Shatavari

Shatavari | Asparagus racemosus
Nama
Shatavari (Shatavari)
Nama Latin/Ilmiah
Asparagus racemosus
Bagian Digunakan
Akar
Rasa
Madhura, Tikta
Nama Lain
Satawari (India), Satamuli (Bangladesh), Hathawariya (Sri Lanka), Setawari (Malaysia), Indian asparagus (Amerika Serikat)
Asal
India, Sri Lanka, Nepal, Bhutan
Kandungan Utama
Shatavari (Asparagus racemosus): saponin steroid, flavonoid, alkaloid

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Shatavari

Asparagus racemosus, yang lebih dikenal sebagai Shatavari, merupakan tanaman perdu merambat dari famili Asparagaceae yang tumbuh liar di berbagai wilayah tropis India, Sri Lanka, dan Asia Tenggara. Secara botanis, tanaman ini memiliki akar berbentuk umbi-umbian kecil yang berwarna putih kekuningan, daun berbentuk jarum halus, serta bunga kecil berwarna putih yang muncul dalam tandan. Nama "Shatavari" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "memiliki seratus suami" atau "yang mampu merawat seribu penyakit", merujuk pada khasiatnya yang sangat dihormati dalam pengobatan Ayurveda terutama untuk kesehatan reproduksi wanita dan sistem hormonal.

Baca Lebih Lanjut
Update: 21 Agu 2026 - 22:41:50
 

II. Ciri-ciri Shatavari

Tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, biasanya di area hutan terbuka, semak belukar, dan perbukitan dengan ketinggian hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini suka tanah yang agak berpasir atau berbatu dan punya kemampuan bertahan di kondisi kering. Karakteristik/ciri-ciri Shatavari (Asparagus racemosus):

Bagian Ciri-Ciri
Akar Memiliki akar berbentuk umbi yang banyak, berdaging, dan bergerombol menyerupai kumpulan jari tangan (tuberous roots).
Batang Tipe tumbuhan memanjat (climber) dengan batang yang berkayu, berduri, dan bisa tumbuh merambat hingga beberapa meter.
Daun Sebenarnya bukan daun asli, melainkan 'cladodes' (modifikasi batang yang menyerupai daun) yang berbentuk seperti jarum halus, berwarna hijau cerah, dan tumbuh berkelompok.
Bunga Bunga berukuran kecil, berwarna putih atau agak kekuningan, harum, dan muncul dalam bentuk tandan (raceme) di ketiak daun.
Buah Buah beri bulat kecil yang saat muda berwarna hijau dan akan berubah menjadi merah atau ungu kehitaman saat sudah matang, dengan biji yang keras di dalamnya.

III. Manfaat Shatavari

8 Manfaat Shatavari untuk kesehatan.

  1. Peningkatan Produksi ASI (Galactagogue)

    Shatavari meningkatkan prolaktin melalui penghambatan dopamin di hipofisis anterior dan stimulasi reseptor estrogen. Senyawa saponin steroid (shatavarins) memodulasi jalur STAT5 dan PI3K/Akt pada sel laktosit.

    Senyawa Aktif: Shatavarin IV, Asparagoside B, Racemoside A
    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi pada Osteoarthritis

    Menghambat jalur NF-κB dan COX-2, menurunkan ekspresi TNF-α, IL-6, dan MMP-13. Senyawa flavonoid dan saponin menekan aktivasi makrofag M1 dan produksi prostaglandin.

    Senyawa Aktif: Rutin, Kaempferol, Shatavarin I
    Tampilkan
  3. Gastroprotektif (Ulkus Lambung)

    Menginduksi mukus lambung melalui aktivasi prostaglandin E2 dan NO, serta menghambat H+/K+-ATPase. Saponin memperkuat sawar mukosa dan meningkatkan aktivitas SOD, katalase.

    Senyawa Aktif: Shatavarin III, Asparagus saponin A, β-Sitosterol
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Shatavari

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Shatavari.

  1. Shatavarin I (Asparagoside A)

    Golongan: Saponin Steroid
    Bagian Tanaman: Akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Imunomodulator, Antioksidan, Adaptogen, Meningkatkan Produksi ASI (laktagog).
    Tampilkan
  2. Shatavarin IV

    Golongan: Saponin Steroid
    Bagian Tanaman: Akar
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi, Hepatoprotektif, Antikanker (in Vitro Terhadap Sel MCF-7).
    Tampilkan
  3. Quercetin-3-O-rutinoside (Rutin)

    Golongan: Flavonoid
    Bagian Tanaman: Akar, Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Vasoprotektif, Antioksidan, Antiinflamasi, Meningkatkan Sirkulasi Kapiler.
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Shatavari

Interaksi & Kontraindikasi Shatavari dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Kehamilan

    Tingkat Resiko: Sangat Tinggi
    Rekomendasi:
    Hindari penggunaan. Shatavari dapat merangsang kontraksi uterus dan berpotensi menyebabkan keguguran berdasarkan efek hormonal dan penelitian pada hewan.

  2. Menyusui

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Hindari atau konsultasikan dengan dokter. Data keamanan pada ibu menyusui belum mencukupi, sehingga tidak dianjurkan tanpa pengawasan medis.

  3. Penggunaan bersamaan dengan Diabetes mellitus (penggunaan obat antidiabetes)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Pantau kadar gula darah secara ketat. Shatavari dapat menurunkan gula darah, sehingga berisiko menyebabkan hipoglikemia bila dikombinasikan dengan obat antidiabetes.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+7)

VI. Efek Samping Shatavari

Shatavari (Asparagus racemosus) umumnya dianggap aman bila dikonsumsi dalam jangka pendek hingga menengah, namun penggunaan jangka panjang atau dosis tinggi dapat memicu beberapa efek samping. Efek samping yang paling umum dilaporkan meliputi reaksi alergi pada kulit dan sistem pernapasan, terutama pada individu yang sensitif terhadap keluarga tanaman Asparagaceae. Gejala alergi ini dapat berupa dermatitis kontak, ruam kulit, gatal-gatal, serta sesak napas atau mengi akibat reaksi hipersensitivitas.

Baca Semua Efek Samping

VII. Studi Klinis & Meta-Analisis Shatavari

Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Shatavari.

  1. Efektivitas Asparagus racemosus terhadap Gejala Menopause: Sebuah Meta-Analisis Uji Klinis

    Tahun: 2023
    Temuan:
    Suplementasi ekstrak akar Shatavari secara signifikan menurunkan skor gejala menopause dan memperbaiki kualitas hidup. Risiko efek samping dilaporkan rendah dan tidak berbeda bermakna dengan plasebo.
    Tampilkan
  2. Pengaruh Pemberian Akar Shatavari terhadap Produksi ASI pada Ibu Menyusui: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun: 2022
    Temuan:
    Kelompok Shatavari mengalami peningkatan volume ASI sebesar 42% dibandingkan baseline, lebih tinggi daripada kelompok plasebo. Berat badan bayi pada kelompok intervensi juga bertambah lebih cepat setelah 4 minggu.
    Tampilkan
  3. Efek Hipoglikemik Asparagus racemosus pada Diabetes Melitus Tipe 2: Uji Klinis Acak Terkontrol

    Tahun: 2021
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Shatavari menurunkan kadar glukosa darah puasa dan HbA1c secara signifikan dibandingkan plasebo setelah 12 minggu. Hasil ini disertai peningkatan fungsi sel beta dan perbaikan profil lipid.
    Tampilkan

VIII. FAQ Shatavari

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Shatavari.

Apa itu Shatavari (Asparagus racemosus) dan bagaimana mekanisme kerjanya?
Shatavari adalah tanaman adaptogen yang termasuk dalam famili Asparagaceae. Secara fitokimia, akarnya mengandung saponin steroid seperti shatavarin I–IV, flavonoid, alkaloid, dan polisakarida. Mekanisme kerjanya meliputi modulasi aksis hipotalamus-hipofisis-gonad (HPG) melalui peningkatan reseptor estrogen non-steroidal, serta aktivitas antioksidan dan imunomodulator. Studi fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak akar Shatavari meningkatkan kadar prolaktin yang mendukung laktasi. Referensi: (Alok et al., 2013, Journal of Ethnopharmacology)
Berapa dosis harian Shatavari yang dianjurkan untuk dewasa?
Dosis umum yang direkomendasikan dalam pengobatan Ayurveda adalah 3–6 gram bubuk akar kering per hari, dibagi dalam 2–3 dosis. Untuk ekstrak cair (1:1), dosis 30–60 tetes (sekitar 1–2 ml) per hari sering digunakan. Ekstrak standar dengan kandungan saponin 20% biasanya diberikan 500–1000 mg per hari. Namun, dosis harus disesuaikan dengan kondisi individu dan saran praktisi kesehatan. Referensi: (Sharma et al., 2012, Journal of Ayurveda and Integrative Medicine)
Apakah Shatavari aman dikonsumsi oleh ibu hamil?
Keamanan Shatavari selama kehamilan masih kontroversial. Secara tradisional, penggunaannya dibatasi pada trimester kedua dan ketiga dengan dosis rendah karena efek uterotonik ringan (merangsang kontraksi rahim) pada konsentrasi tinggi. Studi pada hewan menunjukkan bahwa ekstrak akar dapat meningkatkan tonus uterus. Oleh karena itu, penggunaan pada kehamilan hanya dianjurkan di bawah pengawasan dokter dan ahli herbal, serta tidak boleh digunakan pada trimester pertama. Referensi: (Sharma et al., 2011, Pharmacognosy Reviews; Sabnis et al., 2014, Journal of Ayurveda and Integrative Medicine)
Bagaimana efektivitas Shatavari dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui?
Shatavari secara tradisional dikenal sebagai galaktagog (peningkatan laktasi). Uji klinis acak pada 60 ibu menyusui menunjukkan bahwa konsumsi 3 gram bubuk akar Shatavari dua kali sehari selama 2 minggu secara signifikan meningkatkan volume ASI dibandingkan dengan plasebo. Mekanisme diduga melalui peningkatan sekresi prolaktin dan stimulasi alveoli payudara. Namun, bukti masih terbatas, dan konsultasi dengan dokter laktasi sangat disarankan. Referensi: (Shah et al., 2016, International Journal of Ayurveda Research)
Apa efek samping dan interaksi obat yang perlu diwaspadai dari konsumsi Shatavari?
Efek samping yang jarang terjadi meliputi reaksi alergi (ruam, gatal), gangguan saluran cerna ringan seperti perut kembung, dan peningkatan kadar kalium karena efek diuretik ringan. Karena Shatavari memiliki efek diuretik dan penurun tekanan darah, interaksi dengan obat diuretik dan antihipertensi perlu dipantau. Juga, pengguna dengan gangguan hormonal (seperti endometriosis) atau penyakit ginjal sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu. Referensi: (Joshi et al., 2017, Journal of Herbal Medicine; Barnes et al., 2002, Herbal Medicines)
Apakah Shatavari dapat digunakan untuk mengatasi gangguan lambung dan tukak lambung?
Ya, Shatavari telah diteliti memiliki aktivitas gastroprotektif. Ekstrak akar menunjukkan perlindungan terhadap tukak lambung yang diinduksi oleh NSAID dan etanol pada hewan uji, melalui peningkatan produksi lendir, antioksidan, dan penghambatan pompa proton secara parsial. Komponen saponin diyakini sebagai agen utama. Studi pada manusia masih terbatas, namun secara tradisional digunakan untuk gastritis dan dispepsia. Referensi: (Bhatt et al., 2015, Journal of Ethnopharmacology; Sairam et al., 2003, Phytomedicine)
Apakah Shatavari aman diberikan kepada anak-anak?
Keamanan Shatavari pada anak-anak belum banyak diteliti secara klinis. Secara tradisional, dosis yang lebih rendah (seperempat hingga setengah dosis dewasa) digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan atau kelemahan umum pada anak di atas usia 5 tahun. Namun, karena efek hormonalnya (estrogenik ringan), penggunaannya pada anak di bawah usia 12 tahun tidak disarankan tanpa pengawasan dokter anak. Hindari penggunaan pada anak dengan riwayat pubertas dini atau gangguan hormonal. Referensi: (Prasad et al., 2010, Indian Journal of Pediatrics; Sharma et al., 2018, JAYPEE)
Bagaimana cara mengonsumsi Shatavari yang benar dalam praktik sehari-hari?
Shatavari tersedia dalam bentuk bubuk akar kering, kapsul, ekstrak cair, atau tablet. Cara konsumsi yang umum: campurkan 1–2 sendok teh bubuk (3–6 gram) ke dalam segelas susu hangat atau air, diminum 1–2 kali sehari setelah makan. Untuk ekstrak cair, ikuti petunjuk dosis pada kemasan. Untuk hasil optimal, konsumsi secara konsisten selama 4–8 minggu. Hindari dikonsumsi bersamaan dengan makanan pedas atau asam yang dapat mengiritasi lambung. Simpan di tempat kering dan sejuk. Referensi: (Williamson et al., 2003, Herbal Drugs Phytomedicine)

Brahmi

Bacopa monnieri

Malaka

Phyllanthus emblica

Cari: