Advertisement
Pohon kelor, yang dikenal secara ilmiah sebagai Moringa oleifera, merupakan salah satu tumbuhan tropis yang paling bernutrisi di dunia. Berasal dari kaki pegunungan Himalaya di India utara, tanaman ini kini tersebar luas di berbagai wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Hampir seluruh bagian pohon kelor dapat dimanfaatkan, mulai dari daun, buah (polong), biji, hingga akarnya. Daun kelor, khususnya, dikenal sebagai "pohon ajaib" karena kandungan protein, vitamin, mineral, dan antioksidannya yang sangat tinggi, menjadikannya sebagai suplemen pangan yang potensial untuk mengatasi malnutrisi.
Kelor itu tanaman yang bandel banget. Dia bisa tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, tahan kering, dan nggak terlalu rewel soal jenis tanah. Sering ditemui di pekarangan rumah atau area yang agak panas. Karakteristik/ciri-ciri Kelor (Moringa oleifera):
| Bagian | Ciri-Ciri |
|---|---|
| Batang | Batangnya berkayu, bisa tumbuh tegak sampai setinggi 7-12 meter. Kulit batangnya agak lunak dan warnanya putih kelabu. |
| Daun | Daunnya majemuk, bentuknya bulat telur kecil-kecil, dan tersusun rapi di tangkai yang panjang. Warnanya hijau cerah. |
| Bunga | Bunganya punya warna putih kekuningan, harum, dan muncul di ketiak daun dalam bentuk malai. |
| Buah | Buahnya berbentuk polong yang panjang (bisa sampai 20-50 cm), kalau masih muda warnanya hijau, pas sudah tua jadi cokelat kering. |
| Biji | Bijinya bulat, warnanya cokelat tua atau hitam, dan punya sayap tipis di pinggirannya supaya gampang terbang terbawa angin. |
| Akar | Punya sistem perakaran tunggang yang cukup kuat, makanya dia bisa bertahan hidup meski tanahnya lagi gersang. |
8 Manfaat Kelor untuk kesehatan.
Meningkatkan sekresi insulin dari sel beta pankreas melalui aktivasi jalur PKA dan CREB, menghambat enzim α-glukosidase dan α-amilase di usus sehingga memperlambat penyerapan glukosa, serta meningkatkan sensitivitas insulin melalui aktivasi AMPK dan PPAR-γ.
Menghambat HMG-CoA reduktase (penghambatan sintesis kolesterol), meningkatkan aktivitas reseptor LDL di hati, serta mengurangi absorpsi kolesterol usus melalui pengikatan asam empedu. Efek antioksidan quercetin juga menurunkan oksidasi LDL.
Vasodilatasi endotelial melalui peningkatan produksi nitrat oksida (NO) dan aktivasi eNOS, efek diuretik ringan melalui penghambatan saluran Na+-K+-2Cl- di ginjal, serta aktivitas penghambatan enzim pengubah angiotensin (ACE) oleh flavonoid dan asam fenolik.
Advertisement
8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Kelor.
Interaksi & Kontraindikasi Kelor dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.
Tanaman kelor (Moringa oleifera) umumnya dianggap aman bila dikonsumsi dalam jumlah normal sebagai makanan. Namun, konsumsi bagian tanaman tertentu seperti akar, kulit batang, dan bunga dalam jumlah berlebih atau ekstrak dosis tinggi dapat menimbulkan berbagai efek samping klinis. Senyawa alkaloid, tannin, dan saponin yang terkandung di dalam akar dan kulit kayu kelor diketahui memiliki sifat toksik jika dikonsumsi tanpa pengolahan yang tepat, yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, kram perut, dan diare berat.
Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Kelor.
Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Kelor.