Wasabi

Wasabi | Eutrema japonicum
Wasabi
Nama
Wasabi (Wasabi)
Nama Latin/Ilmiah
Eutrema japonicum
Bagian Digunakan
Rimpang
Rasa
Pedas

Nama Lain
Wasabi (Jepang), Japanese horseradish (Inggris), Shankui (Tiongkok), Gochu-naengi (Korea), Japanischer Meerrettich (Jerman)
Asal
Jepang, Rusia, Korea
Kandungan Utama
Alil isotiosianat, sinigrin, glukosinolat

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Wasabi

Eutrema japonicum, yang lebih dikenal sebagai wasabi, adalah tumbuhan herba abadi dari famili Brassicaceae (suku kubis-kubisan) yang berasal dari daerah aliran sungai pegunungan dingin di Jepang, Rusia timur, dan Korea. Tanaman ini memiliki rimpang (batang bawah tanah) yang tebal dan berwarna hijau cerah, yang merupakan bagian paling bernilai karena digunakan sebagai bumbu pedas khas masakan Jepang seperti sashimi dan sushi. Rimpang wasabi tumbuh sangat lambat—membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 tahun untuk mencapai ukuran panen—dan memerlukan kondisi lingkungan yang sangat spesifik: suhu air yang sejuk (10–18°C), air mengalir bersih yang kaya oksigen, serta naungan terlindung dari sinar matahari langsung. Karena tuntutan budidaya yang rumit ini, wasabi asli (hon-wasabi) sulit diproduksi secara massal, sehingga sebagian besar "wasabi" di pasaran adalah campuran lobak pedas, sawi, dan pati.

Baca Lebih Lanjut
Update: 11 Agu 2026 - 05:00:04
 

II. Ciri-ciri Wasabi

Tumbuh subur di daerah pegunungan yang sejuk, biasanya di sepanjang aliran air yang jernih dan mengalir dengan suhu air yang stabil antara 10-15°C. Tanaman ini sangat sensitif terhadap panas dan butuh tempat yang teduh dengan kelembapan tinggi. Karakteristik/ciri-ciri Wasabi (Eutrema japonicum):

Bagian Ciri-Ciri
Batang Memiliki batang bawah tanah yang menebal (sering disebut rimpang atau rhizoma) yang merupakan bagian utama yang dipanen untuk dijadikan pasta wasabi.
Daun Berbentuk seperti jantung (cordate) dengan pinggiran yang agak bergelombang, memiliki tangkai daun yang panjang dan tumbuh dari pangkal batang.
Bunga Bunga kecil berwarna putih dengan empat kelopak yang tersusun membentuk pola silang, khas tanaman dari keluarga Brassicaceae.
Akar Sistem perakarannya berbentuk serabut yang tumbuh di air atau tanah yang sangat basah untuk menyerap nutrisi dan menahan tanaman di aliran air.
Tekstur Warna Rimpangnya berwarna hijau cerah dengan tekstur yang agak kasar karena bekas pertumbuhan daun yang gugur.

III. Manfaat Wasabi

8 Manfaat Wasabi untuk kesehatan.

  1. Antioksidan

    Senyawa polifenol dan flavonoid (seperti asam rosmarinat, apigenin, dan eugenol) menangkal radikal bebas dengan mendonorkan atom hidrogen, mengaktifkan enzim antioksidan endogen (misalnya superoksida dismutase, katalase), dan mengatur jalur Nrf2/ARE.

    Tampilkan
  2. Antimikroba (spektrum luas)

    Minyak atsiri kemangi (terutama linalool, metil kavikol, dan eugenol) mengganggu membran sel bakteri dan jamur, menghambat sintesis ergosterol (pada jamur), serta menginduksi kebocoran ion dan molekul kecil dari sel mikroba.

    Senyawa Aktif: Linalool, Metil kavikol (estragole), Eugenol
    Tampilkan
  3. Anti-inflamasi

    Eugenol dan linalool menghambat aktivasi NF-κB, menurunkan ekspresi COX-2 dan iNOS, serta menekan produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-1β, IL-6). Asam rosmarinat juga menghambat jalur lipoksigenase.

    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Wasabi

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Wasabi.

  1. Allyl isothiocyanate (AITC)

    Golongan: Isotiosianat (glukosinolat hidrolisat)
    Bagian Tanaman: Rimpang (terbentuk saat pengolahan dari sinigrin)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antimikroba, Antikanker (in Vitro), Antiinflamasi; Efek Pada Manusia Belum Diuji Secara Klinis Untuk Terapi Spesifik..
    Tampilkan
  2. 6-Methylsulfinylhexyl isothiocyanate (6-MSITC)

    Golongan: Isotiosianat
    Bagian Tanaman: Rimpang
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi (inhibisi NF-κB), Neuroprotektif (in Vitro), Antikanker (apoptosis Sel); Uji Klinis Manusia Masih Terbatas..
    Tampilkan
  3. Sinigrin

    Golongan: Glukosinolat
    Bagian Tanaman: Rimpang dan daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Prekursor AITC; Induksi Enzim Detoksifikasi Fase II (in Vitro); Potensi Antikanker; Belum Ada Uji Klinis Manusia Sebagai Agen Tunggal..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Wasabi

Interaksi & Kontraindikasi Wasabi dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Antikoagulan (warfarin, heparin)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Wasabi mengandung isotiosianat yang dapat memengaruhi agregasi trombosit dan memperpanjang waktu perdarahan. Konsumsi berlebihan bersamaan dengan antikoagulan berpotensi meningkatkan risiko perdarahan. Disarankan membatasi asupan wasabi dan memantau tanda perdarahan; konsultasi dengan dokter sebelum dikonsumsi rutin.

  2. Penggunaan pada penderita Gangguan tiroid (hipotiroidisme, gondok)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Wasabi termasuk famili Brassicaceae yang mengandung goitrogen (misalnya glukosinolat). Pada individu dengan fungsi tiroid rendah atau defisiensi yodium, konsumsi wasabi dalam jumlah besar dapat mengganggu penyerapan yodium dan memperburuk hipotiroidisme. Dianjurkan konsumsi dalam jumlah wajar dan tidak berlebihan, terutama jika tidak diimbangi asupan yodium yang cukup.

  3. Penggunaan pada penderita Gangguan lambung (tukak lambung, GERD, gastritis)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Senyawa isotiosianat dalam wasabi bersifat iritatif pada mukosa lambung dan dapat memperparah iritasi atau peradangan pada individu dengan gangguan lambung. Sebaiknya hindari konsumsi wasabi mentah atau dalam jumlah banyak; gunakan dalam jumlah sangat kecil sebagai penyedap dan perhatikan reaksi individu.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+4)

VI. Efek Samping Wasabi

Wasabi asli (Eutrema japonicum) mengandung senyawa aktif utama yang disebut allyl isothiocyanate (AITC). Senyawa ini bertanggung jawab atas sensasi pedas menyengat yang khas serta efek antimikroba dan antioksidan tanaman tersebut. Namun, konsumsi wasabi dalam jumlah berlebihan atau pada individu yang sensitif dapat memicu beberapa efek samping, terutama pada saluran pencernaan. Sifat iritan dari AITC dapat merangsang produksi asam lambung secara berlebihan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan ketidaknyamanan epigastrik, rasa terbakar di dada (heartburn), mual, dan pada kasus yang parah memicu gastritis atau memperburuk gejala tukak lambung.

Baca Semua Efek Samping

VII. Studi Klinis & Meta-Analisis Wasabi

Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Wasabi.

  1. Pengaruh Wasabi (Eutrema japonicum) terhadap Memori Kerja pada Lansia Sehat: Uji Acak Tersamar Ganda Terkontrol Plasebo

    Tahun: 2023
    Temuan:
    Suplementasi wasabi yang mengandung 6-MSITC meningkatkan memori kerja secara signifikan dibandingkan plasebo. Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan.
    Tampilkan
  2. Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Rimpang Wasabi (Eutrema japonicum) pada Makrofag RAW264.7 yang Distimulasi Lipopolisakarida

    Tahun: 2022
    Temuan:
    Ekstrak wasabi menurunkan produksi NO, TNF-α, dan IL-6 secara bergantung pada konsentrasi. Mekanisme diduga melalui penghambatan jalur NF-κB dan MAPK.
    Tampilkan
  3. 6-MSITC dari Wasabi (Eutrema japonicum) Meningkatkan Ekspresi BDNF dan Memori Spasial pada Tikus Tua

    Tahun: 2021
    Temuan:
    Pemberian 6-MSITC meningkatkan ekspresi brain-derived neurotrophic factor (BDNF) di hipokampus. Tikus yang diberi 6-MSITC menunjukkan peningkatan memori spasial pada uji Morris water maze.
    Tampilkan

VIII. FAQ Wasabi

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Wasabi.

Apa senyawa aktif utama dalam wasabi (Eutrema japonicum) yang memberikan rasa pedas dan manfaat kesehatan?
Wasabi mengandung isotiosianat alil (allyl isothiocyanate, AITC) dan isotiosianat 6-metilsulfinilheksil (6-MSITC) yang merupakan senyawa glukosinolat terhidrolisis. 6-MSITC bersama dengan isotiosianat lainnya (seperti 7-MSITC dan 8-MSITC) adalah komponen utama yang memberikan rasa pedas khas wasabi. Senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi yang signifikan. (Morimitsu et al., 2002; Yamada-Kato et al., 2021)
Apakah aman mengonsumsi wasabi setiap hari dalam jumlah wajar?
Konsumsi wasabi segar atau pasta wasabi asli dalam jumlah kecil (misalnya 1-2 gram per hari) umumnya aman bagi kebanyakan orang dewasa. Namun, wasabi mengandung isotiosianat yang dapat mengiritasi mukosa lambung jika dikonsumsi berlebihan. Pasta wasabi kemasan sering mengandung tambahan lobak pedas, pati, dan pewarna, yang perlu diperhatikan kandungannya. Untuk konsumsi harian, sebaiknya tidak melebihi 5 gram wasabi segar per hari untuk menghindari iritasi saluran cerna. (Kumagai et al., 1994; EFSA, 2019)
Apa efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi wasabi?
Efek samping yang umum meliputi sensasi terbakar di mulut, hidung, dan tenggorokan akibat stimulus isotiosianat pada reseptor TRPA1. Pada individu sensitif, konsumsi berlebihan dapat menyebabkan iritasi lambung, mual, muntah, atau diare. Kasus reaksi alergi (urtikaria, angioedema) sangat jarang tetapi telah dilaporkan pada orang yang alergi terhadap tanaman Brassicaceae. Wasabi juga dapat berinteraksi dengan obat antikoagulan (warfarin) secara teoritis karena kandungan vitamin K yang rendah, namun data klinis masih terbatas. (Rivas et al., 2019; Barceloux, 2008)
Apakah wasabi aman dikonsumsi oleh ibu hamil atau menyusui?
Wasabi dalam jumlah kecil sebagai bumbu masakan umumnya aman untuk ibu hamil dan menyusui. Namun, tidak ada penelitian khusus yang memastikan keamanan dosis tinggi. Kandungan isotiosianat dalam jumlah besar dapat merangsang kontraksi rahim secara teoritis, sehingga hindari konsumsi berlebihan atau suplemen wasabi pekat selama kehamilan. Ibu menyusui disarankan membatasi konsumsi wasabi karena senyawa pedas dapat terbawa ke ASI dan menyebabkan iritasi pada bayi. Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen wasabi atau dalam jumlah besar. (National Center for Biotechnology Information, 2023; Committee on Toxicity, 2009)
Bolehkah wasabi diberikan kepada bayi atau anak-anak?
Tidak disarankan memberikan wasabi kepada bayi di bawah usia 1 tahun karena sistem pencernaan dan enzimatik mereka belum matang serta risiko tersedak atau iritasi mukosa. Untuk anak di atas 1 tahun, wasabi hanya boleh diberikan dalam jumlah sangat kecil sebagai bumbu, dan hanya jika anak sudah terbiasa dengan makanan pedas. Senyawa isotiosianat dapat menyebabkan iritasi saluran napas dan mulut, sehingga hindari pasta wasabi pada anak yang memiliki masalah alergi atau asma. (American Academy of Pediatrics, 2019; Pediatric Nutrition Handbook, 2014)
Apakah wasabi memiliki manfaat antibakteri yang dapat membantu mencegah keracunan makanan?
Ya, penelitian in vitro menunjukkan bahwa ekstrak wasabi, terutama isotiosianat alil (AITC), efektif menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli O157:H7, Salmonella spp., Listeria monocytogenes, dan Staphylococcus aureus. AITC bekerja dengan merusak membran sel dan menghambat enzim bakteri. Namun, efektivitas dalam tubuh manusia masih perlu dikaji lebih lanjut karena konsentrasi yang dicapai di saluran cerna mungkin tidak setinggi dalam uji laboratorium. Wasabi yang dikonsumsi bersama sushi mungkin memberikan efek perlindungan tambahan, namun tidak dapat menggantikan praktik keamanan pangan yang baik. (Nishimura et al., 2000; Lee et al., 2014)
Bagaimana cara memilih dan menyimpan wasabi agar kandungan fitokimianya tetap optimal?
Pilih wasabi segar (rimpang) yang keras, tidak layu, dan beraroma kuat. Rimpang wasabi segar mengandung glukosinolat yang akan diubah menjadi isotiosianat saat diparut. Untuk penyimpanan: bungkus rimpang wasabi dalam kain lembap dan simpan di lemari es (suhu 1–4°C) dalam wadah tertutup rapat, dapat bertahan hingga 2-3 minggu. Pasta wasabi kemasan yang dibuka harus disimpan di lemari es dan digunakan dalam 1-2 minggu. Pemanasan berlebih (di atas 60°C) dapat menonaktifkan enzim myrosinase yang diperlukan untuk pembentukan isotiosianat, sehingga sebaiknya wasabi ditambahkan pada hidangan setelah dimasak. (Halkier & Gershenzon, 2006; Radošević et al., 2018)

Oregano Syria

Origanum syriacum

Lobak Pedas

Armoracia rusticana

Cari: