Advertisement
Rhus coriaria, yang lebih dikenal sebagai sumac, adalah semak perdu atau pohon kecil dari famili Anacardiaceae yang banyak ditemukan di kawasan Mediterania, Timur Tengah, dan Asia Barat. Tumbuhan ini telah digunakan selama ribuan tahun, baik sebagai bumbu masakan maupun dalam pengobatan tradisional. Buah sumac yang matang berwarna merah tua hingga keunguan, dikeringkan lalu digiling menjadi bubuk asam yang khas, menjadi bahan utama dalam masakan Timur Tengah seperti za'atar dan fattoush. Kandungan asam malat, asam tartarat, dan antioksidan flavonoid memberikan rasa tajam sekaligus manfaat kesehatan, seperti antimikroba dan antiinflamasi.
Advertisement
Secara botani, sumac termasuk tumbuhan dioecious, artinya bunga jantan dan betina tumbuh pada individu berbeda. Daunnya majemuk menyirip dengan tepi bergerigi, dan saat musim gugur berubah menjadi merah menyala. Buahnya berupa drupa kecil yang terkumpul dalam malai padat. Proses panen dilakukan sebelum buah benar-benar kering di pohon, lalu dijemur dan dihaluskan. Tidak seperti beberapa anggota famili Anacardiaceae lainnya yang beracun (misalnya poison ivy), sumac aman dikonsumsi dan bahkan menjadi rempah komersial penting di banyak negara.
Selain kegunaan kuliner, sumac memiliki peran ekologis dan sejarah yang menarik. Akarnya mampu memperbaiki tanah tandus karena bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen. Dalam praktik pengobatan kuno, rebusan sumac digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan, demam, dan infeksi saluran kemih. Penelitian modern menunjukkan ekstrak Rhus coriaria memiliki aktivitas antioksidan tinggi, potensi antidiabetes, dan mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Kini sumac tidak hanya populer di dapur, tetapi juga mulai dilirik industri kosmetik dan farmasi sebagai sumber senyawa bioaktif alami.
Manfaat Sumac untuk kesehatan.
Ekstrak sumac menghambat aktivasi NF-κB dan menurunkan ekspresi COX-2, iNOS, serta sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1β, dan IL-6. Senyawa flavonoid dan tanin menghambat jalur MAPK dan mengurangi produksi prostaglandin E2.
Polifenol sumac menghambat α-glukosidase dan α-amilase, meningkatkan sekresi insulin melalui aktivasi GLUT4, serta mengurangi resistensi insulin dengan menghambat jalur JNK dan PKC. Juga menghambat sorbitol dehidrogenase.
Menghambat HMG-CoA reduktase (secara in vitro), meningkatkan ekspresi PPAR-α, mengurangi absorpsi kolesterol usus melalui pengikatan dengan asam empedu, serta meningkatkan aktivitas LCAT.
Polifenol sumac sebagai donor elektron langsung (kapasitas ORAC dan DPPH tinggi) dan menginduksi enzim antioksidan endogen melalui jalur Nrf2/Keap1. Meningkatkan SOD, GPx, dan menurunkan MDA.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Sumac.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Sumac.