Daun Sesewanua

Clerodendrum squamatum
Nama
Daun Sesewanua
Nama Latin/Ilmiah
Clerodendrum squamatum
Bagian Digunakan
Daun
Rasa
Pahit
Nama Lain
Sesewanua (Indonesia), bagawak (Filipina), scarlet glorybower (Inggris), Java glorybower (Inggris)
Asal
Daun Sesewanua (Clerodendrum squamatum) berasal dari Asia Tenggara, meliputi Cina selatan, Indochina, Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Kandungan Utama
Flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, dan steroid/triterpenoid.

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Daun Sesewanua

Daun Sesewanua (Clerodendrum squamatum) merupakan tumbuhan perdu berkayu yang termasuk dalam famili Lamiaceae, yang sebelumnya diklasifikasikan ke dalam Verbenaceae. Tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama lokal di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, dan memiliki ciri khas berupa daun yang lebar dengan tekstur permukaan yang sedikit kasar serta urat daun yang menonjol. Meskipun sering dianggap sebagai tumbuhan liar di tepi hutan atau semak belukar, Sesewanua menyimpan potensi besar sebagai tanaman obat tradisional yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat sejak turun-temurun, terutama di wilayah Sulawesi Utara dan beberapa daerah lain di Nusantara.

Baca Lebih Lanjut
Update: 16 Agu 2026 - 01:40:06
 

II. Ciri-ciri Daun Sesewanua

Tanaman ini suka banget tumbuh di area yang agak lembap, biasanya ditemukan di pinggiran hutan, semak belukar, atau di lahan yang cukup terkena sinar matahari tapi tetap punya kelembapan tanah yang terjaga. Karakteristik/ciri-ciri Daun Sesewanua (Clerodendrum squamatum):

Bagian Ciri-Ciri
Bentuk Daun Berbentuk jantung (cordate) dengan bagian ujung yang meruncing.
Tekstur Permukaan Permukaan daun terasa agak kasar, sedikit berbulu halus, dan punya pola tulang daun yang terlihat cukup jelas dan menonjol di bagian bawah.
Ukuran Daunnya tergolong cukup lebar dan besar, tumbuh berhadapan pada batang.
Warna Warna hijaunya pekat saat sudah dewasa, tapi kadang ada semburat kemerahan pada tangkai daunnya.
Tangkai Daun Tangkainya cukup panjang dan kuat, warnanya seringkali cenderung kemerahan atau kecokelatan.
Tepi Daun Bagian pinggir daunnya cenderung rata atau memiliki gerigi yang sangat halus.

III. Manfaat Daun Sesewanua

7 Manfaat Daun Sesewanua untuk kesehatan.

  1. Anti-inflamasi dan pengurang nyeri

    Ekstrak daun menghambat enzim siklooksigenase-2 (COX-2), lipooksigenase (LOX), dan menurunkan mediator inflamasi TNF-α, IL-1β, IL-6, serta prostaglandin E2. Triterpenoid dan flavonoid menekan aktivasi NF-κB dan menurunkan regulasi iNOS.

    Senyawa Aktif: Asam Ursolat, Luteolin, akteosid/verbaskosida, β-Sitosterol
    Tampilkan
  2. Antioksidan penangkal stres oksidatif

    Polifenol dan flavonoid menyumbangkan atom hidrogen untuk menetralkan radikal bebas, mengkhelat logam transisi, menghambat peroksidasi lipid, serta meningkatkan aktivitas enzim antioksidan intraseluler melalui jalur Nrf2/ARE.

    Senyawa Aktif: Luteolin, Apigenin, Asam Kafeat, akteosid/verbaskosida
    Tampilkan
  3. Antimikroba spektrum luas

    Flavonoid dan saponin mengganggu integritas membran mikroba, menyebabkan kebocoran membran; triterpenoid mengganggu sintesis dinding sel dan aktivitas efluks bakteri.

    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+4)

Advertisement


IV. Kandungan Daun Sesewanua

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Daun Sesewanua.

  1. Verbaskosid (akteosid)

    Golongan: Feniletanoid glikosida
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi: Menekan Ekspresi COX-2, INOS, Dan Sitokin Proinflamasi Melalui Jalur NF-κB.
    Tampilkan
  2. Golongan: Flavonoid glikosida
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan Dan Venotonik: Menangkap Radikal Bebas, Mengurangi Edema, Dan Memperkuat Dinding Kapiler.
    Tampilkan
  3. Kersetin

    Golongan: Flavonoid aglikon
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan Dan Antiinflamasi: Menghambat Lipoksigenase Dan Memodulasi Mediator Inflamasi.
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Daun Sesewanua

Interaksi & Kontraindikasi Daun Sesewanua dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Suplemen zat besi (Fe)

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Kandungan tanin dalam daun dapat mengikat zat besi dan menurunkan penyerapannya. Beri jeda minimal 2–4 jam antara konsumsi daun sesewanua dan suplemen zat besi; pantau kadar hemoglobin jika digunakan rutin.

  2. Antasida oral

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Ion logam dari antasida dapat berikatan dengan tanin sehingga mengurangi efektivitas keduanya. Pisahkan jadwal konsumsi minimal 2 jam.

  3. Penggunaan bersamaan dengan Obat antihipertensi (ACEi/ARB, penyekat beta, diuretik)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    C. squamatum berpotensi menurunkan tekanan darah. Kombinasi dengan obat antihipertensi dapat menyebabkan hipotensi berlebihan; monitor tekanan darah dan konsultasikan dosis obat.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+16)

VI. Efek Samping Daun Sesewanua

Daun Sesewanua (Clerodendrum squamatum) merupakan tanaman herbal yang secara tradisional sering digunakan oleh masyarakat untuk berbagai tujuan pengobatan, seperti menurunkan demam dan mengatasi peradangan. Namun, seperti halnya banyak tanaman obat tradisional lainnya, penggunaan ekstrak atau bagian dari tanaman ini belum sepenuhnya melalui uji klinis ekstensif pada manusia. Oleh karena itu, potensi efek samping dan toksisitasnya masih memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dosis yang tidak terkontrol. Beberapa penelitian pendahuluan pada hewan menunjukkan bahwa konsumsi sediaan herbal dari genus Clerodendrum dalam dosis berlebihan dapat memicu gangguan pada organ vital seperti hati dan ginjal, mengingat organ-organ tersebut bekerja lebih keras untuk memetabolisme senyawa fitokimia asing yang masuk ke dalam tubuh.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Daun Sesewanua

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Daun Sesewanua.

