Brotowali

Guruchi | Tinospora crispa
Brotowali
Nama
Brotowali (Guruchi)
Nama Latin/Ilmiah
Tinospora crispa
Bagian Digunakan
Batang
Rasa
Pahit

Nama Lain
Bratawali (Indonesia), patawali (Malaysia), boraphet (Thailand), guduchi (India), Tinospora cordifolia
Asal
Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, India, Filipina, Sri Lanka
Kandungan Utama
Berberin, pikroretin, tinokrisposida, flavonoid

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Brotowali

Tinospora crispa, yang dikenal luas di Nusantara sebagai brotowali, adalah tumbuhan merambat dari famili Menispermaceae. Tanaman ini dapat ditemukan tumbuh liar di hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan sering dibudidayakan di pekarangan sebagai tanaman obat tradisional. Batangnya yang kecil dan melilit memiliki ciri khas berupa tonjolan-tonjolan tidak beraturan, sementara daunnya berbentuk hati dengan ujung meruncing. Rasa batangnya yang sangat pahit telah menjadi identitas utama brotowali, sehingga dalam pengobatan herbal sering dijuluki sebagai "raja obat pahit".

Baca Lebih Lanjut
Update: 12 Agu 2026 - 12:44:05
 

II. Ciri-ciri Brotowali

Brotowali biasanya tumbuh liar di hutan, semak belukar, atau sekitar pagar rumah. Tanaman ini suka tempat yang teduh dengan kelembapan cukup dan merambat pada pohon lain untuk mencari sinar matahari. Karakteristik/ciri-ciri Brotowali (Tinospora crispa):

Bagian Ciri-Ciri
Batang Berkayu, bentuknya bulat dengan permukaan yang khas yaitu berbenjol-benjol (seperti kutil) dan keriput, warnanya hijau kecokelatan.
Daun Daun tunggal berbentuk jantung atau bulat telur dengan ujung yang meruncing, permukaan daun halus, dan memiliki tangkai yang panjang.
Bunga Bunganya kecil-kecil, berbentuk tandan yang muncul di ketiak daun atau di sepanjang batang yang sudah tua.
Akar Akar tunggang yang cukup kuat, seringkali muncul akar gantung dari batangnya yang merambat.
Buah Buah batu berbentuk lonjong atau bulat telur, saat masih muda berwarna hijau dan berubah menjadi merah saat sudah matang.

III. Manfaat Brotowali

8 Manfaat Brotowali untuk kesehatan.

  1. Antidiabetes

    Menghambat enzim α-glukosidase dan α-amilase, meningkatkan sekresi insulin melalui aktivasi jalur AMPK dan PPARγ, serta meningkatkan translokasi GLUT4 ke membran sel otot rangka.

    Senyawa Aktif: Borapetoside C, Tinsporine, 8-Hydroxy-dihydrotinsporine
    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi

    Menghambat aktivasi NF-κB dan menekan ekspresi COX-2, iNOS, serta produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, IL-1β) melalui jalur MAPK dan PI3K/Akt.

    Senyawa Aktif: Borapetoside A, N-trans-feruloyltyramine, 8-Hydroxy-dihydrotinsporine
    Tampilkan
  3. Antioksidan

    Meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen (SOD, katalase, glutation peroksidase) dan menangkap radikal bebas seperti DPPH, ABTS, serta mengurangi peroksidasi lipid.

    Senyawa Aktif: Borapetoside B, Tinsporidine, Flavonoid kuersetin dan kaempferol
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Brotowali

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Brotowali.

  1. Golongan: Alkaloid
    Bagian Tanaman: Batang
    Aktivitas Farmakologis:
    Antidiabetes, Antimikroba, Antiinflamasi, Hipolipidemik.
    Tampilkan
  2. Golongan: Alkaloid
    Bagian Tanaman: Batang
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi, Antimikroba, Antioksidan.
    Tampilkan
  3. Golongan: Alkaloid
    Bagian Tanaman: Batang
    Aktivitas Farmakologis:
    Antimikroba, Antiprotozoa, Antikanker.
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Brotowali

Interaksi & Kontraindikasi Brotowali dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Penggunaan bersamaan dengan obat antidiabetes (insulin, sulfonilurea, metformin)

    Tingkat Resiko: Tinggi
    Rekomendasi:
    Hindari kombinasi tanpa monitoring ketat. Brotowali dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan, meningkatkan risiko hipoglikemia. Pantau gula darah secara teratur dan sesuaikan dosis obat antidiabetes jika perlu.

  2. Penggunaan bersamaan dengan obat antihipertensi (misalnya kaptopril, amlodipin)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Kombinasi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah berlebihan. Pantau tekanan darah secara berkala dan konsultasikan dengan dokter untuk penyesuaian dosis.

  3. Penggunaan bersamaan dengan obat imunosupresan (siklosporin, takrolimus, kortikosteroid)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Brotowali bersifat imunomodulator dan dapat mengurangi efektivitas imunosupresan. Hindari penggunaan bersamaan, terutama pada pasien transplantasi atau penyakit autoimun.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+7)

VI. Efek Samping Brotowali

Brotowali (Tinospora crispa) dikenal sebagai tanaman herbal tradisional yang sering digunakan untuk menurunkan kadar gula darah, meredakan demam, dan sebagai antiinflamasi. Namun, konsumsi ekstrak brotowali, terutama dalam dosis tinggi atau jangka panjang,, dapat memicu berbagai efek samping yang signifikan. Salah satu efek samping utama yang paling banyak dilaporkan dalam literatur medis adalah toksisitas pada hati (hepatotoksisitas). Beberapa uji klinis dan laporan kasus menunjukkan bahwa penggunaan brotowali dapat menyebabkan peningkatan enzim hati seperti SGPT (ALT) dan SGOT (AST), serta berpotensi memicu hepatitis akibat obat (drug-induced liver injury) yang ditandai dengan gejala seperti mual, muntah, nyeri perut kanan atas, dan ikterus (penurunan fungsi hati yang menyebabkan kekuningan pada kulit dan mata).

Baca Semua Efek Samping

VII. Studi Klinis & Meta-Analisis Brotowali

Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Brotowali.

  1. Tinospora crispa (L.) Hook.f. & Thomson (Menispermaceae): A review of its traditional uses, phytochemistry, and pharmacological activities

    Tahun: 2020
    Temuan:
    Tinospora crispa memiliki berbagai aktivitas farmakologi seperti antihiperglikemik, antiinflamasi, antioksidan, imunomodulator, antimikroba, dan antimalaria. Tinjauan ini mendukung penggunaan tradisionalnya terutama untuk diabetes, namun uji klinis lebih lanjut masih diperlukan.
    Tampilkan

VIII. FAQ Brotowali

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Brotowali.

Apa senyawa aktif utama dalam brotowali (Tinospora crispa) yang bertanggung jawab atas efek farmakologisnya?
Senyawa aktif utama brotowali meliputi alkaloid (seperti berberin, palmatin, dan jatrorrhizin), diterpenoid (seperti tinocrisposide), flavonoid, serta glikosida. Berberin dikenal memiliki efek antidiabetes, antiinflamasi, dan antimikroba. Sumber: Phytochemistry and pharmacology of Tinospora crispa: a review, Journal of Ethnopharmacology, 2019.
Apakah brotowali aman dikonsumsi setiap hari sebagai jamu?
Konsumsi brotowali setiap hari tidak disarankan tanpa pengawasan profesional. Penggunaan jangka panjang atau dosis tinggi dapat menyebabkan hepatotoksisitas dan nefrotoksisitas. Studi pada hewan menunjukkan bahwa ekstrak brotowali dosis tinggi dapat merusak hati dan ginjal. Sumber: Subchronic toxicity study of Tinospora crispa stem extract in rats, BMC Complementary and Alternative Medicine, 2017.
Bagaimana cara konsumsi brotowali yang benar untuk pengobatan tradisional?
Cara umum adalah merebus batang brotowali kering (sekitar 3-5 gram) dalam 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas, lalu diminum 1 kali sehari. Namun, dosis harus disesuaikan dengan kondisi individu dan sebaiknya tidak lebih dari 2 minggu berturut-turut. Sumber: Pedoman Penggunaan Tanaman Obat, Badan POM RI, 2020.
Apa efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi brotowali?
Efek samping yang dilaporkan meliputi mual, muntah, diare, sakit kepala, dan reaksi alergi. Penggunaan dosis tinggi atau jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas) dan gangguan ginjal. Sumber: Adverse effects of Tinospora crispa: a systematic review, Journal of Herbal Medicine, 2021.
Apakah brotowali aman untuk ibu hamil dan menyusui?
Tidak aman. Brotowali mengandung alkaloid berberin yang dapat merangsang kontraksi rahim dan berpotensi menyebabkan keguguran. Selain itu, senyawa aktif dapat masuk ke ASI dan membahayakan bayi. Wanita hamil dan menyusui sangat dilarang mengonsumsi brotowali. Sumber: Herbal medicines in pregnancy: an updated review, Drug Safety, 2018.
Bolehkah brotowali diberikan kepada bayi atau anak-anak?
Tidak dianjurkan. Belum ada data keamanan yang memadai untuk penggunaan brotowali pada bayi dan anak-anak. Sistem detoksifikasi hati dan ginjal anak belum matang, sehingga risiko toksisitas lebih tinggi. Penggunaan pada anak hanya boleh dilakukan atas petunjuk dokter dengan dosis yang sangat terbatas. Sumber: Safety of herbal medicines in children, Paediatric Drugs, 2020.
Apa manfaat brotowali untuk kesehatan umum, misalnya untuk diabetes dan demam?
Beberapa studi menunjukkan bahwa ekstrak brotowali dapat menurunkan kadar gula darah melalui peningkatan sensitivitas insulin dan penghambatan enzim alfa-glukosidase. Selain itu, sifat antipiretik dan antiinflamasi brotowali digunakan secara tradisional untuk menurunkan demam. Namun, efektivitasnya masih memerlukan uji klinis lebih lanjut. Sumber: Antidiabetic potential of Tinospora crispa: a review, Phytotherapy Research, 2016.
Apakah brotowali dapat berinteraksi dengan obat-obatan modern?
Ya, brotowali berpotensi berinteraksi dengan obat antidiabetes, antihipertensi, dan obat pengencer darah (warfarin). Berberin dapat meningkatkan efek hipoglikemik dan hipotensif, serta menghambat metabolisme obat di hati melalui sitokrom P450. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi brotowali bersamaan dengan obat lain. Sumber: Herb-drug interactions: a focus on Tinospora crispa, Drug Metabolism Reviews, 2022.

Kumis Kucing

Orthosiphon aristatus

Mahkota Dewa

Phaleria macrocarpa

Cari: