• Herbapedia.id

Ketepeng Cina

Senna alata
Nama: Ketepeng Cina
Nama Latin/Ilmiah: Senna alata
Famili: Fabaceae

Kandungan:
Antrakuinon, flavonoid, tanin
Nama Lain:
Akapulko (Filipina), candlestick bush (Inggris), daun kurap (Malaysia), gelenggang (Indonesia), dadmurdan (India)
Asal:
Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia.
Bagian Utama:
Daun
Rasa:
Pahit

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Ketepeng Cina

Ketepeng Cina (Senna alata) merupakan tumbuhan perdu tahunan yang termasuk dalam famili Fabaceae. Tumbuhan ini dikenal luas di berbagai daerah dengan nama lokal seperti daun kurap, ketepeng, atau gelenggang. Ciri khas morfologinya adalah batang tegak, daun majemuk menyirip genap dengan anak daun berbentuk lonjong, serta bunga berwarna kuning cerah yang tersusun dalam tandan. Buahnya berupa polong bersayap empat yang mengandung biji. Habitat aslinya adalah daerah tropis Amerika, namun kini telah menyebar luas ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sering ditemukan tumbuh liar di pinggir jalan atau lahan terbuka.

Advertisement

Dalam pengobatan tradisional, Ketepeng Cina dikenal karena khasiatnya sebagai antijamur dan antibakteri, terutama untuk mengatasi penyakit kulit seperti kurap, panu, dan kudis. Bagian daun dan batangnya sering ditumbuk lalu dioleskan pada kulit yang terinfeksi. Kandungan kimia utama yang bertanggung jawab atas aktivitas ini adalah senyawa antrakuinon seperti aloe-emodin dan rhein, serta flavonoid dan tanin. Selain itu, rebusan daun juga digunakan sebagai laksatif alami untuk mengatasi sembelit. Masyarakat di beberapa daerah juga memanfaatkannya untuk mengobati luka, bisul, dan infeksi saluran kemih secara tradisional.

Penelitian modern telah mengonfirmasi berbagai aktivitas farmakologis Senna alata, termasuk efek antimikroba, antiinflamasi, antioksidan, dan hepatoprotektif. Ekstrak daunnya menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan jamur dermatofita seperti Trichophyton dan Microsporum. Meskipun potensial, penggunaan tumbuhan ini perlu hati-hati karena senyawa antrakuinon dapat menyebabkan iritasi kulit dan gangguan pencernaan jika dikonsumsi berlebihan. Status konservasinya saat ini masih aman karena mudah dibudidayakan dan tumbuh liar, namun eksploitasi berlebihan untuk obat herbal tetap perlu diimbangi dengan upaya pelestarian. Penelitian lebih lanjut terus dilakukan untuk mengembangkan formulasi yang lebih aman dan efektif.

Update: 30 Jul 2026 - 04:46:15

 

II. Manfaat Ketepeng Cina

Manfaat Ketepeng Cina untuk kesehatan.

  1. Antimikroba (terutama antijamur dan antibakteri pada infeksi kulit)

    Senyawa antrakuinon (emodin, aloe-emodin) dan flavonoid (kaempferol, quercetin) mengganggu integritas membran sel mikroba, menghambat sintesis dinding sel, dan menginduksi stres oksidatif. Pada jamur dermatofita, senyawa ini menghambat enzim kitin sintase dan ergosterol biosynthesis.

    Senyawa Aktif: Emodin, Aloe-emodin, Kaempferol
    Tampilkan
  2. Anti-inflamasi (pada kondisi peradangan akut dan kronis)

    Emodin dan aloe-emodin menghambat jalur NF-κB dan MAPK, menurunkan produksi sitokin proinflamasi (TNF-α, IL-6, IL-1β), serta menekan aktivitas enzim COX-2 dan LOX. Flavonoid juga menghambat degranulasi sel mast.

    Senyawa Aktif: Emodin, Aloe-emodin, Kuersetin
    Tampilkan
  3. Antioksidan (perlindungan terhadap stres oksidatif)

    Polifenol dan flavonoid (kaempferol, rutin, quercetin) mendonorkan elektron untuk menetralkan radikal bebas, meningkatkan aktivitas enzim antioksidan endogen (SOD, katalase, GPx), dan mengkelat ion logam transisi.

    Senyawa Aktif: Kaempferol, Kuersetin, Rutin
    Tampilkan
  4. Laksatif (mengatasi konstipasi)

    Antrakuinon (emodin, aloe-emodin, rhein) bekerja sebagai stimulan pada mukosa usus besar, meningkatkan peristaltik dan sekresi air/elektrolit melalui aktivasi adenilat siklase dan peningkatan prostaglandin E2.

    Senyawa Aktif: Emodin, Rhein, Aloe-emodin
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Manfaat

Advertisement

III. Kandungan Ketepeng Cina

Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Ketepeng Cina.

  1. Golongan: Antrakuinon
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antimikroba Terhadap Bakteri Gram-positif, Antikanker Melalui Inhibisi Topoisomerase II, Serta Efek Laksatif Dengan Stimulasi Kontraksi Usus..
    Tampilkan
  2. Rhein

    Golongan: Antrakuinon
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antiinflamasi Dengan Menghambat Produksi TNF-α Dan IL-6, Serta Laksatif Stimulan..
    Tampilkan
  3. Chrysophanol

    Golongan: Antrakuinon
    Bagian Tanaman: Daun
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan Dengan Aktivitas Penangkal Radikal Bebas, Dan Antikanker Melalui Induksi Apoptosis..
    Tampilkan
    Tampilkan Semua Kandungan

IV. Interaksi & Kontraindikasi Ketepeng Cina

Kehamilan

Tingkat Resiko: Sangat Tinggi
Rekomendasi:
Hindari penggunaan. Senna alata memiliki efek stimulan pada rahim dan dapat memicu kontraksi, meningkatkan risiko keguguran atau kelahiran prematur.

Menyusui

Tingkat Resiko: Tinggi
Rekomendasi:
Tidak dianjurkan. Senyawa antrakuinon dapat masuk ke dalam ASI dan menyebabkan diare pada bayi. Konsultasikan dengan dokter sebelum digunakan.

Obstruksi usus atau penyumbatan saluran pencernaan

Tingkat Resiko: Sangat Tinggi
Rekomendasi:
Kontraindikasi absolut. Stimulasi peristaltik dapat memperburuk obstruksi dan menyebabkan perforasi usus.
Tampilkan Semua Kontraindikasi

V. FAQ Ketepeng Cina

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Ketepeng Cina.

Apa kandungan fitokimia utama dari Ketepeng Cina (Senna alata) dan manfaat kesehatannya?
Ketepeng Cina mengandung senyawa antrakuinon seperti aloe-emodin, rhein, dan sennosida yang bersifat laksatif. Selain itu, terdapat flavonoid, tanin, dan steroid yang memiliki aktivitas antijamur, antibakteri, dan antiinflamasi (Bukit, 2019; Journal of Ethnopharmacology, 2020).
Bagaimana cara menggunakan Ketepeng Cina untuk mengatasi sembelit secara oral?
Daun segar Ketepeng Cina direbus dengan air, lalu air rebusan diminum. Dosis dewasa umumnya 1–2 gram daun kering atau 3–5 gram daun segar dalam segelas air, diminum maksimal sekali sehari. Efek laksatif muncul dalam 6–12 jam (Depkes RI, 2017; Fitoterapi Indonesia, 2018).
Apakah Ketepeng Cina aman dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui?
Tidak aman. Kandungan antrakuinon dapat merangsang kontraksi rahim, meningkatkan risiko keguguran atau kelahiran prematur. Pada ibu menyusui, senyawa aktif dapat masuk ke ASI dan menyebabkan diare pada bayi. Penggunaan selama kehamilan dan menyusui sangat tidak dianjurkan (WHO, 2010; American Herbal Products Association, 2016).
Bolehkah Ketepeng Cina digunakan pada bayi atau anak-anak?
Tidak disarankan. Sistem pencernaan bayi dan anak masih sensitif, dan antrakuinon dapat menyebabkan diare berat, dehidrasi, serta gangguan elektrolit. Penggunaan pada anak di bawah 12 tahun hanya boleh di bawah pengawasan dokter dan dalam dosis sangat rendah (BPOM RI, 2015; Pedoman Penggunaan Obat Herbal, 2019).
Apa efek samping yang mungkin timbul akibat konsumsi Ketepeng Cina?
Efek samping umum meliputi kram perut, diare, mual, dan dehidrasi. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan laksatif, gangguan elektrolit, serta kerusakan sel hati. Reaksi alergi seperti ruam kulit jarang terjadi (Kementerian Kesehatan RI, 2020; Pharmacognosy Review, 2017).
Bagaimana penggunaan Ketepeng Cina sebagai obat luar untuk mengatasi infeksi jamur kulit?
Daun segar dihaluskan lalu dioleskan pada area kulit yang terinfeksi jamur (misalnya panu, kurap) sebanyak 2–3 kali sehari. Senyawa antrakuinon dan flavonoidnya bersifat antijamur terhadap Candida dan Dermatofit. Lakukan uji tempel terlebih dahulu untuk menghindari iritasi (Sukmawati, 2021; Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 2019).
Apakah ada interaksi obat yang perlu diwaspadai saat menggunakan Ketepeng Cina?
Ya. Penggunaan bersamaan dengan diuretik dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan hipokalemia. Interaksi dengan obat jantung (digitalis) karena gangguan kalium juga perlu diwaspadai. Hindari penggunaan bersama laksatif lain. Selalu konsultasikan dengan apoteker atau dokter sebelum menggunakannya (Drugs.com, 2020; Herb-Drug Interaction Handbook, 2018).
Berapa dosis aman harian untuk konsumsi Ketepeng Cina dan berapa lama boleh digunakan?
Dosis oral dewasa umumnya 1–2 gram daun kering per hari, setara dengan 15–30 mg sennosida. Penggunaan tidak boleh lebih dari 7–10 hari berturut-turut tanpa pengawasan medis. Konsumsi jangka panjang dapat menyebabkan pencahar kronis dan kerusakan fungsi usus (European Medicines Agency, 2017; Monograf Obat Herbal Indonesia, 2020).

Suruhan / Daun Sirih Cina

Peperomia pellucida

Cashew Leaf / Daun Jambu Mete

Anacardium occidentale