Apa kandungan fitokimia utama Daun Sesewanua?
Daun Sesewanua (Clerodendrum squamatum Vahl) adalah sinonim dari Clerodendrum japonicum (Thunb.) Sweet menurut Plants of the World Online (2023). Skrining fitokimia menunjukkan adanya flavonoid, fenolik, saponin, tanin, steroid/triterpenoid, serta clerodane diterpenoid; kelompok senyawa inilah yang bertanggung jawab atas aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dalam uji pendahuluan (Rumondor dkk., 2017, Jurnal MIPA UNSRAT; Bhatt dkk., 2019, Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry).
Bagaimana dosis atau cara pemakaian tradisional Daun Sesewanua?
Tidak ada dosis standar ilmiah. Secara tradisional, daun segar dicuci dan ditumbuk untuk tapal luka atau nyeri; untuk demam, 3-5 lembar daun direbus dengan 200 ml air selama 10-15 menit, lalu disaring dan diminum. Cara ini hanya dosis empiris dan belum divalidasi uji klinis, sehingga tidak disarankan untuk diminum lebih dari 3 hari berturut-turut tanpa konsultasi tenaga kesehatan (Rumondor dkk., 2017, Jurnal MIPA UNSRAT).
Apakah aman mengonsumsi teh Daun Sesewanua setiap hari?
Belum aman untuk dijadikan minuman harian. Belum ada data keamanan jangka panjang. Konsumsi sesekali pada orang dewasa mungkin masih ditemukan di beberapa daerah, tetapi akumulasi saponin dan tanin dapat mengiritasi mukosa lambung jika digunakan terus-menerus. Jangan menganggapnya sebagai teh biasa karena mengandung senyawa bioaktif, bukan sekadar bahan pangan (Bhatt dkk., 2019, Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry).
Apa efek samping yang perlu diwaspadai setelah menggunakan Daun Sesewanua?
Efek samping yang dilaporkan terutama berupa iritasi saluran cerna seperti mual, muntah, nyeri ulu hati, dan diare, terutama pada dosis tinggi; reaksi alergi juga mungkin terjadi. Jika timbul ruam kulit, gatal, sesak napas, atau muntah terus-menerus, hentikan penggunaan dan segera cari pertolongan medis. Profil keamanan manusia masih minim, sehingga penggunaannya harus hati-hati (Rumondor dkk., 2017, Jurnal MIPA UNSRAT).
Bolehkah Daun Sesewanua digunakan untuk bayi atau anak-anak?
Tidak dianjurkan. Belum ada studi keamanan dan dosis pediatri untuk Clerodendrum squamatum. Bayi dan balita lebih rentan terhadap dehidrasi akibat diare dan bersifat lebih sensitif terhadap senyawa saponin/terpenoid. WHO dan lembaga obat menganjurkan agar herbal yang belum terbukti aman tidak digunakan pada anak tanpa pengawasan dokter (WHO, 2004, WHO Guidelines on Safety Monitoring of Herbal Medicines in Pharmacovigilance Systems).
Apakah Daun Sesewanua boleh dikonsumsi ibu hamil dan menyusui?
Tidak dianjurkan. Tidak ada bukti keamanan pada kehamilan dan laktasi. Beberapa spesies dalam genus Clerodendrum diketahui merangsang otot polos, sehingga berisiko menimbulkan kontraksi uterus jika digunakan pada kehamilan. Pada ibu menyusui belum diketahui apakah senyawa aktifnya dapat masuk ke ASI; karena itu hindari penggunaan kecuali atas rekomendasi dokter; gunakan obat dan makanan bernutrisi yang telah teruji (Jain dkk., 2020, Journal of Herbal Medicine).
Apakah daun ini dapat berinteraksi dengan obat-obatan modern?
Berpotensi berinteraksi karena beberapa ekstrak Clerodendrum menunjukkan efek farmakologi seperti penurunan tekanan darah dan kadar gula darah pada penelitian preklinis. Jika dikonsumsi bersama obat antihipertensi, obat diabetes, atau obat pengencer darah, dapat terjadi efek berlebihan seperti hipotensi, hipoglikemia, atau peningkatan risiko perdarahan. Sebaiknya beri tahu dokter atau apoteker sebelum menggunakan herbal ini (Bhatt dkk., 2019, Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry).
Apakah Daun Sesewanua memiliki nilai gizi tinggi untuk dikonsumsi sebagai sayuran?
Belum ada data komposisi gizi resmi untuk Daun Sesewanua dalam Tabel Komposisi Pangan Indonesia (Kemenkes RI, 2020). Daun ini tidak dapat diandalkan sebagai sumber protein, lemak, vitamin, atau mineral sampai penelitian nutrisi dan laboratorium resmi tersedia. Daun ini lebih tepat digunakan sebagai obat herbal dosis tertentu, bukan sebagai sayuran lauk (Rumondor dkk., 2017, Jurnal MIPA UNSRAT).
Apakah Daun Sesewanua dapat menyembuhkan penyakit seperti demam berdarah atau hipertensi?
Belum ada bukti ilmiah yang memadai untuk klaim penyembuhan penyakit berat. Penelitian yang ada masih bersifat in vitro dan hewan, menunjukkan aktivitas antioksidan, antiradang, dan antimikroba pendahuluan. Menggunakan daun ini sebagai pengganti obat standar justru dapat membahayakan; peran yang paling realistis hanyalah terapi komplementer di bawah pengawasan tenaga kesehatan (Bhatt dkk., 2019, Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry; Rumondor dkk., 2017, Jurnal MIPA UNSRAT).

Daun Legetan

Synedrella nodiflora

Daun Kecubung

Datura metel

Cari: