
Advertisement
Eurycoma longifolia, yang lebih dikenal sebagai Tongkat Ali atau Pasak Bumi, adalah tumbuhan perdu asli hutan hujan Asia Tenggara, terutama ditemukan di Malaysia, Indonesia, dan Thailand. Akar tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk meningkatkan vitalitas pria, mengatasi kelelahan, dan sebagai afrodisiak. Kandungan senyawa bioaktif seperti quassinoid, eurycomanone, dan alkaloid dipercaya menjadi kunci efek farmakologisnya. Penelitian modern menunjukkan potensi Tongkat Ali dalam meningkatkan kadar testosteron, memperbaiki kualitas sperma, serta mendukung kesehatan otot dan tulang, menjadikannya populer di dunia suplemen herbal.
Advertisement
Studi klinis dan laboratorium telah mengungkap mekanisme kerja Eurycoma longifolia yang kompleks. Eurycomanone, misalnya, bertindak sebagai inhibitor enzim aromatase yang dapat mengurangi konversi testosteron menjadi estrogen, sehingga meningkatkan rasio testosteron bebas. Selain itu, ekstrak akar ini juga menunjukkan aktivitas antioksidan kuat yang melindungi sel-sel dari stres oksidatif, serta efek adaptogenik yang membantu tubuh beradaptasi terhadap stres fisik dan mental. Beberapa riset juga mengindikasikan potensi antimikroba, antipiretik, dan antikanker, meskipun masih diperlukan studi lebih lanjut untuk memvalidasi klaim tersebut pada manusia.
Meskipun manfaatnya menjanjikan, konsumsi Tongkat Ali perlu diwaspadai karena efek samping dan kontraindikasi. Dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan insomnia, gelisah, peningkatan denyut jantung, atau ketidakseimbangan hormon. Wanita hamil, menyusui, dan penderita gangguan hormonal atau tekanan darah tinggi disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mengonsumsinya. Regulasi suplemen herbal di berbagai negara masih bervariasi, sehingga penting untuk memilih produk yang telah teruji keamanan dan kemurniannya. Dengan pendekatan yang bijak, Eurycoma longifolia tetap menjadi salah satu herbal andalan dalam mendukung kesehatan pria secara alami.
Manfaat Pasak Bumi untuk kesehatan.
Eurycomanone dan quassinoid lain merangsang aksis hipotalamus-hipofisis-gonad, meningkatkan sekresi hormon luteinizing (LH) yang selanjutnya meningkatkan produksi testosteron di sel Leydig. Efek ini juga dimediasi oleh penghambatan esteroid sulfatase dan peningkatan ekspresi gen steroidogenesis (StAR, CYP11A1).
Eurycomanone mengaktifkan jalur AMPK (AMP-activated protein kinase) pada jaringan hati dan otot, meningkatkan uptake glukosa dan sensitivitas insulin. Senyawa quassinoid juga menghambat α-glukosidase usus sehingga memperlambat penyerapan karbohidrat. Secara in vitro, ekstrak menurunkan resistensi insulin melalui penekanan NF-κB dan jalur JNK.
Eurycomanone dan pasakbumin A-B menghambat aktivasi NF-κB dengan mencegah degradasi IκBα, sehingga menurunkan produksi sitokin proinflamasi (TNF-α, IL-6, IL-1β). Ekstrak juga memblokir enzim COX-2 dan 5-LOX, mengurangi sintesis prostaglandin dan leukotrien. In vivo, ekstrak menekan jalur TLR4/MyD88 pada sinovium.
Senyawa flavonoid (quercetin, kaempferol) dan quassinoid (eurycomanone) berfungsi sebagai donor elektron langsung, menetralkan radikal bebas (ROS, RNS). Ekstrak meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen seperti superoksida dismutase (SOD), glutathione peroksidase (GPx), dan katalase di hati dan darah melalui aktivasi faktor transkripsi Nrf2.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Pasak Bumi.
Pada rentang dosis yang teruji dalam uji klinis (200–600 mg ekstrak per hari selama 4–12 minggu), Pasak Bumi relatif aman dan efek samping umumnya ringan/sementara.[1][2] Namun, monografi keamanan mencatat kemungkinan gangguan gastrointestinal seperti mual, nyeri ulu hati, kembung, dan diare, terutama bila dikonsumsi saat perut kosong.[4] Penggunaan dosis tinggi atau jangka panjang tanpa jeda dapat memicu insomnia, gelisah, agitasi, sakit kepala, mulut kering, rasa panas, serta jantung berdebar. Oleh karena pengaruhnya terhadap sistem androgen, sebagian pengguna sensitif dapat mengalami perubahan mood, iritabilitas, atau jerawat, dan risiko tersebut makin relevan pada pria dengan gangguan prostat atau orang dengan kondisi keganasan peka hormon.[2][4]
Secara fitokimia, potensi efek samping ini berkaitan dengan senyawa quassinoid (terutama eurycomanone dan eurycomalactone), alkaloid canthin-6-one, serta beta-carboline yang terkonsentrasi pada akar.[3] Senyawa pahit quassinoid dapat merangsang mukosa lambung dan menimbulkan mual; eurycomanone juga berpotensi memodulasi jalur pensinyalan androgen dan enzim metabolisme obat, sehingga pada dosis berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormonal dan interaksi dengan obat lain. Selain itu, stimulasi sistem saraf simpatik oleh komponen ekstrak diduga menjelaskan insomnia, palpitasi, dan peningkatan suhu tubuh pada orang yang sensitif. Data keamanan jangka panjang masih terbatas, sehingga penggunaannya perlu dibatasi secara siklus dan dipantau.[1][3][4]
Ahli kedokteran menyarankan agar Pasak Bumi diperlakukan sebagai zat aktif hormonal, bukan tonik bebas. Gunakan hanya pada dewasa sehat dengan indikasi yang jelas, dalam siklus pendek (4–6 minggu) dan jeda 1–2 minggu. Mulailah dari dosis rendah, tingkatkan bertahap, dan konsumsi setelah makan untuk mengurangi keluhan gastrointestinal.
- Talbott SM, Talbott JA, Pugh M. Effect of Tongkat Ali on stress hormones and psychological mood state in moderately stressed subjects. J Int Soc Sports Nutr. 2013;10(1):28.
- Ismail SB, et al. A randomized controlled trial of Tongkat Ali (Eurycoma longifolia Jack) extract on sexual health and testosterone in healthy males. Andrologia. 2012;44(5):338-345.
- Bhat R, Karim AA. Tongkat Ali (Eurycoma longifolia Jack): a review on its ethnobotany and pharmacological importance. J Ethnopharmacol. 2010;127(2):186-196.
- Eurycoma longifolia (Tongkat Ali) Monograph. Natural Medicines, Therapeutic Research Center. 2023.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Pasak Bumi.