Advertisement
Swertia chirata, yang lebih dikenal sebagai Chirata, adalah tumbuhan herba tahunan yang termasuk dalam famili Gentianaceae. Tumbuhan ini banyak ditemukan di daerah pegunungan Himalaya pada ketinggian 1.200–3.000 meter di atas permukaan laut, terutama di India, Nepal, dan Bhutan. Chirata memiliki batang tegak, daun berbentuk lanset dengan tulang daun menyirip, serta bunga berwarna kuning kehijauan yang tumbuh dalam malai. Seluruh bagian tanaman, terutama batang dan daun, digunakan dalam pengobatan tradisional karena kandungan senyawa pahitnya yang khas.
Advertisement
Dalam pengobatan Ayurveda dan sistem tradisional lainnya, Chirata telah lama digunakan sebagai tonik untuk mengatasi berbagai gangguan pencernaan, demam, dan penyakit hati. Kandungan utama chirata adalah senyawa sekoiridoid seperti swertiamarin, mangiferin, dan amaroswerin yang memberikan rasa pahit dan aktivitas farmakologis. Ekstraknya juga dikenal memiliki sifat antipiretik, antiinflamasi, dan antimikroba. Rebusan batang dan daun sering diminum untuk meningkatkan nafsu makan, mengobati malaria, serta membersihkan darah dari racun.
Penelitian modern mengonfirmasi banyak khasiat tradisional Chirata melalui studi farmakologi dan fitokimia. Swertiamarin terbukti memiliki efek hepatoprotektif dengan melindungi sel hati dari kerusakan oksidatif, serta aktivitas antidiabetes dengan meningkatkan sensitivitas insulin. Selain itu, ekstrak chirata menunjukkan potensi sebagai agen antikanker terhadap beberapa jenis sel kanker, meskipun masih memerlikan uji klinis lebih lanjut. Meskipun demikian, konsumsi chirata harus hati-hati karena efek samping seperti mual dan gangguan lambung pada dosis tinggi, serta kontraindikasi pada ibu hamil dan menyusui.
Manfaat Chirata untuk kesehatan.
Ekstrak Swertia chirata meningkatkan penyerapan glukosa perifer melalui aktivasi jalur AMPK dan meningkatkan sekresi insulin melalui aksi pada reseptor GLP-1. Senyawa swertiamarin dan mangiferin menghambat α-glukosidase usus, memperlambat penyerapan karbohidrat.
Mangiferin dan swertiamarin mengurangi stres oksidatif dengan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen (SOD, katalase, glutation) dan menghambat peroksidasi lipid. Mereka juga memodulasi jalur NF-κB untuk menekan inflamasi hepatoseluler.
Mangiferin dan xanthone menghambat enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan lipoksigenase (LOX), serta menekan aktivasi faktor transkripsi NF-κB, sehingga mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, IL-1β).
Xanthone dan sekoiridoid glikosida (chiratanin, amaroswetin) merusak membran sel bakteri dan jamur, menyebabkan kebocoran sitoplasma dan menghambat sintesis dinding sel. Efek sinergis dengan antibiotik konvensional telah diamati.
Advertisement
Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Chirata.