Literatur

Studi Klinis & Meta-Analisis

  1. Efektivitas Asparagus racemosus terhadap Gejala Menopause: Sebuah Meta-Analisis Uji Klinis

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Meta-Analisis
    Sampel:
    6 uji klinis acak terkontrol plasebo dengan total 412 perempuan perimenopause/postmenopause
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak akar 500 mg/hari dalam 2 dosis terbagi selama 8–12 minggu.
    Temuan:
    Suplementasi ekstrak akar Shatavari secara signifikan menurunkan skor gejala menopause dan memperbaiki kualitas hidup. Risiko efek samping dilaporkan rendah dan tidak berbeda bermakna dengan plasebo.
  2. Pengaruh Pemberian Akar Shatavari terhadap Produksi ASI pada Ibu Menyusui: Uji Klinis Acak Tersamar Ganda

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    RCT (Uji Klinis Acak)
    Sampel:
    80 ibu menyusui usia 20–35 tahun dengan bayi berusia 1–6 bulan
    Dosis/Durasi:
    Kapsul ekstrak akar 500 mg dua kali sehari selama 4 minggu.
    Temuan:
    Kelompok Shatavari mengalami peningkatan volume ASI sebesar 42% dibandingkan baseline, lebih tinggi daripada kelompok plasebo. Berat badan bayi pada kelompok intervensi juga bertambah lebih cepat setelah 4 minggu.
  3. Efek Hipoglikemik Asparagus racemosus pada Diabetes Melitus Tipe 2: Uji Klinis Acak Terkontrol

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    RCT
    Sampel:
    56 pasien diabetes melitus tipe 2 dengan kontrol glikemik yang buruk
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak akar 1000 mg/hari dalam 2 dosis terbagi selama 12 minggu.
    Temuan:
    Pemberian ekstrak Shatavari menurunkan kadar glukosa darah puasa dan HbA1c secara signifikan dibandingkan plasebo setelah 12 minggu. Hasil ini disertai peningkatan fungsi sel beta dan perbaikan profil lipid.
  4. Perbaikan Sindrom Ovarium Polikistik oleh Ekstrak Asparagus racemosus pada Tikus Wistar Betina

    Tahun:
    2022
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    24 tikus Wistar betina dewasa yang diinduksi letrozole 1 mg/kg selama 21 hari
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak akar 250 atau 500 mg/kg BB/hari secara oral selama 28 hari.
    Temuan:
    Ekstrak Shatavari dosis 250 dan 500 mg/kg BB menurunkan kadar LH dan testosteron serta memulihkan siklus estrus. Histologi ovarium menunjukkan penurunan jumlah kista folikel dan peningkatan korpus luteum.
  5. Aktivitas Neuroprotektif Asparagus racemosus terhadap Defisit Kognitif pada Tikus Model Demensia

    Tahun:
    2023
    Tipe:
    Studi eksperimental in vivo
    Sampel:
    30 tikus Sprague-Dawley usia 2–3 bulan yang diinduksi skopolamin 1 mg/kg
    Dosis/Durasi:
    Ekstrak akar 200 mg/kg BB/hari selama 14 hari sebelum dan selama induksi skopolamin.
    Temuan:
    Ekstrak Shatavari memperbaiki memori spasial dan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan di jaringan hippocampus. Kadar malondialdehid dan asetilkolinesterase juga menurun secara bermakna.
  6. Efek Antiproliferatif dan Apoptosis Ekstrak Akar Asparagus racemosus pada Sel Kanker Payudara

    Tahun:
    2021
    Tipe:
    Studi in vitro
    Sampel:
    Sel MCF-7 (reseptor estrogen positif) dan MDA-MB-231 (triple-negatif)
    Dosis/Durasi:
    Paparan ekstrak 0–100 µg/mL selama 24, 48, dan 72 jam.
    Temuan:
    Ekstrak menghambat proliferasi kedua lini sel dengan nilai IC50 masing-masing 28,4 dan 41,7 µg/mL. Ekstrak menginduksi apoptosis melalui peningkatan ekspresi Bax dan kaspase-3 serta penurunan Bcl-2.
  7. Tinjauan Sistematis Aktivitas Farmakologis Asparagus racemosus pada Gangguan Metabolik dan Reproduksi

    Tahun:
    2020
    Tipe:
    Systematic Review
    Sampel:
    32 studi yang memenuhi kriteria termasuk RCT, studi hewan, dan in vitro dari PubMed, Scopus, dan Cochrane
    Dosis/Durasi:
    Tidak dilakukan pooling data; dosis yang dilaporkan bervariasi antara 100–1000 mg ekstrak/hari atau 3–6 g serbuk akar/hari.
    Temuan:
    Shatavari menunjukkan efek antidiabetik, penurun lipid, antioksidan, serta perbaikan terhadap PCOS dan gejala menopause. Namun, sebagian besar bukti berasal dari studi hewan dan uji klinik dengan risiko bias sedang.

Advertisement


Cari: