Advertisement
Jengkol (Archidendron pauciflorum) merupakan tumbuhan khas Asia Tenggara yang termasuk dalam suku Fabaceae (polong-polongan). Pohon jengkol dapat tumbuh hingga mencapai 20 meter, dengan daun majemuk menyirip dan tajuk yang rindang. Buahnya berbentuk polong pipih berkelok, dan di dalamnya terdapat biji yang dikenal luas sebagai bahan pangan tradisional. Meskipun kerap dianggap sebagai “buah berbau” karena aromanya yang khas, jengkol memiliki tempat istimewa dalam kuliner masyarakat Indonesia, terutama diolah menjadi semur, rendang, atau sambal balado.
5 Manfaat Jengkol untuk kesehatan.
Ekstrak biji jengkol menghambat α-glukosidase dan α-amilase di usus, sehingga memperlambat pemecahan karbohidrat kompleks dan menurunkan absorpsi glukosa. Efek ini diperkuat oleh flavonoid dan saponin yang berperan menekan stres oksidatif sel β pankreas pada model hewan.
Saponin dan polifenol diduga menghambat absorpsi kolesterol dan asam empedu di intestinum, sedangkan flavonoid meningkatkan kapasitas antioksidan untuk mengurangi oksidasi LDL. Mekanisme pastinya belum dijelaskan secara rinci untuk jengkol.
Senyawa fenolik seperti asam galat, asam ferulat, dan kaempferol menetralkan radikal bebas melalui donasi elektron atau atom hidrogen. Kapasitas peredaman DPPH/ABTS umumnya berkorelasi dengan total fenolik dan flavonoid ekstrak.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Jengkol.
Konsumsi jengkol (Archidendron pauciflorum) secara berlebihan dapat memicu kondisi medis serius yang dikenal sebagai jengkolan atau keracunan asam jengkol. Efek samping utama ini disebabkan oleh tingginya kandungan asam jengkol (jengkolic acid), sebuah asam amino non-protein yang mengandung sulfur. Asam jengkol memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam lingkungan asam (seperti urin manusia). Ketika kadarnya dalam darah dan urin meningkat, asam ini dapat mengkristal dan membentuk struktur kristal tajam seperti jarum di dalam saluran kemih, mulai dari tubulus ginjal, ureter, hingga kandung kemih.