Advertisement
Genjer (Limnocharis flava) merupakan tumbuhan air dari famili Limnocharitaceae yang umum dijumpai di ekosistem sawah, rawa, dan saluran irigasi dangkal. Meskipun kerap dianggap gulma, genjer memiliki peran penting sebagai sayuran rawa yang murah dan mudah didapat, terutama di kawasan Asia Tenggara. Tanaman ini memiliki ciri khas daun berbentuk sendok atau hati yang tumbuh dari pangkal tangkai yang panjang, serta bunga berwarna kuning mencolok yang muncul di atas permukaan air. Seluruh bagian mudanya, terutama daun dan tangkai bunga, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan setelah diolah dengan tepat.
6 Manfaat Genjer untuk kesehatan.
Ekstrak kaya polifenol dan flavonoid bekerja sebagai donor elektron dan hidrogen sehingga mengakhiri rantai reaksi radikal bebas. Pada tingkat seluler, flavonoid seperti kuersetin dan rutin dapat mengaktifkan jalur Nrf2/ARE, meningkatkan ekspresi SOD, katalase, dan glutathione peroksidase.
Saponin dan flavonoid berinteraksi dengan lipid bilayer membran mikroba, meningkatkan permeabilitas membran, dan menyebabkan kebocoran sitoplasma serta kematian sel. Alkaloid dapat menghambat pompa efluks bakteri.
Flavonoid dan fitosterol menghambat aktivitas COX-2, mengurangi sintesis prostaglandin E2, menurunkan TNF-α dan IL-6, serta menghambat translokasi NF-κB ke dalam inti sehingga respons inflamasi berkurang.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Genjer.
Genjer (Limnocharis flava) adalah tanaman akuatik yang sering dikonsumsi sebagai sayuran oleh masyarakat di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Meskipun populer karena kandungan serat dan beberapa mikronutriennya, tanaman ini diketahui dapat menyerap logam berat dari lingkungan perairannya dengan sangat efisien. Genjer bersifat sebagai bioakumulator yang kuat, artinya tanaman ini dapat mengakumulasi logam berat seperti kadmium (Cd), timbal (Pb), dan merkuri (Hg) jika tumbuh di perairan yang tercemar limbah industri atau domestik. Konsumsi genjer yang berasal dari habitat tercemar tanpa pengolahan yang tepat dapat menyebabkan akumulasi logam berat dalam tubuh manusia, yang berisiko memicu keracunan kronis, gangguan fungsi ginjal, serta kerusakan sistem saraf.