Advertisement
Singkong (Manihot esculenta) merupakan tanaman perdu tropis yang berasal dari Amerika Selatan dan telah menyebar luas ke berbagai wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Umbinya dikenal sebagai sumber karbohidrat utama setelah padi dan jagung. Tanaman ini memiliki daya adaptasi yang luar biasa, mampu tumbuh di lahan kering, tanah marginal, dan dengan curah hujan rendah. Secara morfologis, akar tunggangnya termodifikasi menjadi umbi yang kaya pati, sementara daunnya berbentuk menjari dan bercelah dalam. Keunggulan utama singkong terletak pada kemampuannya bertahan di kondisi tanah yang kurang subur, menjadikannya tanaman pangan penting bagi ketahanan pangan di negara berkembang.
7 Manfaat Singkong untuk kesehatan.
Senyawa fenolik dan flavonoid bertindak sebagai donor elektron untuk menetralkan radikal bebas (ROS/RNS), mengkelat ion logam transisi, serta mengaktifkan jalur Nrf2/ARE sehingga meningkatkan ekspresi enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase, katalase, dan glutathione peroksidase. Peroksidasi lipid juga dapat ditekan, ditunjukkan dengan penurunan malondialdehid.
Flavonoid dan fitosterol dalam daun singkong menghambat enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan 5-lipoksigenase (5-LOX), sehingga menurunkan produksi prostaglandin dan leukotrien. Jalur NF-κB juga ditekan, yang berakibat pada penurunan sitokin proinflamasi seperti IL-1β, IL-6, dan TNF-α.
Saponin dan tanin merusak integritas membran sel mikroba melalui interaksi dengan lipid dan protein membran, meningkatkan permeabilitas dan menyebabkan kebocoran sel. Flavonoid seperti quercetin juga dapat menghambat adhesi bakteri dan enzim DNA girase, sehingga mengganggu multiplikasi bakteri.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Singkong.
Singkong (Manihot esculenta) mengandung glikosida sianogenik, terutama linamarin dan lotaustralin, yang dapat berubah menjadi asam sianida (HCN) yang sangat beracun jika dikonsumsi dalam keadaan mentah atau tidak diolah dengan benar. Enzim linamarase yang ada di dalam singkong akan menghidrolisis linamarin menjadi asam sianida ketika sel-sel tanaman rusak saat dikunyah atau dicerna. Keracunan sianida akut dapat menyebabkan gejala seperti pusing, sakit kepala, mual, muntah, kebingungan, penurunan kesadaran, hingga kematian dalam kasus yang parah akibat hambatan pada respirasi seluler.