berbagai masakan tradisional, terutama sebagai penyedap alami.

Baca Lebih Lanjut
Update: 17 Agu 2026 - 01:40:32
 

II. Ciri-ciri Kedondong Leaf

Tanaman ini asli dari daerah tropis. Suka banget sama tempat yang kena sinar matahari langsung dan bisa tumbuh subur di tanah yang punya drainase bagus. Biasanya ditemukan di dataran rendah sampai ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Karakteristik/ciri-ciri Kedondong Leaf (Spondias dulcis):

Bagian Ciri-Ciri
Batang Pohonnya bisa tumbuh cukup tinggi dengan kulit kayu yang berwarna abu-abu kecokelatan dan teksturnya agak halus.
Daun Termasuk daun majemuk yang menyirip ganjil. Tiap tangkai punya beberapa anak daun yang bentuknya lonjong dengan tepi daun yang bergerigi halus.
Bunga Bunganya kecil-kecil, berwarna putih kekuningan, dan biasanya muncul dalam bentuk malai di ujung ranting.
Buah Buahnya berbentuk bulat lonjong atau oval. Pas masih muda warnanya hijau dan rasanya asam, kalau sudah matang warnanya berubah jadi kuning keemasan dengan daging buah yang berserat dan rasa yang segar.
Biji Di dalam buah ada biji yang bentuknya agak keras, berserat kasar, dan punya duri-duri kecil di permukaannya.

III. Manfaat Kedondong Leaf

6 Manfaat Kedondong Leaf untuk kesehatan.

  1. Anti-inflamasi pada nyeri sendi/edema

    Menghambat aktivitas siklooksigenase-2 (COX-2) dan lipooksigenase (5-LOX), menurunkan produksi PGE2 dan leukotrien; memodulasi jalur NF-κB sehingga menekan sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α dan IL-6.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Kaempferol, Rutin
    Tampilkan
  2. Stres oksidatif / kebutuhan antioksidan sistemik

    Senyawa fenolik mendonorkan atom hidrogen dan mereduksi radikal bebas seperti DPPH, ABTS, dan ROS; mengaktivasi jalur Nrf2/ARE sehingga meningkatkan enzim antioksidan endogen SOD, katalase, dan glutathione peroksidase; mengkelat ion logam transisi.

    Tampilkan
  3. Infeksi bakteri dan jamur (khususnya topikal)

    Flavonoid dan tanin merusak membran sel mikroba, mengganggu transport ion, menghambat pembentukan biofilm, dan menginaktivasi protein adhesin. Saponin berinteraksi dengan sterol membran sehingga meningkatkan permeabilitas sel.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Kaempferol, Saponin triterpenoid
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+3)

Advertisement


IV. Kandungan Kedondong Leaf

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Kedondong Leaf.

  1. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antiinflamasi, Antihiperglikemia, Dan Antimikroba Pada Studi In Vitro; Efek Protektif Organ Juga Dilaporkan Pada Model Hewan..
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid glikosida
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antiinflamasi, Vasoprotektif, Dan Berpotensi Menghambat Agregasi Trombosit..
    Tampilkan
  3. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antiinflamasi, Neuroprotektif, Dan Menunjukkan Efek Sitotoksik Terhadap Sel Tumor Pada Penelitian In Vitro..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Kedondong Leaf

Interaksi & Kontraindikasi Kedondong Leaf dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Suplemen zat besi atau anemia defisiensi besi

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Konsumsilah dengan jarak minimal 2 jam karena kandungan tanin dalam daun kedondong dapat mengikat zat besi dan mengurangi penyerapannya.

  2. Penggunaan pada penderita Penderita gastritis atau gangguan lambung

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Hindari konsumsi saat perut kosong dan gunakan dosis rendah karena tanin dapat mengiritasi mukosa lambung.

  3. Antasida atau suplemen kalsium/mineral

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Berikan jarak waktu 2–3 jam untuk mencegah interaksi polifenol/tanin dengan mineral yang dapat menurunkan efektivitasnya.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+8)

VI. Efek Samping Kedondong Leaf

Daun kedondong (Spondias dulcis) umumnya dikenal dalam pengobatan tradisional dan kuliner, namun konsumsi atau penggunaannya secara berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping gastrointestinal. Kandungan asam organik, tanin, dan serat yang tinggi di dalam daun kedondong berpotensi mengiritasi mukosa lambung, terutama pada individu yang memiliki riwayat sensitivitas lambung atau gastritis. Konsumsi ekstrak daun ini dalam jumlah besar dapat memicu gejala dyspepsia, seperti rasa perih di ulu hati, mual, kram perut, dan peningkatan produksi asam lambung akibat sifat astringen dari senyawa tanin yang dikandungnya.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Kedondong Leaf

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Kedondong Leaf.

Apa saja kandungan fitokimia dan nutrisi utama daun kedondong (Spondias dulcis)?
Daun kedondong mengandung golongan senyawa bioaktif antara lain flavonoid, fenol, tanin, saponin, steroid/triterpenoid, dan alkaloid. Dari sisi gizi, daun muda yang dikonsumsi sebagai lalapan dapat memberikan serat dan mineral seperti zat besi dan kalsium, tetapi data komposisi gizi lengkap masih terbatas. Kandungan fenolik dan flavonoid mendasari aktivitas antioksidan yang terlihat pada uji laboratorium. (Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 2015)
Bagaimana cara mengonsumsi daun kedondong dalam penggunaan sehari-hari?
Belum ada dosis baku yang ditetapkan oleh regulator. Secara tradisional, daun segar dicuci bersih lalu direbus dengan air panas 10–15 menit dan airnya diminum. Karena keamanan jangka panjang belum dibuktikan, perlakukan rebusan ini sebagai minuman herbal sesekali, bukan obat rutin. Di beberapa tradisi daun muda dimakan sebagai lalapan atau dimasak, tetapi konsumsi ekstrak atau rebusan pekat lebih berisiko. Jika ingin menggunakannya lebih dari beberapa hari, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. (Morton, J. Fruits of Warm Climates, 1987)
Apakah daun kedondong benar-benar berkhasiat sebagai obat?
Beberapa studi laboratorium menunjukkan ekstrak daun Spondias dulcis memiliki aktivitas antibakteri, antioksidan, antiradang, dan analgesik. Ekstrak etanol daun dapat menghambat bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dalam uji in vitro. Namun, hasil ini belum membuktikan khasiat obat pada manusia. Diperlukan uji klinis untuk memastikan dosis, keamanan, dan efektivitasnya. (Journal of Medicinal Plants Research, 2011)
Apakah daun kedondong dapat menurunkan gula darah?
Pada penelitian hewan, ekstrak daun kedondong dilaporkan menurunkan kadar glukosa darah dan memiliki aktivitas antidiare. Aktivitas ini diduga terkait kandungan flavonoid yang bekerja seperti inhibitor α-glukosidase, sehingga memperlambat penyerapan karbohidrat. Meskipun menjanjikan, bukti pada manusia belum ada. Penderita diabetes tidak boleh mengganti obat medis dengan daun ini tanpa pengawasan dokter. (Journal of Complementary and Integrative Medicine, 2019)
Bolehkah daun kedondong diberikan kepada bayi atau anak-anak?
Tidak disarankan. Belum ada data keamanan daun kedondong untuk bayi dan anak. Organisasi Kesehatan Dunia menekankan bahwa produk herbal harus memiliki data keamanan khusus untuk kelompok anak sebelum digunakan; tanpa data tersebut, herbal tidak boleh dianggap aman. Tanin dan saponin juga berpotensi mengganggu pencernaan serta penyerapan zat gizi. (WHO Guidelines on Safety Monitoring of Herbal Medicines, 2004)
Apakah daun kedondong aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Belum ada penelitian keamanan khusus, sehingga ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari penggunaan daun kedondong sebagai obat. Beberapa senyawa bioaktif dosis tinggi secara teoretis dapat memengaruhi otot polos, dan pada kehamilan risiko kontraksi uterus tidak dapat dikesampingkan. Pada ibu menyusui, metabolit herbal dapat masuk ke ASI dalam jumlah yang tidak diketahui. Gunakan hanya jika direkomendasikan oleh dokter. (WHO Guidelines on Safety Monitoring of Herbal Medicines, 2004)
Apa efek samping yang perlu diwaspadai dari konsumsi daun kedondong?
Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, diare, nyeri ulu hati, dan reaksi alergi. Tanin dapat mengikat protein dan mineral seperti zat besi dan zinc, sehingga kebiasaan minum rebusan pekat setiap hari dalam waktu lama berisiko mengganggu status gizi. Jika muncul gatal, ruam, atau sesak napas, segera hentikan penggunaan dan cari pertolongan medis. (Journal of Toxicology, 2017)
Apakah daun kedondong dapat berinteraksi dengan obat-obatan?
Ya, berpotensi. Kandungan flavonoid dan tanin dapat memengaruhi enzim CYP450 yang berperan dalam metabolisme obat, sehingga kadar obat dalam darah dapat meningkat atau menurun. Interaksi paling mungkin terjadi dengan obat diabetes, hipertensi, antikoagulan, dan antiplatelet. Jika sedang menjalani pengobatan, jangan mengonsumsi rebusan daun kedondong tanpa sepengetahuan dokter atau apoteker. (Drug Metabolism and Disposition, 2005)
Bagaimana penggunaan daun kedondong sebagai obat luar?
Secara empiris, daun segar dilumatkan dan digunakan sebagai kompres pada kulit, misalnya untuk bisul, nyeri sendi, atau luka ringan. Aktivitas antibakteri in vitro terhadap Staphylococcus aureus memberikan dasar biologis bagi penggunaan tradisional tersebut. Namun, kompres daun mentah tidak melalui sterilisasi, sehingga luka terbuka sebaiknya tidak ditutup kompres daun tanpa perawatan medis yang benar. (Journal of Medicinal Plants Research, 2011)

Belimbing

Averrhoa carambola

Matoa Leaf

Pometia pinnata

Cari: