Matoa Leaf

Pometia pinnata
Nama
Matoa Leaf
Nama Latin/Ilmiah
Pometia pinnata
Bagian Digunakan
Daun
Rasa
Pahit
Nama Lain
Matoa (Indonesia), kasai (Malaysia), taun (Papua New Guinea), dawa (Fiji), tava (Samoa).
Asal
Indonesia (Papua), Malaysia, Filipina, Papua Nugini, dan Pasifik.
Kandungan Utama
Flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, steroid/triterpenoid

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Matoa Leaf

Daun matoa (Pometia pinnata) merupakan bagian dari tumbuhan asli Papua yang kini banyak dibudidayakan di berbagai daerah tropis Indonesia. Secara morfologi, daunnya tersusun majemuk menyirip genap dengan anak daun yang berpasangan, berbentuk lonjong hingga lanset, serta memiliki tekstur mengilap di permukaan atasnya. Saat masih muda, daun berwarna merah kecokelatan, kemudian berubah menjadi hijau tua saat matang, menjadikannya tidak hanya berfungsi sebagai organ fotosintesis tetapi juga memiliki nilai estetika sebagai tanaman peneduh maupun tanaman hias.

Baca Lebih Lanjut
Update: 17 Agu 2026 - 03:40:34
 

II. Ciri-ciri Matoa Leaf

Tumbuh subur di daerah tropis dengan curah hujan tinggi, biasanya di hutan dataran rendah sampai ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Pohon ini suka tanah yang subur dan punya drainase baik. Karakteristik/ciri-ciri Matoa Leaf (Pometia pinnata):

Bagian Ciri-Ciri
Bentuk Daun Daun majemuk menyirip genap dengan susunan berseling.
Tekstur Permukaan Permukaannya agak kasar atau berkerut di bagian tulang daun, dengan tekstur yang sedikit kaku.
Ukuran Daun Panjang helaian daun bisa mencapai 20–80 cm, terdiri dari beberapa pasang anak daun yang panjangnya sekitar 10–30 cm.
Warna Daun Warna daun muda biasanya kemerahan atau kecokelatan, lalu berubah jadi hijau tua saat sudah dewasa.
Tepi Daun Bagian tepinya bergerigi halus atau bergelombang.
Tulang Daun Tulang daun menyirip, tampak jelas dan menonjol pada bagian bawah helaian daun.
Ujung Daun Bentuknya meruncing atau melancip di bagian ujung.

III. Manfaat Matoa Leaf

5 Manfaat Matoa Leaf untuk kesehatan.

  1. Penunjang antioksidan / kondisi stres oksidatif

    Flavonoid dan asam fenolat pada daun mendonorkan elektron radikal bebas, mengkelasi Fe2+/Cu2+, dan mengaktivasi jalur Nrf2/Keap1/ARE untuk meningkatkan ekspresi SOD, katalase, dan GPx.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Rutin, Asam Galat
    Tampilkan
  2. Antimikroba topikal untuk infeksi bakteri kulit

    Komponen polifenol berikatan dengan protein dinding sel dan membran bakteri; saponin meningkatkan permeabilitas membran, sedangkan flavonoid menghambat DNA girase/topoisomerase IV sehingga sintesis DNA bakteri terganggu.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Asam Galat, Katekin
    Tampilkan
  3. Diabetes melitus tipe 2 (kontrol glukosa darah)

    Flavonoid daun menghambat α-glukosidase dan α-amilase sehingga menurunkan hidrolisis pati; pada hewan, ekstrak diduga mengaktifkan AMPK dan meningkatkan translokasi GLUT4 ke membran sel.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Katekin, Rutin
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+2)

Advertisement


IV. Kandungan Matoa Leaf

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Matoa Leaf.

  1. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Antiinflamasi; Antibakteri; Inhibitor α-glukosidase Dan α-amilase, Sehingga Berpotensi Sebagai Antidiabetes..
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid glikosida
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Antiinflamasi; Pelindung Pembuluh Darah Kapiler; Antiplatelet; Penunjang Sirkulasi..
    Tampilkan
  3. Golongan: Flavonoid (flavonol)
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan; Antiinflamasi; Antiproliferatif; Memodulasi Jalur NF-κB; Berpotensi Sebagai Antikanker..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Matoa Leaf

Interaksi & Kontraindikasi Matoa Leaf dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Konsumsi teh daun matoa pada orang dewasa sehat dalam dosis wajar

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Aman dikonsumsi sesekali; hentikan bila muncul gejala alergi seperti gatal, ruam, atau sesak napas.

  2. Riwayat alergi terhadap famili Sapindaceae (kelengkeng, rambutan, lerak)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Hindari penggunaan karena kemungkinan reaksi silang; konsultasikan dengan ahli alergi sebelum digunakan.

  3. Kehamilan dan menyusui

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Hindari karena tidak ada data keamanan yang memadai; gunakan hanya jika tenaga kesehatan menyetujui.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+7)

VI. Efek Samping Matoa Leaf

Daun matoa (Pometia pinnata) secara tradisional sering digunakan dalam pengobatan herbal karena kandungan senyawa bioaktifnya seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang memiliki aktivitas antioksidan serta antimikroba. Meskipun demikian, penelitian ilmiah mengenai profil keamanan dan efek samping konsumsi ekstrak daun matoa pada manusia masih sangat terbatas. Sebagian besar uji toksisitas yang ada baru sebatas pada hewan uji laboratorium, yang menunjukkan bahwa pada dosis tertentu, ekstrak daun ini umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Namun, potensi efek samping tetap harus diwaspadai, terutama terkait dengan reaksi hipersensitivitas atau alergi pada individu yang sensitif terhadap tanaman dari keluarga Sapindaceae.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Matoa Leaf

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Matoa Leaf.

