Karpura / Camphor

Cinnamomum camphora
Nama
Karpura / Camphor
Nama Latin/Ilmiah
Cinnamomum camphora
Bagian Digunakan
Daun, Kulit Batang, Kayu
Rasa
Katu, tikta
Nama Lain
Kapur (Indonesia), Kapur Barus (Indonesia), Karpur (India), Kamfer (Belanda), Alcanfor (Spanyol)
Asal
Cina (termasuk Taiwan), Jepang, Korea, dan Vietnam.
Kandungan Utama
Kamfor, sineol, borneol, safrol

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Karpura / Camphor

Cinnamomum camphora, yang dikenal dengan nama karpura atau kamper, adalah pohon hijau abadi dari famili Lauraceae yang berasal dari kawasan Asia Timur, terutama Jepang, Tiongkok, dan Taiwan. Pohon ini dapat tumbuh hingga ketinggian 20–30 meter dengan tajuk yang rindang, daun yang mengilap dan aromatik ketika diremas, serta bunga kecil berwarna kekuningan yang kemudian berkembang menjadi buah beri hitam. Seluruh bagian pohonnya, khususnya kayu dan daun, mengandung minyak atsiri yang menjadi sumber utama kamper alami.

Baca Lebih Lanjut
Update: 05 Sep 2026 - 21:42:41
 

II. Ciri-ciri Karpura / Camphor

Pohon ini asli dari Asia Timur (seperti Tiongkok, Jepang, dan Taiwan). Mereka suka banget tumbuh di daerah beriklim hangat, tanah yang subur, serta punya sistem perakaran yang kuat buat menahan tanah. Gampang beradaptasi di lingkungan taman atau hutan sekunder. Karakteristik/ciri-ciri Karpura / Camphor (Cinnamomum camphora):

Bagian Ciri-Ciri
Tipe Tumbuhan Pohon besar yang selalu hijau (evergreen) dengan tajuk yang melebar dan lebat.
Batang Batangnya kokoh, kulit kayunya punya tekstur kasar, retak-retak memanjang, dan warnanya cokelat keabu-abuan.
Daun Daunnya tunggal, bentuknya oval agak meruncing di ujung, teksturnya licin mengkilap, dan kalau diremas bakal kecium aroma khas kapur barus yang tajam.
Bunga Bunganya kecil-kecil berwarna putih kekuningan, muncul dalam malai yang tumbuh di ketiak daun.
Buah Buahnya berbentuk bulat kecil (seperti beri), waktu masih muda warnanya hijau dan pas sudah matang berubah jadi hitam pekat.
Akar Sistem perakaran tunggang yang sangat kuat dan bisa tumbuh cukup dalam.

III. Manfaat Karpura / Camphor

7 Manfaat Karpura / Camphor untuk kesehatan.

  1. Anti-inflamasi dan nyeri sendi (osteoartritis; nyeri muskuloskeletal, topikal)

    Senyawa terpenoid kamper bekerja sebagai counterirritant; mengaktivasi kanal TRPV3/TRPA1 (dan sebagian TRPV1) pada nosiseptor kulit sehingga menyebabkan desensitisasi nyeri. Pada model eksperimental kamper juga menekan jalur NF-κB, menurunkan ekspresi COX-2, PGE2, TNF-α, dan IL-6.

    Senyawa Aktif: kamper, 1,8-Cineole, Linalool, α-Pinene
    Tampilkan
  2. Antimikroba spektrum luas (bakteri dan jamur)

    Monoterpen lipofilik berinteraksi dengan lipid bilayer membran sel mikroba, meningkatkan permeabilitas, kebocoran ion/ATP, dan depolarisasi membran. Beberapa senyawa juga menghambat pembentukan biofilm dan mengganggu enzim membran sel.

    Senyawa Aktif: kamper, 1,8-Cineole, α-Terpineol, Linalool
    Tampilkan
  3. Antioksidan (penangkal stres oksidatif)

    Flavonoid dan asam fenolat seperti kuersetin, kaempferol, dan eugenol mendonorkan atom hidrogen/elektron untuk menetralkan radikal bebas. Pada sel, senyawa ini juga dapat mengaktifkan jalur Nrf2/ARE sehingga meningkatkan enzim antioksidan endogen seperti SOD, katalase, dan glutation peroksidase.

    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+4)

Advertisement


IV. Kandungan Karpura / Camphor

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Karpura / Camphor.

  1. Golongan: Terpenoid (monoterpen keton)
    Bagian Tanaman: Daun, ranting, batang, kayu, akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Analgesik Topikal, Antipruritik, Rubefasien; Stimulan Respirasi Ringan Pada Dosis Rendah..
    Tampilkan
  2. Golongan: Terpenoid (monoterpen alkohol)
    Bagian Tanaman: Daun, ranting, batang
    Aktivitas Farmakologis:
    Anksiolitik, Sedatif, Analgesik, Antiinflamasi, Dan Antimikroba..
    Tampilkan
  3. Golongan: Terpenoid (monoterpen oksida)
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Mukolitik, Bronkodilator, Antiinflamasi Saluran Napas, Dan Antimikroba..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Karpura / Camphor

Interaksi & Kontraindikasi Karpura / Camphor dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Pemakaian topikal karpura pada orang dewasa sehat sesuai label, kulit utuh, area terbatas

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Boleh digunakan bila kadar kamper dalam sediaan sekitar ≤11% dan tidak dioleskan pada mata/mukosa. Jangan gunakan dengan balutan oklusif atau pada area terlalu luas. Hentikan bila timbul ruam, gatal, atau iritasi.

  2. Hipersensitivitas/alergi terhadap kamper atau minyak atsiri Cinnamomum camphora

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Kontraindikasi. Lakukan uji tempel sebelum pemakaian luas; jika timbul kemerahan, bengkak, atau gatal, jangan gunakan karpura dan cari alternatif lain.

  3. Kulit rusak, luka terbuka, eksim, luka bakar, atau psoriasis erosif

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Hindari penggunaan pada kulit tidak utuh karena penyerapan sistemik meningkat dan dapat menimbulkan efek toksik. Gunakan hanya pada kulit yang utuh.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+6)

VI. Efek Samping Karpura / Camphor

Karpura atau Camphor (Cinnamomum camphora) adalah senyawa organik terpenoid yang sering digunakan dalam produk topikal untuk meredakan nyeri dan batuk, serta dalam pengobatan tradisional. Namun, penggunaan camphor, terutama dalam bentuk murni atau dosis tinggi, memiliki risiko toksisitas yang signifikan. Toksisitas dapat terjadi melalui rute inhalasi, tertelan, atau penyerapan melalui kulit yang rusak atau selaput lendir. Gejala keracunan akut biasanya muncul dengan cepat, berkisar antara 5 hingga 90 menit setelah paparan, dan memengaruhi sistem saraf pusat serta saluran pencernaan.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Karpura / Camphor

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Karpura / Camphor.

Apa yang dimaksud dengan karpura/kapur barus dan bagaimana komposisi fitokimianya?
Karpura adalah nama lain untuk kapur barus; dalam botani, kapur barus berasal dari senyawa kamper (C10H16O) yang diisolasi dari kayu Cinnamomum camphora. Minyak atsiri tumbuhan ini mengandung kamper sebagai komponen utama, serta linalool, sineol, α-pinena, dan senyawa terpenoid lain. Kamper berperan sebagai metabolit sekunder, bukan nutrien, dan secara topikal dimanfaatkan sebagai iritan lokal/counterirritant. Rincian senyawa dan penggunaannya tercatat dalam Martindale: The Complete Drug Reference (Pharmaceutical Press).
Apakah kapur barus memiliki manfaat gizi jika dikonsumsi?
Tidak. Dari sudut pandang gizi, kapur barus tidak mengandung karbohidrat, protein, lemak esensial, vitamin, atau mineral yang dibutuhkan tubuh. Kamper adalah metabolit sekunder aromatik yang tidak dapat dijadikan sumber zat gizi; konsumsinya justru dapat menyebabkan keracunan sistemik. Buku Medical Toxicology of Natural Substances (Wiley, 2008) memasukkan kamper ke dalam senyawa alami yang tidak dianjurkan untuk ditelan.
Berapa konsentrasi kapur barus yang masih aman dalam produk obat luar?
Sebagai obat luar pereda nyeri/antigatal, kamper dibatasi sekitar 3–11% sesuai U.S. Code of Federal Regulations 21 CFR Part 348. Sediaan dengan kadar tersebut boleh dipakai pada kulit utuh, tetapi jangan pada luka terbuka, selaput lendir, atau dengan perban oklusif. Kadar >11% bersifat toksik dan tidak digunakan untuk produk konsumen.
Apakah kapur barus aman dikonsumsi atau ditelan sebagai obat?
Tidak aman untuk ditelan. Kamper cepat diserap dari saluran cerna, menembus sistem saraf pusat, dan dapat menyebabkan kejang, muntah, agitasi, serta henti napas. Belum ada dosis oral yang terbukti aman untuk tujuan pengobatan. Goldfrank's Toxicologic Emergencies (McGraw-Hill) mengkategorikan ingesti kamper sebagai kejadian toksik berat yang memerlukan tindakan medis emergensi.
Apa saja efek samping dan gejala keracunan kapur barus?
Paparan lokal berlebihan dapat menimbulkan iritasi, eritema, atau dermatitis kontak. Absorpsi sistemik dapat terjadi melalui kulit, inhalasi, dan terutama penelanan; gejalanya meliputi mual, halusinasi, rasa terbakar di mulut/kerongkongan, kejang tonik-klonik, depresi susunan saraf pusat, sampai koma. Menurut Clinical Toxicology 2006;44:357–370, kejang merupakan manifestasi utama toksisitas kamper dan dapat muncul tanpa banyak gejala awal.
Apakah kapur barus boleh digunakan untuk bayi atau anak-anak?
Tidak direkomendasikan. Bayi dan anak kecil memiliki berat badan rendah, sehingga paparan yang kecil pun dapat menghasilkan kadar neurotoksik yang berbahaya. Penggunaan pada baju, dada, atau hidung bayi dapat menyebabkan apnea, kejang, dan penurunan kesadaran. Pedoman Clinical Toxicology 2006;44:357–370 secara khusus menekankan bahwa anak kecil adalah kelompok berisiko tinggi; produk mengandung kamper sebaiknya dijauhkan dari bayi dan area tidur anak.
Apakah kapur barus aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Belum ada data keamanan yang memadai, dan penggunaan oral harus dihindari sama sekali. Kamper bersifat lipofilik sehingga dapat melintasi plasenta; pada konsentrasi tinggi berisiko menimbulkan reaksi neurotoksik pada ibu yang membahayakan janin. Ibu menyusui juga tidak boleh mengoleskan kamper di area payudara agar tidak tertelan oleh bayi. Untuk memenuhi prinsip kehati-hatian, hindari semua produk kapur barus yang tidak esensial selama hamil dan menyusui. Rujukan Drugs in Pregnancy and Lactation (Lippincott Williams & Wilkins) menganggap senyawa ini tidak aman bila digunakan tanpa pengawasan medis.
Bagaimana pertolongan pertama jika seseorang menelan kapur barus?
Jangan memicu muntah. Muntah pada keracunan kamper dapat menyebabkan aspirasi ke paru-paru dan memicu kejang mendadak. Segera bawa penderita ke unit gawat darurat dengan membawa kemasan produk, dan hubungi pusat informasi keracunan bila tersedia. Di rumah sakit, penatalaksanaan utamanya adalah suportif: pemberian antikonvulsan untuk kejang serta dukungan pernapasan. Rekomendasi ini sejalan dengan Clinical Toxicology 2006;44:357–370.

Erand / Castor

Ricinus communis

Talisa Patra

Abies webbiana

Cari: