Advertisement
Cyclea peltata, yang dikenal dalam pengobatan tradisional sebagai Patha atau Padma, adalah tumbuhan merambat dari famili Menispermaceae yang tersebar luas di wilayah Asia tropis, termasuk India, Sri Lanka, dan Indonesia. Tanaman ini memiliki daun berbentuk perisai (peltat) yang khas dengan permukaan halus, serta bunga jantan dan betina yang terpisah dalam malai. Akar dan batangnya yang berwarna kekuningan sering digunakan dalam sistem pengobatan Ayurveda dan Siddha sebagai tonik, antipiretik, serta penawar racun. Kandungan kimia utamanya meliputi alkaloid bisbenzilisoquinolin seperti cissampareine, cycleanine, dan hayatin, yang bertanggung jawab atas aktivitas farmakologisnya seperti antiinflamasi, analgesik, dan imunomodulator.
Tanaman ini adalah jenis tanaman merambat yang suka tumbuh di hutan sekunder atau area yang agak teduh. Biasanya ditemukan merambat pada pohon-pohon di dataran rendah sampai menengah dan cukup toleran terhadap berbagai jenis tanah. Karakteristik/ciri-ciri Patha (Cyclea peltata):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Batang | Berbentuk silindris, berkayu, dan punya sifat merambat dengan bantuan sulur. Permukaannya cenderung halus atau agak berbulu halus. |
| Daun | Bentuknya unik seperti tameng (peltata) atau jantung dengan ujung yang meruncing. Warnanya hijau cerah, teksturnya agak tipis tapi kuat, dan duduk daunnya berseling. |
| Bunga | Bunga berukuran sangat kecil dan tersusun dalam rangkaian malai. Tanaman ini bersifat dioecious, artinya bunga jantan dan bunga betina ada di pohon yang berbeda. |
| Buah | Buahnya berbentuk bulat kecil seperti batu permata (drupa). Saat masih muda berwarna hijau dan berubah menjadi kemerahan atau agak keunguan saat sudah matang. |
| Akar | Memiliki sistem perakaran yang kuat dengan rimpang yang sering dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena mengandung senyawa alkaloid. |
6 Manfaat Patha untuk kesehatan.
Menghambat aktivitas enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan lipoksigenase (LOX), menurunkan produksi prostaglandin dan leukotrien; menghambat jalur NF-κB sehingga menekan ekspresi sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-1β. Alkaloid bisbenzilisoquinolin seperti siklienin dan tetrandrin berperan sebagai modulator kalsium intraselular dan menghambat aktivasi neutrofil.
Mengganggu integritas membran sel bakteri melalui interaksi dengan lipid bilayer, menghambat sintesis protein dan asam nukleat; alkaloid kuarterner seperti berberin dan palmatin (meskipun dominan di spesies lain, Cyclea peltata juga mengandung senyawa serupa) bekerja dengan menghambat enzim topoisomerase dan menyebabkan kebocoran ion. Ekstrak juga menunjukkan aktivitas terhadap jamur melalui gangguan membran ergosterol.
Menyumbangkan elektron dan menstabilkan radikal bebas melalui gugus fenolik dan alkaloid; meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GPx) pada jaringan; menghambat peroksidasi lipid dengan mengkelat ion logam transisi.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Patha.
Interaksi & Kontraindikasi Patha dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.
Patha (Cyclea peltata) adalah tanaman obat tradisional yang telah lama digunakan dalam sistem pengobatan Ayurveda untuk mengatasi berbagai kondisi seperti demuk, gangguan pencernaan, dan inflamasi. Meskipun memiliki berbagai potensi terapeutik, penggunaan ekstrak tanaman ini dalam dosis yang tidak tepat atau tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan berbagai efek samping yang merugikan. Berdasarkan kajian farmakologis, beberapa senyawa alkaloid aktif yang terkandung di dalamnya dapat memicu toksisitas jika dikonsumsi secara berlebihan, terutama pada organ vital seperti hati dan ginjal yang bekerja keras untuk memetabolisme senyawa alkaloid tersebut.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Patha.