Apa kandungan fitokimia utama daun matoa (Pometia pinnata)?
Daun matoa dilaporkan mengandung metabolit sekunder golongan fenolik, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Senyawa fenolik dan flavonoid dikaitkan dengan aktivitas antioksidan dalam berbagai uji laboratorium, sedangkan saponin dan triterpenoid banyak ditemukan pada tumbuhan suku Sapindaceae. Namun profil kimia ini dapat bervariasi tergantung tempat tumbuh, umur daun, dan metode ekstraksi. Referensi: Harborne, J.B., 1984. Metode Fitokimia; Wink, M., 2010. Mode of Action and Toxicology of Plant Toxins and Secondary Metabolites.
Apakah daun matoa dapat dikonsumsi sebagai teh herbal setiap hari?
Secara tradisional, daun matoa dapat direbus dan diminum sebagai air seduhan. Namun belum ada dosis harian yang baku dan belum ada uji keamanan jangka panjang pada manusia. Konsumsi berlebihan atau dalam waktu lama tidak disarankan karena kandungan tanin dan saponin dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, mulas, atau konstipasi. Referensi: WHO, 2000. General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine; Wink, M., 2010.
Apa efek samping yang perlu diwaspadai dari penggunaan daun matoa?
Efek samping klinis daun matoa belum terdokumentasi secara memadai. Berdasarkan kandungan fitokimianya, ekstrak pekat atau konsumsi berlebihan berisiko menyebabkan iritasi lambung, mual, muntah, dan diare. Saponin dalam dosis tinggi dan bentuk murni dapat bersifat hemolitik, meskipun risiko ini lebih relevan pada pemberian parenteral daripada oral. Reaksi alergi seperti ruam atau gatal juga mungkin terjadi pada individu sensitif. Referensi: Wink, M., 2010. Mode of Action and Toxicology of Plant Toxins and Secondary Metabolites.
Bolehkah daun matoa digunakan untuk bayi dan anak-anak?
Tidak direkomendasikan. Belum ada penelitian keamanan dan dosis pediatrik untuk daun matoa. Anak-anak memiliki sistem metabolisme dan detoksifikasi yang belum matang sehingga lebih rentan terhadap efek senyawa aktif seperti saponin dan tanin. Untuk demam, diare, atau keluhan lain pada anak, gunakan terapi yang sudah terbukti aman seperti oralit dan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan. Referensi: WHO, 2000. General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine.
Apakah daun matoa aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Belum ada data keamanan yang mendukung penggunaan daun matoa pada ibu hamil dan menyusui. Oleh karena itu, penggunaannya tidak dianjurkan kecuali atas pengawasan tenaga kesehatan profesional. Senyawa metabolit sekunder seperti saponin dan tanin belum diketahui efeknya terhadap janin, kehamilan, dan produksi ASI. Ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari pengobatan herbal yang belum teruji klinis. Referensi: WHO, 2000. General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine.
Apakah daun matoa bisa menyembuhkan diabetes, hipertensi, atau infeksi?
Sampai saat ini belum ada uji klinis pada manusia yang membuktikan daun matoa dapat menyembuhkan diabetes, hipertensi, atau infeksi. Penelitian yang ada masih bersifat pendahuluan, seperti uji in vitro untuk antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi. Hasil laboratorium tidak dapat disamakan dengan efek terapi pada manusia. Daun matoa tidak boleh digunakan untuk menggantikan obat modern pada penyakit kronis tanpa pengawasan dokter. Referensi: Izzo, A.A., dkk., 2016. A Critical Approach to Evaluating Clinical Efficacy, Adverse Events and Drug Interactions of Herbal Remedies; WHO, 2000.
Apakah daun matoa dapat berinteraksi dengan obat resep?
Interaksi spesifik antara daun matoa dan obat resep belum banyak diteliti. Flavonoid dan senyawa polifenol lain diketahui dapat memengaruhi enzim metabolisme obat, terutama sitokrom P450, serta transporter obat seperti P-glikoprotein. Oleh karena itu, penggunaan bersamaan dengan obat antikoagulan, antidiabetik, atau antihipertensi berpotensi mengubah kadar obat dalam darah. Konsultasikan dengan apoteker atau dokter sebelum menggunakan herbal ini jika sedang menjalani pengobatan rutin. Referensi: Izzo, A.A., dkk., 2016. Phytotherapy Research.
Bagaimana cara pengolahan daun matoa yang paling aman?
Tidak ada standar resmi untuk pengolahan daun matoa sebagai obat. Untuk pemakaian luar, daun segar yang bersih dapat dilumatkan atau direbus lalu digunakan sebagai kompres. Untuk konsumsi oral, sebaiknya dibuat rebusan encer dan tidak diminum dalam jumlah berlebihan; hindari ekstrak pekat, terutama pada anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pastikan daun dicuci bersih dan direbus dengan air matang. Jika muncul keluhan, segera hentikan penggunaan dan cari pertolongan medis. Referensi: WHO, 2000. General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine.

Kedondong Leaf

Spondias dulcis

Sawo Leaf

Manilkara zapota

Cari: