Jengkol

Stinky Bean | Archidendron pauciflorum
Nama
Jengkol (Stinky Bean)
Nama Latin/Ilmiah
Archidendron pauciflorum
Famili
Bagian Digunakan
Biji
Rasa
Gurih, sedikit pahit
Nama Lain
Jengkol (Indonesia), Jering (Malaysia), Luk nieng (Thailand), Daing nhat (Myanmar)
Asal
Asia Tenggara, terutama Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Kandungan Utama
Asam jengkolat, alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Jengkol

Jengkol (Archidendron pauciflorum) merupakan tumbuhan khas Asia Tenggara yang termasuk dalam suku Fabaceae (polong-polongan). Pohon jengkol dapat tumbuh hingga mencapai 20 meter, dengan daun majemuk menyirip dan tajuk yang rindang. Buahnya berbentuk polong pipih berkelok, dan di dalamnya terdapat biji yang dikenal luas sebagai bahan pangan tradisional. Meskipun kerap dianggap sebagai “buah berbau” karena aromanya yang khas, jengkol memiliki tempat istimewa dalam kuliner masyarakat Indonesia, terutama diolah menjadi semur, rendang, atau sambal balado.

Baca Lebih Lanjut
Update: 15 Agu 2026 - 21:20:03
 

II. Ciri-ciri Jengkol

Tumbuh subur di daerah tropis seperti hutan hujan, dataran rendah, hingga perbukitan. Biasanya suka tanah yang lembap dan banyak ditemukan di Asia Tenggara. Karakteristik/ciri-ciri Jengkol (Archidendron pauciflorum):

Bagian Ciri-Ciri
Pohon Pohon berukuran sedang sampai besar dengan batang yang bisa mencapai tinggi 15-25 meter, kulit kayunya cenderung halus dan berwarna abu-abu kecokelatan.
Daun Daunnya majemuk, bentuknya menyirip ganda dengan anak daun yang berbentuk lonjong atau oval, warnanya hijau tua mengkilap.
Bunga Bunganya unik, muncul dalam kelompok atau malai, warnanya putih kekuningan dengan banyak benang sari yang membuatnya terlihat seperti bola-bola kecil yang lembut.
Buah Buahnya berbentuk polong yang melintir atau melingkar seperti spiral, warnanya hijau saat muda dan berubah jadi hitam atau cokelat tua saat sudah tua.
Biji Biji jengkol berada di dalam polong, teksturnya keras, dilapisi kulit ari yang tipis, dan punya bau khas yang sangat menyengat karena kandungan asam jengkolat.

III. Manfaat Jengkol

5 Manfaat Jengkol untuk kesehatan.

  1. Antihiperglikemia (Diabetes Melitus Tipe 2)

    Ekstrak biji jengkol menghambat α-glukosidase dan α-amilase di usus, sehingga memperlambat pemecahan karbohidrat kompleks dan menurunkan absorpsi glukosa. Efek ini diperkuat oleh flavonoid dan saponin yang berperan menekan stres oksidatif sel β pankreas pada model hewan.

    Senyawa Aktif: Kuersetin, Kaempferol, Saponin
    Tampilkan
  2. Antihiperlipidemia / Dislipidemia

    Saponin dan polifenol diduga menghambat absorpsi kolesterol dan asam empedu di intestinum, sedangkan flavonoid meningkatkan kapasitas antioksidan untuk mengurangi oksidasi LDL. Mekanisme pastinya belum dijelaskan secara rinci untuk jengkol.

    Senyawa Aktif: Saponin, Tanin, Flavonoid
    Tampilkan
  3. Antioksidan (pencegahan stres oksidatif)

    Senyawa fenolik seperti asam galat, asam ferulat, dan kaempferol menetralkan radikal bebas melalui donasi elektron atau atom hidrogen. Kapasitas peredaman DPPH/ABTS umumnya berkorelasi dengan total fenolik dan flavonoid ekstrak.

    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+2)

Advertisement


IV. Kandungan Jengkol

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Jengkol.

  1. Djenkolic acid (asam djenkolat)

    Golongan: Asam amino non-protein (derivat sistein)
    Bagian Tanaman: Biji (kotiledon)
    Aktivitas Farmakologis:
    Tidak Memiliki Indikasi Terapeutik; Efek Utama Adalah Toksik Pada Ginjal Karena Dapat Mengkristal Di Tubulus Ginjal..
    Tampilkan
  2. Golongan: Terpenoid/steroid (fitosterol)
    Bagian Tanaman: Biji (minyak biji); dilaporkan pula pada kulit batang
    Aktivitas Farmakologis:
    Menghambat Absorpsi Kolesterol Di Usus Dan Memiliki Efek Antiinflamasi..
    Tampilkan
  3. Golongan: Terpenoid/steroid (fitosterol)
    Bagian Tanaman: Kulit batang; biji
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi, Hipolipidemik, Dan Penghambat Aktivasi Inflamasi Pada Studi Eksperimental..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Jengkol

Interaksi & Kontraindikasi Jengkol dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Individu sehat dengan fungsi ginjal normal

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Konsumsi jengkol sesekali dalam porsi wajar, pastikan minum air putih cukup, dan hindari konsumsi berlebihan atau setiap hari.

  2. Penggunaan pada penderita Gangguan pencernaan fungsional (dispepsia)

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Batasi porsi jengkol karena dapat menyebabkan perut kembung; hentikan bila muncul nyeri ulu hati atau mual.

  3. Konsumsi jengkol mentah atau setengah matang

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Hindari; selalu masak jengkol hingga matang dan buang air rebusan untuk mengurangi kadar asam jengkolat.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+9)

VI. Efek Samping Jengkol

Konsumsi jengkol (Archidendron pauciflorum) secara berlebihan dapat memicu kondisi medis serius yang dikenal sebagai jengkolan atau keracunan asam jengkol. Efek samping utama ini disebabkan oleh tingginya kandungan asam jengkol (jengkolic acid), sebuah asam amino non-protein yang mengandung sulfur. Asam jengkol memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam lingkungan asam (seperti urin manusia). Ketika kadarnya dalam darah dan urin meningkat, asam ini dapat mengkristal dan membentuk struktur kristal tajam seperti jarum di dalam saluran kemih, mulai dari tubulus ginjal, ureter, hingga kandung kemih.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Jengkol

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Jengkol.

Apa kandungan fitokimia dan gizi utama jengkol?
Jengkol (Archidendron pauciflorum, sinonim Pithecellobium jiringa) mengandung asam djenkolat (djenkolic acid), yaitu asam amino non-protein bersulfur yang menjadi senyawa penanda dan penyebab efek toksik pada ginjal. Dari sisi gizi, biji jengkol mengandung energi, karbohidrat, protein, serat, serta mineral seperti kalsium, fosfor, dan zat besi. Beberapa penelitian awal juga menunjukkan adanya senyawa fenolik dan flavonoid pada ekstraknya, tetapi kandungannya bervariasi tergantung varietas, kondisi tanah, dan cara pengolahan. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.
Apakah jengkol aman dikonsumsi setiap hari?
Tidak dianjurkan mengonsumsi jengkol setiap hari. Belum ada dosis harian aman yang ditetapkan untuk asam djenkolat. Konsumsi harian atau berlebihan meningkatkan risiko terbentuknya kristal asam djenkolat di ginjal, terutama jika asupan air putih kurang atau ada riwayat gangguan ginjal. Jengkol sebaiknya diperlakukan sebagai makanan sesekali, bukan menu harian. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.
Apakah perendaman dan perebusan dapat menghilangkan efek toksik jengkol?
Merendam dan merebus jengkol dengan membuang air rebusannya dapat mengurangi sebagian senyawa yang larut dalam air, tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa cara tersebut menghilangkan asam djenkolat secara tuntas. Karena itu, pengolahan tidak menjamin jengkol sepenuhnya aman. Cara paling bijak adalah membatasi porsi, menghindari konsumsi saat dehidrasi, dan tidak mengonsumsinya jika memiliki gangguan ginjal. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.
Apa saja efek samping konsumsi jengkol?
Efek samping yang paling serius adalah djenkolism, yaitu kondisi keracunan akibat asam djenkolat. Gejalanya dapat berupa mual, muntah, nyeri perut, nyeri pinggang, kencing berdarah, dan penurunan volume urine. Gejala biasanya muncul beberapa jam hingga sekitar 12 jam setelah konsumsi. Pada kasus berat, djenkolism dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Orang dengan dehidrasi, gangguan ginjal, atau riwayat djenkolism memiliki risiko lebih tinggi. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.
Apakah jengkol dapat digunakan sebagai obat?
Jengkol tidak termasuk obat standar dan belum memiliki klaim terapi yang terbukti pada manusia. Beberapa studi laboratorium menunjukkan adanya aktivitas antioksidan atau antibakteri dari ekstrak jengkol, tetapi hasil tersebut masih bersifat awal dan tidak cukup dijadikan dasar penggunaan klinis. Karena risiko djenkolism dapat berakibat serius, menggunakan jengkol sebagai obat tidak dapat dibenarkan. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.
Bolehkah jengkol diberikan kepada bayi atau anak-anak?
Tidak dianjurkan. Ginjal bayi dan anak-anak masih dalam tahap perkembangan, sehingga risiko terbentuknya kristal asam djenkolat dan cedera ginjal akut lebih berbahaya. Belum ada dosis aman yang ditetapkan untuk anak. Jika anak tidak sengaja mengonsumsi jengkol, perhatikan gejala seperti muntah, nyeri perut, atau buang air kecil sedikit, dan segera bawa ke fasilitas kesehatan. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.
Bolehkah ibu hamil atau menyusui mengonsumsi jengkol?
Tidak dianjurkan. Belum ada data klinis yang memadai tentang keamanan jengkol pada ibu hamil dan menyusui. Djenkolism dapat menyebabkan gangguan ginjal akut yang berbahaya bagi ibu dan berisiko memengaruhi kehamilan. Pada ibu menyusui, belum diketahui apakah asam djenkolat atau metabolitnya dapat masuk ke dalam ASI. Karena itu, prinsip kehati-hatian lebih diutamakan, yaitu menghindari jengkol selama hamil dan menyusui. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.
Apa yang harus dilakukan jika muncul gejala setelah makan jengkol?
Jika muncul mual, muntah, nyeri pinggang, kencing merah, atau buang air kecil sangat sedikit setelah makan jengkol, segera hentikan konsumsi jengkol, perbanyak minum air putih, dan cari pertolongan medis. Penanganan djenkolism dapat meliputi hidrasi, koreksi elektrolit, alkalisasi urine, dan pada kasus berat diperlukan hemodialisis. Jangan menunda pemeriksaan karena kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal ginjal akut. Sumber: Barceloux, D.G. (2008). Medical Toxicology of Natural Substances. John Wiley & Sons.

Petai / Pete

Parkia speciosa

Kecombrang

Etlingera elatior

Cari: