Jamur Poria

Poria Mushroom | Wolfiporia extensa
Jamur Poria
Nama
Jamur Poria (Poria Mushroom)
Nama Latin/Ilmiah
Wolfiporia extensa
Bagian Digunakan
Sklerotium
Rasa
Manis, hambar

Nama Lain
Fuling (China), Hoelen (Japan), Baekbokryeong (Korea), Phục linh (Vietnam), Indian bread (United States)
Asal
China, Jepang, Korea
Kandungan Utama
Polisakarida, triterpenoid, ergosterol

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Jamur Poria

Wolfiporia extensa, yang lebih dikenal sebagai jamur Poria atau Fu Ling dalam pengobatan tradisional Tiongkok, bukanlah tumbuhan sejati melainkan jamur saprofit yang termasuk dalam famili Polyporaceae. Ciri khasnya terletak pada sklerotium—massa miselium padat yang terbentuk di sekitar akar pohon pinus, berwarna cokelat kehitaman di luar dan putih krem di dalam. Jamur ini tidak memiliki tudung atau batang yang menonjol; ia berkembang sebagai jaringan miselium yang menempel pada substrat kayu yang membusuk. Dalam konteks ekologis, W. extensa berperan sebagai dekomposer yang membantu daur ulang nutrisi di hutan konifer, terutama di wilayah Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea.

Baca Lebih Lanjut
Update: 18 Agu 2026 - 22:41:47
 

II. Ciri-ciri Jamur Poria

Jamur ini unik karena tumbuh di bawah tanah, biasanya nempel di akar pohon pinus yang sudah mati atau membusuk. Sering ditemukan di daerah beriklim sedang seperti di Asia Timur (Tiongkok, Jepang, Korea). Karakteristik/ciri-ciri Jamur Poria (Wolfiporia extensa):

Bagian Ciri-Ciri
Sklerotium Bagian yang sering dimanfaatkan adalah masa miselium padat yang disebut sklerotium. Bentuknya bulat atau lonjong mirip umbi kentang besar, dengan ukuran yang bervariasi.
Permukaan Luar Kulit luarnya kasar, berkerut, dan berwarna cokelat gelap kehitaman, mirip kulit kayu pinus.
Bagian Dalam Kalau dibelah, bagian dalamnya berwarna putih bersih atau agak kekuningan dengan tekstur yang padat dan keras.
Tubuh Buah Jarang terlihat di permukaan tanah karena bersifat hipogean (tumbuh di bawah tanah), namun jika muncul ke permukaan, ia akan membentuk lapisan tipis seperti kerak berwarna putih hingga krem yang mengandung spora.

III. Manfaat Jamur Poria

8 Manfaat Jamur Poria untuk kesehatan.

  1. Anti-inflamasi untuk Osteoarthritis dan Kondisi Inflamasi Sistemik

    Senyawa triterpenoid dalam Wolfiporia extensa, seperti asam pachymic dan asam dehydrotumulosic, menghambat aktivasi NF-κB dan jalur MAPK, mengurangi produksi sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, IL-1β) serta menurunkan ekspresi COX-2 dan iNOS. Efek ini juga dimediasi melalui modulasi reseptor PPAR-γ dan jalur NLRP3 inflammasome.

    Senyawa Aktif: Asam pachymic, Asam dehydrotumulosic, Asam poricoic
    Tampilkan
  2. Imunomodulator dan Penunjang Sistem Imun

    Polisakarida Poria (terutama β-glukan pachyman dan pachymaran) mengaktifkan makrofag, sel dendritik, dan sel NK melalui reseptor TLR-4, Dectin-1, dan CR3, meningkatkan fagositosis dan produksi sitokin Th1 (IFN-γ, IL-12) serta meningkatkan proliferasi limfosit. Efek bifasik: dosis rendah stimulasi, dosis tinggi imunosupresi.

    Senyawa Aktif: Pachyman (β-1,3-glucan), Pachymaran (β-1,4-glucan), Golongan polisakarida terikat protein
    Tampilkan
  3. Diuretik dan Perlindungan Fungsi Ginjal

    Ekstrak Poria meningkatkan ekskresi natrium dan air melalui inhibisi aquaporin (AQP-1 dan AQP-2) di tubulus renal, serta menghambat aktivitas Na+-K+-ATPase dan pompa Na+-K+-Cl- cotransporter. Efek ini juga didukung oleh aktivitas antagonis reseptor aldosteron oleh triterpenoid.

    Senyawa Aktif: Asam poricoic A, Asam poricoic B, Triterpenoid total
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Jamur Poria

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Jamur Poria.

  1. Pachymic acid

    Golongan: Triterpenoid
    Bagian Tanaman: Sklerotium
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi, Antitumor (mis. Pada Kanker Payudara Dan Paru), Imunomodulator, Antidiabetes.
    Tampilkan
  2. Dehydrotrametenolic acid

    Golongan: Triterpenoid
    Bagian Tanaman: Sklerotium
    Aktivitas Farmakologis:
    Antikanker (apoptosis Sel Karsinoma), Antiangiogenik, Antiinflamasi.
    Tampilkan
  3. Tumulosic acid

    Golongan: Triterpenoid
    Bagian Tanaman: Sklerotium
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antiinflamasi, Penghambat α-glukosidase (antidiabetes).
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Jamur Poria

Interaksi & Kontraindikasi Jamur Poria dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Penggunaan bersamaan dengan diuretik (misal furosemid, hidroklorotiazid)

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Pantau kadar elektrolit dan fungsi ginjal secara berkala karena efek diuretik tambahan dapat meningkatkan risiko hipokalemia atau dehidrasi.

  2. Penggunaan bersamaan dengan obat antihipertensi (misal kaptopril, amlodipin)

    Tingkat Resiko: Rendah
    Rekomendasi:
    Waspadai potensi penurunan tekanan darah berlebihan; disarankan memonitor tekanan darah secara rutin.

  3. Kehamilan dan menyusui

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Hindari penggunaan karena belum ada data keamanan yang memadai; efek pada janin dan bayi tidak diketahui.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+7)

VI. Efek Samping Jamur Poria

Jamur Poria (Wolfiporia extensa), yang dikenal dalam pengobatan tradisional Tiongkok sebagai Fu Ling, umumnya dianggap aman bila dikonsumsi dalam dosis yang tepat. Namun, beberapa penelitian farmakologis dan laporan klinis menunjukkan adanya potensi efek samping, terutama bila digunakan dalam jangka panjang atau dosis tinggi. Efek samping yang paling sering dilaporkan berkaitan dengan sistem pencernaan, seperti mual, muntah, diare, dan ketidaknyamanan perut pada individu dengan sensitivitas lambung.

Baca Semua Efek Samping

VII. FAQ Jamur Poria

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Jamur Poria.

Apa kandungan fitokimia utama dalam Poria Mushroom (Wolfiporia extensa) dan apa manfaatnya?
Poria Mushroom mengandung senyawa bioaktif seperti triterpenoid (asam porikoat, asam dehidroporikoat), polisakarida (pachymaran), dan sterol (ergosterol). Triterpenoid memiliki aktivitas anti-inflamasi dan anti-kanker, sementara polisakarida mendukung imunomodulasi. (Phytochemistry Reviews, 2019)
Bagaimana cara konsumsi Poria Mushroom yang aman untuk penggunaan sehari-hari?
Poria Mushroom biasanya dikonsumsi dalam bentuk rebusan (decoction) atau bubuk. Dosis umum untuk dewasa adalah 6–12 gram per hari dalam bentuk kering, direbus dalam air selama 20–30 menit. Ekstrak standar (1:5) dapat diminum 2–3 mL tiga kali sehari. Disarankan memulai dengan dosis rendah untuk menilai toleransi. (Journal of Traditional and Complementary Medicine, 2017)
Apakah Poria Mushroom aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui?
Keamanan Poria Mushroom selama kehamilan dan menyusui belum diteliti secara memadai. Beberapa sumber tradisional melarang penggunaannya karena potensi efek stimulasi pada otot rahim. Ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari konsumsi tanpa pengawasan tenaga kesehatan. (Drugs and Lactation Database, 2021)
Apa efek samping yang mungkin timbul dari konsumsi Poria Mushroom?
Efek samping jarang terjadi, tetapi dapat meliputi gangguan pencernaan ringan (mual, diare) pada dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang. Beberapa laporan menyebutkan reaksi alergi pada individu sensitif. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit karena efek diuretik ringan. (Journal of Ethnopharmacology, 2020)
Bolehkah Poria Mushroom diberikan kepada bayi dan anak-anak?
Poria Mushroom tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 1 tahun karena sistem pencernaan masih belum matang. Untuk anak di atas 2 tahun, dosis harus disesuaikan (¼–½ dosis dewasa) dan hanya di bawah pengawasan dokter ahli herbal. Data keamanan pada anak masih terbatas. (Pediatric Herbal Medicine, 2018)
Apa manfaat Poria Mushroom untuk kesehatan sistem imun dan pencernaan?
Polisakarida dalam Poria Mushroom, terutama beta-glukan, merangsang aktivitas makrofag dan sel NK, sehingga memperkuat respons imun. Selain itu, senyawa triterpenoid membantu mengurangi peradangan usus dan mendukung keseimbangan mikrobiota. Studi pada hewan menunjukkan efek prebiotik dan perlindungan terhadap tukak lambung. (International Journal of Biological Macromolecules, 2021)
Apakah Poria Mushroom berinteraksi dengan obat-obatan kimia?
Poria Mushroom dapat berinteraksi dengan obat antikoagulan (warfarin) karena efek antiplatelet ringan, meningkatkan risiko perdarahan. Juga dilaporkan berpotensi memengaruhi metabolisme obat melalui enzim hati CYP450, meskipun data klinis masih terbatas. Konsultasi dengan dokter diperlukan jika mengonsumsi obat resep. (Phytotherapy Research, 2020)
Bagaimana cara memilih dan menyimpan Poria Mushroom agar kualitasnya terjaga?
Pilih Poria Mushroom kering yang berwarna putih hingga krem, bertekstur padat, dan tidak berjamur. Simpan dalam wadah kedap udara di tempat sejuk, kering, dan gelap (suhu ruang <25°C). Hindari paparan sinar matahari langsung. Jika dalam bentuk bubuk, gunakan dalam 6 bulan untuk menjaga potensi senyawa aktif. (Herbal Medicine: Biomolecular and Clinical Aspects, 2011)

Di Huang

Rehmannia glutinosa

Ginkgo Biloba

Ginkgo biloba

Cari: