Advertisement
Wolfiporia extensa, yang lebih dikenal sebagai jamur Poria atau Fu Ling dalam pengobatan tradisional Tiongkok, bukanlah tumbuhan sejati melainkan jamur saprofit yang termasuk dalam famili Polyporaceae. Ciri khasnya terletak pada sklerotium—massa miselium padat yang terbentuk di sekitar akar pohon pinus, berwarna cokelat kehitaman di luar dan putih krem di dalam. Jamur ini tidak memiliki tudung atau batang yang menonjol; ia berkembang sebagai jaringan miselium yang menempel pada substrat kayu yang membusuk. Dalam konteks ekologis, W. extensa berperan sebagai dekomposer yang membantu daur ulang nutrisi di hutan konifer, terutama di wilayah Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea.
Jamur ini unik karena tumbuh di bawah tanah, biasanya nempel di akar pohon pinus yang sudah mati atau membusuk. Sering ditemukan di daerah beriklim sedang seperti di Asia Timur (Tiongkok, Jepang, Korea). Karakteristik/ciri-ciri Jamur Poria (Wolfiporia extensa):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Sklerotium | Bagian yang sering dimanfaatkan adalah masa miselium padat yang disebut sklerotium. Bentuknya bulat atau lonjong mirip umbi kentang besar, dengan ukuran yang bervariasi. |
| Permukaan Luar | Kulit luarnya kasar, berkerut, dan berwarna cokelat gelap kehitaman, mirip kulit kayu pinus. |
| Bagian Dalam | Kalau dibelah, bagian dalamnya berwarna putih bersih atau agak kekuningan dengan tekstur yang padat dan keras. |
| Tubuh Buah | Jarang terlihat di permukaan tanah karena bersifat hipogean (tumbuh di bawah tanah), namun jika muncul ke permukaan, ia akan membentuk lapisan tipis seperti kerak berwarna putih hingga krem yang mengandung spora. |
8 Manfaat Jamur Poria untuk kesehatan.
Senyawa triterpenoid dalam Wolfiporia extensa, seperti asam pachymic dan asam dehydrotumulosic, menghambat aktivasi NF-κB dan jalur MAPK, mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, IL-1β) serta menurunkan ekspresi COX-2 dan iNOS. Efek ini juga dimediasi melalui modulasi reseptor PPAR-γ dan jalur NLRP3 inflammasome.
Polisakarida Poria (terutama β-glukan pachyman dan pachymaran) mengaktifkan makrofag, sel dendritik, dan sel NK melalui reseptor TLR-4, Dectin-1, dan CR3, meningkatkan fagositosis dan produksi sitokin Th1 (IFN-γ, IL-12) serta meningkatkan proliferasi limfosit. Efek bifasik: dosis rendah stimulasi, dosis tinggi imunosupresi.
Ekstrak Poria meningkatkan ekskresi natrium dan air melalui inhibisi aquaporin (AQP-1 dan AQP-2) di tubulus renal, serta menghambat aktivitas Na+-K+-ATPase dan pompa Na+-K+-Cl- cotransporter. Efek ini juga didukung oleh aktivitas antagonis reseptor aldosteron oleh triterpenoid.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Jamur Poria.
Interaksi & Kontraindikasi Jamur Poria dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.
Jamur Poria (Wolfiporia extensa), yang dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok sebagai Fu Ling, umumnya dianggap aman bila dikonsumsi dalam dosis yang tepat. Namun, beberapa penelitian farmakologis dan laporan klinis menunjukkan adanya potensi efek samping, terutama bila digunakan dalam jangka panjang atau dosis tinggi. Efek samping yang paling sering dilaporkan berkaitan dengan sistem pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan ketidaknyamanan perut pada individu dengan sensitivitas lambung.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Jamur Poria.