Saffron

Saffron | Crocus sativus
Saffron
Nama
Saffron (Saffron)
Nama Latin/Ilmiah
Crocus sativus
Bagian Digunakan
Kepala Putik
Rasa
Pahit, manis

Nama Lain
Kesar (India), Za'faran (Iran), Azafrán (Spain), Safran (France), Zafferano (Italy)
Asal
Iran, Yunani, dan Turki
Kandungan Utama
Crocin, picrocrocin, safranal

Highlights:

Advertisement


I. Tentang Saffron

Crocus sativus, yang dikenal luas sebagai tanaman saffron, adalah spesies bunga abadi yang berasal dari famili Iridaceae. Tanaman ini dipercaya berasal dari wilayah Asia Kecil dan kini dibudidayakan secara luas di Iran, India, Yunani, dan Spanyol. Keunikan utamanya terletak pada tiga kepala putik (stigma) berwarna merah oranye yang muncul dari setiap bunga. Setiap bunga saffron hanya menghasilkan tiga stigma yang sangat halus, dan dari sinilah rempah termahal di dunia dihasilkan. Tanaman ini tumbuh dari umbi (corm) yang harus melewati masa dormansi musim panas sebelum berbunga di musim gugur.

Baca Lebih Lanjut
Update: 10 Agu 2026 - 02:41:45
 

II. Ciri-ciri Saffron

Saffron suka banget sama iklim yang mirip wilayah Mediterania, yaitu musim panas yang kering dan musim dingin yang sejuk. Mereka paling oke tumbuh di lahan terbuka dengan sinar matahari penuh dan tanah yang punya drainase bagus biar akarnya nggak gampang busuk. Karakteristik/ciri-ciri Saffron (Crocus sativus):

Bagian Ciri-Ciri
Umbi Tumbuh dari corm atau umbi lapis yang bentuknya bulat agak gepeng, ukurannya kira-kira sebesar bola golf.
Daun Daunnya berbentuk panjang, ramping, dan kaku seperti rumput. Warnanya hijau tua dengan garis putih di bagian tengahnya.
Bunga Bunganya cantik banget, warnanya ungu terang dengan enam kelopak. Bunga ini cuma muncul di musim gugur.
Putik Bagian paling berharga! Ada tiga helai kepala putik (stigma) berwarna merah cerah atau jingga tua yang menjuntai keluar dari pusat bunga.
Tinggi Tanaman Relatif pendek, biasanya cuma sekitar 10 sampai 30 sentimeter saja.

III. Manfaat Saffron

8 Manfaat Saffron untuk kesehatan.

  1. Depresi Ringan hingga Sedang

    Ekstrak saffron dan senyawa aktifnya (crocin, safranal) menghambat reuptake serotonin, norepinefrin, dan dopamin di sinaps; meningkatkan kadar monoamina; memodulasi sumbu HPA (hipotalamus-hipofisis-adrenal); serta menekan peradangan saraf melalui aktivasi jalur antioksidan Nrf2 dan penurunan sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6).

    Senyawa Aktif: Crocin, Safranal, Crocetin
    Tampilkan
  2. Osteoarthritis (Nyeri Sendi dan Peradangan)

    Crocin dan crocetin menghambat jalur NF-κB dan COX-2 sehingga menurunkan produksi prostaglandin dan leukotrien; menghambat aktivasi makrofag M1 dan menekan sitokin inflamasi (IL-1β, TNF-α); meningkatkan aktivitas SOD dan glutation peroksidase.

    Senyawa Aktif: Crocin, Crocetin, Safranal
    Tampilkan
  3. Antioksidan Sistemik dan Perlindungan Oksidatif

    Crocin, crocetin, dan safranal memiliki kapasitas radikal bebas (DPPH, ABTS) yang kuat; menginduksi ekspresi enzim antioksidan endogen (SOD, CAT, GPx, Nrf2); mengkelat logam transisi; serta melindungi membran sel dari peroksidasi lipid.

    Senyawa Aktif: Crocin, Safranal, Crocetin
    Tampilkan
Tampilkan Semua Manfaat (+5)

Advertisement


IV. Kandungan Saffron

8 Kandungan Fitokimia (Active Compounds) Saffron.

  1. Crocin

    Golongan: Karotenoid glikosida
    Bagian Tanaman: Stigma (putik)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antidepresan (studi Klinis Terbatas), Antikanker (in Vitro Dan Hewan). Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia Untuk Antikanker..
    Tampilkan
  2. Safranal

    Golongan: Monoterpen aldehid
    Bagian Tanaman: Stigma (putik)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antikonvulsan, Sedatif, Antidepresan (studi Hewan Dan In Vitro). Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia..
    Tampilkan
  3. Picrocrocin

    Golongan: Glikosida terpenoid
    Bagian Tanaman: Stigma (putik)
    Aktivitas Farmakologis:
    Antioksidan, Antimikroba, Antiinflamasi (studi In Vitro). Belum Ada Uji Klinis Pada Manusia..
    Tampilkan
Tampilkan Semua Kandungan (+5)

V. Interaksi & Kontraindikasi Saffron

Interaksi & Kontraindikasi Saffron dengan obat, makanan, atau minuman lain, juga dengan kondisi tertentu.

  1. Kehamilan (terutama trimester pertama)

    Tingkat Resiko: Tinggi
    Rekomendasi:
    Hindari penggunaan saffron dosis tinggi karena dapat merangsang kontraksi uterus dan meningkatkan risiko keguguran. Dosis kuliner (misal dalam masakan) dianggap aman, tetapi konsultasi dokter tetap dianjurkan.

  2. Menyusui

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Data keamanan pada ibu menyusui terbatas. Sebaiknya hindari dosis suplemen tinggi dan batasi penggunaan sebagai bumbu dalam jumlah wajar. Konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum digunakan.

  3. Penggunaan pada penderita Gangguan bipolar atau riwayat mania

    Tingkat Resiko: Sedang
    Rekomendasi:
    Saffron dilaporkan dapat memicu episode mania pada individu dengan gangguan bipolar. Hindari konsumsi suplemen saffron dosis tinggi. Jika diperlukan, pantau kondisi mood secara ketat.

Tampilkan Semua Kontraindikasi (+8)

VI. Efek Samping Saffron

Saffron (Crocus sativus) umumnya aman bila dikonsumsi dalam jumlah kuliner, namun penggunaan dosis tinggi atau suplemen jangka panjang dapat menimbulkan berbagai efek samping sistemik. Efek samping ringan yang sering dilaporkan meliputi mulut kering, rasa cemas, pusing, mual, perubahan nafsu makan, dan sakit kepala. Pada individu tertentu, konsumsi saffron juga dapat memicu reaksi alergi, seperti ruam kulit, gatal-gatal, atau gejala pernapasan bagi mereka yang sensitif terhadap tanaman dari keluarga Iridaceae.

Baca Semua Efek Samping

VII. Studi Klinis & Meta-Analisis Saffron

Ringkasan Studi Klinis dan Meta-Analisis dari Saffron.

  1. Efek Suplementasi Saffron (Crocus sativus) terhadap Depresi dan Kecemasan pada Orang Dewasa: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis

    Tahun: 2020
    Temuan:
    Suplementasi saffron secara signifikan menurunkan skor depresi dan kecemasan dibandingkan plasebo. Ukuran efek tergolong sedang hingga besar dengan tolerabilitas yang baik.
    Tampilkan
  2. Efek Saffron terhadap Kualitas Tidur: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis

    Tahun: 2021
    Temuan:
    Konsumsi saffron memperbaiki kualitas tidur yang dinilai dengan Pittsburgh Sleep Quality Index. Saffron juga meningkatkan durasi tidur dan mengurangi gangguan tidur dibandingkan plasebo.
    Tampilkan
  3. Saffron untuk Sindrom Pramenstruasi: Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis

    Tahun: 2021
    Temuan:
    Saffron secara signifikan mengurangi gejala somatik dan psikologis sindrom pramenstruasi. Frekuensi dan intensitas gejala menurun setelah pemberian minimal dua siklus menstruasi.
    Tampilkan

VIII. FAQ Saffron

Pertanyaan yang sering ditanyakan tentang Saffron.

Apa saja manfaat kesehatan utama dari saffron yang didukung bukti ilmiah?
Saffron memiliki sifat antioksidan, antidepresan, dan neuroprotektif. Studi menunjukkan efektivitasnya dalam mengurangi gejala depresi ringan hingga sedang (setara dengan fluoxetine) (Akhondzadeh et al., 2005), meningkatkan memori pada penyakit Alzheimer (Hosseinzadeh & Ziaee, 2008), serta membantu penglihatan pada degenerasi makula (Broadhead et al., 2016). Ekstrak safranal dan crocin berperan sebagai antiinflamasi dan antikanker dalam studi in vitro (Razavi & Hosseinzadeh, 2017).
Berapa dosis aman konsumsi harian saffron untuk orang dewasa?
Dosis aman untuk penggunaan sehari-hari adalah 30–50 mg (kira-kira 1–2 helai) saffron kering. Studi klinis umumnya menggunakan dosis 30 mg/hari untuk efek antidepresan (Modaghegh et al., 2008). Dosis di atas 200 mg dapat menyebabkan efek toksik ringan, dan > 5 gram bisa berakibat fatal (Bostan et al., 2015). Disarankan untuk tidak melebihi 1,5 gram per hari tanpa pengawasan medis.
Apakah saffron aman dikonsumsi oleh ibu hamil?
Saffron dalam jumlah kecil sebagai bumbu (seperti dalam masakan) dianggap aman. Namun, dosis tinggi (di atas 5 gram) bersifat uterotonik dan dapat merangsang kontraksi rahim, sehingga berisiko menyebabkan keguguran (Bostan et al., 2015). Ibu hamil disarankan menghindari suplemen saffron dosis tinggi dan berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsinya secara teratur.
Bolehkah saffron diberikan kepada bayi atau anak-anak?
Tidak ada cukup bukti keamanan penggunaan saffron pada bayi dan anak-anak. Beberapa studi pada hewan menunjukkan potensi neuroprotektif, tetapi data klinis pada populasi pediatrik sangat terbatas (Javadi et al., 2017). Secara umum, disarankan untuk menghindari pemberian saffron dalam bentuk suplemen atau dosis besar pada anak di bawah 12 tahun. Penggunaan sebagai bumbu dalam jumlah kecil (misalnya sejumput dalam makanan) jarang menimbulkan masalah, tetapi tetap perlu kehati-hatian.
Apa efek samping yang mungkin timbul akibat konsumsi saffron?
Pada dosis kecil (30–50 mg/hari), efek samping jarang terjadi dan ringan, seperti mulut kering, pusing ringan, dan mengantuk. Dosis sedang hingga tinggi (200–500 mg) dapat menyebabkan mual, muntah, diare, dan perdarahan hidung. Dosis toksik (> 5 gram) menyebabkan kehilangan kesadaran, pendarahan internal, bahkan kematian akibat efek hemoragik dan paralitik (Razavi et al., 2016). Pastikan untuk tidak melebihi dosis yang dianjurkan.
Apakah saffron berinteraksi dengan obat-obatan tertentu?
Saffron dapat berinteraksi dengan obat antikoagulan (seperti warfarin) karena efek antiplateletnya, sehingga meningkatkan risiko perdarahan (Nair et al., 2012). Juga dapat mempotensiasi efek antihipertensi dan antidepresan (terutama inhibitor reuptake serotonin) karena efek serotonergiknya. Pasien yang mengonsumsi obat-obatan tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan suplemen saffron.
Bagaimana cara terbaik mengonsumsi saffron untuk mendapatkan manfaat kesehatan?
Cara paling umum adalah merendam 2–3 helai saffron dalam air hangat (sekitar 80°C) selama 5–10 menit, lalu minum air rendamannya. Saffron juga dapat ditambahkan ke dalam masakan seperti nasi, sup, atau susu hangat. Hindari merebus saffron langsung karena suhu tinggi dapat merusak senyawa aktifnya (Bolhasani et al., 2014). Konsumsi secara teratur dalam dosis rendah lebih efektif daripada dosis tinggi sesekali.
Apakah saffron efektif untuk mengatasi gangguan menstruasi?
Beberapa studi klinis menunjukkan bahwa saffron dapat membantu mengurangi nyeri haid (dismenore) dan memperbaiki ketidakteraturan siklus menstruasi. Dalam penelitian pada wanita dengan sindrom pramenstruasi (PMS), konsumsi 30 mg saffron per hari selama dua siklus menurunkan gejala fisik dan psikologis (Bustan et al., 2017). Efek ini dikaitkan dengan aktivitas antispasmodik dan antiinflamasi dari crocin dan safranal.

Vanili

Vanilla planifolia

Merica Jamaika

Pimenta dioica

Cari: