Advertisement
Cyclea peltata, yang dikenal dalam pengobatan tradisional sebagai Patha atau Padma, adalah tumbuhan merambat dari famili Menispermaceae yang tersebar luas di wilayah Asia tropis, termasuk India, Sri Lanka, dan Indonesia. Tanaman ini memiliki daun berbentuk perisai (peltat) yang khas dengan permukaan halus, serta bunga jantan dan betina yang terpisah dalam malai. Akar dan batangnya yang berwarna kekuningan sering digunakan dalam sistem pengobatan Ayurveda dan Siddha sebagai tonik, antipiretik, serta penawar racun. Kandungan kimia utamanya meliputi alkaloid bisbenzilisoquinolin seperti cissampareine, cycleanine, dan hayatin, yang bertanggung jawab atas aktivitas farmakologisnya seperti antiinflamasi, analgesik, dan imunomodulator.
Advertisement
Secara ekologis, Cyclea peltata tumbuh liar di hutan tropis lembap, tepi sungai, dan area berbatu pada ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini memerlukan naungan parsial dan tanah yang kaya humus dengan drainase baik. Perbanyakan alami terjadi melalui biji dan stek batang. Dalam budidaya, Patha sering ditanam di pekarangan rumah sebagai tanaman obat keluarga. Namun, eksploitasi berlebihan untuk konsumsi obat herbal tradisional menyebabkan populasinya menurun di beberapa habitat alami, sehingga diperlukan upaya konservasi melalui kultur jaringan dan pembudidayaan berkelanjutan.
Dalam pengobatan tradisional, seluruh bagian Cyclea peltata—terutama akar dan daun—dimanfaatkan untuk mengatasi gangguan pencernaan, demam, radang sendi, serta sebagai penawar bisa ular. Penelitian modern mengonfirmasi potensi ekstraknya dalam menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur patogen, serta aktivitas antioksidan yang kuat. Beberapa studi juga menunjukkan efek neuroprotektif dan hepatoprotektif pada hewan uji. Meskipun demikian, penggunaan klinis pada manusia masih memerlukan lebih banyak uji toksisitas dan uji klinis. Dengan meningkatnya minat terhadap pengobatan herbal berbasis bukti, Cyclea peltata menjadi salah satu kandidat fitofarmaka yang menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut.
Manfaat Patha untuk kesehatan.
Menghambat aktivitas enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan lipoksigenase (LOX), menurunkan produksi prostaglandin dan leukotrien; menghambat jalur NF-κB sehingga menekan ekspresi sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IL-6, dan IL-1β. Alkaloid bisbenzilisoquinolin seperti siklienin dan tetrandrin berperan sebagai modulator kalsium intraselular dan menghambat aktivasi neutrofil.
Mengganggu integritas membran sel bakteri melalui interaksi dengan lipid bilayer, menghambat sintesis protein dan asam nukleat; alkaloid kuarterner seperti berberin dan palmatin (meskipun dominan di spesies lain, Cyclea peltata juga mengandung senyawa serupa) bekerja dengan menghambat enzim topoisomerase dan menyebabkan kebocoran ion. Ekstrak juga menunjukkan aktivitas terhadap jamur melalui gangguan membran ergosterol.
Menyumbangkan elektron dan menstabilkan radikal bebas melalui gugus fenolik dan alkaloid; meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase (GPx) pada jaringan; menghambat peroksidasi lipid dengan mengkelat ion logam transisi.
Menurunkan kadar enzim transaminase (AST, ALT) dan alkali fosfatase (ALP) melalui penghambatan stres oksidatif dan peradangan di hati; memodulasi jalur Nrf2/ARE untuk menginduksi enzim detoksifikasi fase II; mengurangi deposisi lemak hepatik melalui aktivasi AMPK.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Patha.