Advertisement
Cabai atau chili pepper (Capsicum annuum) merupakan salah satu spesies tumbuhan dari genus Capsicum yang berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Tanaman ini telah didomestikasi sejak ribuan tahun lalu dan kini tersebar luas di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sebagai bumbu masakan utama. Secara botani, Capsicum annuum termasuk dalam famili Solanaceae, berdaun tunggal, berbunga putih atau keunguan, dan buahnya bervariasi dalam bentuk, ukuran, serta tingkat kepedasan. Meskipun namanya "annuum" yang berarti tahunan, tanaman ini sebenarnya bersifat perennial di habitat aslinya, namun sering dibudidayakan sebagai tanaman semusim.
Tumbuh paling oke di dataran rendah sampai dataran tinggi (sekitar 0-2.000 mdpl) dengan suhu hangat, butuh banyak sinar matahari, dan tanah yang subur serta tidak tergenang air. Karakteristik/ciri-ciri Cabai (Capsicum annuum):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Perawakan | Tanaman semak atau perdu yang tingginya bisa mencapai 0,5 sampai 1,5 meter. |
| Akar | Akar tunggang yang bercabang cukup kuat untuk menopang tanaman. |
| Batang | Batangnya berkayu, berbentuk bulat, banyak cabang, dan warnanya hijau muda sampai hijau tua saat masih muda. |
| Daun | Daunnya tunggal, bentuknya oval dengan ujung meruncing, letaknya berselang-seling, dan warnanya hijau segar. |
| Bunga | Bunga berbentuk bintang dengan lima kelopak, biasanya berwarna putih bersih dan menggantung atau menghadap ke bawah. |
| Buah | Buah buni dengan bentuk bervariasi (memanjang, mengerucut, atau bulat), warnanya berubah dari hijau saat muda jadi merah atau oranye terang saat sudah matang. |
| Biji | Biji banyak, bentuknya pipih bulat, berwarna kuning pucat atau krem, dan letaknya menempel pada plasenta di dalam buah. |
8 Manfaat Cabai untuk kesehatan.
Capsaicin mengaktivasi reseptor TRPV1 pada serabut saraf sensorik tipe C dan Aδ, menyebabkan depolarisasi dan pelepasan substansi P. Paparan berulang menyebabkan desensitisasi dan defungsionalisasi serabut saraf, mengurangi transmisi nyeri. Efek juga melibatkan penurunan ekspresi TRPV1 dan perubahan neuropeptida.
Capsaicin secara reversibel mengaktivasi dan kemudian mendesensitisasi neurit sensorik di sendi melalui TRPV1, menghambat pelepasan substansi P dan CGRP, mediator inflamasi. Efek anti-inflamasi tambahan melalui penekanan jalur NF-κB dan COX-2 pada sel sinovial.
Desensitisasi serabut saraf sensorik via TRPV1, mengurangi hiperalgesia sentral dan perifer. Capsaicin juga memodulasi saluran ion potensial (TRPA1) dan menurunkan sitokin pro-inflamasi seperti IL-6 dan TNF-α di jaringan lokal.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Cabai.
Interaksi & Kontraindikasi Cabai dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.
Konsumsi cabai (Capsicum annuum) secara berlebihan atau pada individu yang sensitif dapat menimbulkan berbagai efek samping, terutama pada saluran pencernaan. Senyawa aktif utama dalam cabai, yaitu kapsaisin, merangsang reseptor nyeri TRPV1 yang memicu sensasi terbakar. Hal ini dapat menyebabkan iritasi lambung, nyeri epigastrik, mual, muntah, serta memperburuk gejala pada pasien dengan sindrom iritasi usus besar (IBS) atau penyakit refluks gastroesofageal (GERD). Selain itu, kontak langsung dengan kulit atau mata saat mengolah cabai dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan, rasa perih yang intens, serta peradangan lokal pada jaringan mukosa.
Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Cabai.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Cabai.